
H-3 setelah Aina di nyatakan koma oleh sang dokter, pagi-pagi buta dia bangun dan langsung membuat keributan setengah rumah sakit dengan kondisinya.
Alva yang pagi itu hendak pergi sekolah bahkan di buat panik dan langsung datang ke rumah sakit beberapa saat ketika suster penjaga Aina meneleponnya.
Bahkan sekarang dia sudah datang bersama dengan Izra, yang notabenya sedang ada berada di rumah dengannya.
Sementara sang Ayah masih menjaga Keisha yang masih membutuhkan pengobatan pasca melahirkan kemarin.
"Gue tahu lo bohong sama gue tentang Mama, Bang." Izra memandang Alva dengan tatapan serius. "Kalau sampai ada apa-apa sama Mama, gue bakal salahkan lo basipun lo gak ada sangkut pautnya sama ini semua."
Alva yang mendengar penuturan itu hanya diam dan menerima amarah adik lelakinya dengan lapang dada.
Toh, memang salahnya juga karena sudah tidak memberi tahu Izra tentang kondisi Mama mereka dan memilih untuk membohonginya jika Mama sedang pergi dinas.
Lagi pula, Aina juga pasti akan melakukan hal yang sama dengan Alva jika ini informasi yang akan mengusik ketenangan belajar Izra di masa mendekati ujian seperti ini.
Klek ....
Sampai di sebuah ruangan, Alva langsung memimpin masuk ke dalam ruangan tersebut dan memandang Aina yang duduk di atas ranjang dengan beberapa dokter yang melihat sang Ibunda makan dengan kedua tangannya sendiri.
"Ma, Mama gak papa?" tanya Alva, berjalan mendekati wanita berusia 30 tahunan itu, dengan langkah panik.
Di sisi lain Alva tak menghiraukan pandangan beberapa dokter yang jatuh padanya dengan cara yang ukup tak menyenangkan.
Sementara Izra yang juga mendapatkan tatapan sedemikian rupa, langsung menatap mereka dengan tak kalah angkuhnya.
Lantas balasan itu malah membuat Dokter Aldi menyadari pandangan tak sopan beberapa seniornya yang sangat tidak sopan dalam memperlakukan Izra.
Padahal jika semua senior tahu tentang status Izra di dalam rumah sakit, mungkin mereka sudah mencium kakinya sekarang.
"Maafkan tindakan tak sopan ini, Tuan Muda. Saya akan membawa mereka keluar sekarang. Selamat menikmati waktu," ucap Dokter Aldi, menundukkan kepalanya hormat dan meminta seniornya ikut keluar dengannya.
Izra hanya membiarkan semua orang itu keluar sebelum fokus pada Mama dan Kakak lelakinya di depan sana.
"Ma, kenapa tidak bilang kepada kami kalau kondisi Mama memburuk beberapa hari terakhir? Apa Mama pikir lagi-lagi kita tidak akan memedulikan Mama karena ada Bunda Keisha di rumah?" tanya Izra, to the point.
Alva membulatkan kedua bola matanya sempurna dan memandang Aina dengan tatapan terkejut.
"Ma, apa yang dikatakan oleh Izra itu benar? Mama khawatir mengganggu ketenangan rumah karena ada Bunda Keisha? Makanya Mama tidak memberitahu kami kalau seharusnya Mama harus menjalani operasi?!"
Alva mengepalkan kedua tangannya geram dan menatap sang ibu dengan tatapan marah. "Apa Mama mau meninggalkan kita seperti Nuri?!"
Mendengar nama anak perempuannya disebut, Aina langsung membulatkan matanya terkejut melihat ke arah Alva. Begitu pula dengan Izra yang memandang Kakak lelakinya dengan tatapan tidak menyangka.
Gyut!
Izra mencubit punggung Alva dan membuat lelaki itu kesakitan sampai berteriak dan memelototkan matanya kepada Izra yang sudah berani-berani mencubitnya.
"Kamu kira apa yang kamu lakukan barusan?! Sakit tahu?!!" Alva mengeluh sambil mengusap punggungnya yang sakit beberapa saat, sambil terus melemparkan tatapan tajam pada sang adik lelaki.
Tapi tatapan marah dari Isra membuat Alva tersadar dari kesalahan yang tidak sengaja dia buat.
"Ma-maaf, Ma. Alva tidak sengaja. Alva enggak punya maksud-"
"Mama baik-baik saja Alva. Tidak perlu merasa khawatir. Mama baik-baik saja, Nak," sambar Aina, sambil menepuk punggung Alva untuk menenangkan lelaki tersebut.
Izra yang melihat situasi di hadapannya hanya menghela napasnya kasar dan memilih mengambil segelas air putih untuk sang Kakak, yang tampak pucat setelah menyadari kesalahan fatal yang telah dia perbuat.
"Minum dulu," ucap Izra, menyodorkan gelas tersebut kepada Alva dan membuat lelaki berusia 1 tahun lebih tua darinya itu meraih gelas tersebut dan menegak airnya sampai habis.
"Thanks!" Alva mengembalikan gelas tersebut kepada Izra dan kembali memandang Aina dengan tatapan bersalah.
"Maaf, Ma. Alva benar-benar enggak bermaksud buat mungkin masa lalu-"
"Alva, Mama kan udah bilang kalau Mama enggak papa. Sudah enggak perlu dibahas lagi, Nak. Nanti mama malah sakit hati kalau kamu terus-terusan minta maaf," ucap Aina, dengan suara lembut dan pandangan yang begitu teduh sampai membuat Alva ingin menangis.
Kata maaf tidak lagi keluar dari mulutnya. Tapi kini dia tidak bisa mengatakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Bunda Keisha dan Ayahnya, karena kedua orang itu tampaknya sedang dicari oleh sang Ibunda.
"Mana Bunda, Nak?" tanya Aina, menatap Izra yang dari tadi sibuk memainkan ponselnya di salah satu sofa single yang ada di dekat pintu.
"Bunda?" tanya balik Izra, sambil sekilas memandang ke Alva. "Bunda sedang melahirkan di rumah sakit."
Deg!
Alva dan Aina langsung membulatkan matanya dengan sempurna. Walaupun perasaan keduanya bertolak belakang.
Alva dengan rasa kesal dan jengkel karena Izra lebih memilih untuk mengatakan hal yang sebenarnya kepada Aina, di saat kondisi Aina tidak stabil seperti ini.
Sementara Aina terkejut karena mendengar Keisha yang melahirkan di usia yang prematur.
"Kok bisa? Bagaimana itu bisa terjadi?! Kalau Mama perhatikan juga, kamu kenapa penuh luka-luka seperti itu? Kamu habis kecelakaan?" tanya Aina, baru saja menyadari tentang luka di badan Izra yang ditutupi oleh perban putih ataupun Hansaplast.
Iza menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sambil menunjukkan ekspresi canggung.
"Emm ... sebenarnya Bunda Keisha masuk ke rumah sakit bertepatan dengan mama yang di rawat. Kayaknya sih, soalnya Abang juga enggak ngomong apa-apa sama aku atau Ayah."
Mendengar itu Aina langsung memandang Alfa dengan tatapan tajam dan menusuk. "Jadi Ayah kamu enggak tahu kalau Mama di rumah sakit? Kamu masih belum bilang sama Ayah?!" tanyanya, dengan intonasi yang kurang bersahabat.
Alva yang sebelumnya merasa keputusan yang sudah benar, ketika melihat respons Aina yang begitu mengejutkan langsung terdiam dengan kepala menunduk dalam.
Hanya kata maaf yang kini bisa dia katakan dengan lancar. Dan semua penyesalan pun kembali terlihat jelas di wajahnya.
Izra menggeleng-gelengkan kepalanya ampun dan menatap lirikan tajam yang di lemparkan oleh Abangnya dengan tatapan menyepelekan.
Izra memang bukan orang yang lebih memilih kebohongan yang manis daripada kenyataan yang pahit. Pendapat mereka tentu saja berbeda! Jadi wajar kalau sekarang situasi kedua saudara lelaki itu sedikit canggung setelah Izra mengutarakan yang sebenarnya kepada sang Mama.
Dengan kepala yang terasa sedikit pening, Aina memandang Izra dan memintanya untuk mengabari Fauzan tentang keadaannya di rumah sakit dan menanyakan keadaan Keisha juga di sana.
Izra yang mendapatkan tugas penting itu segera pergi meninggalkan ruangan alih-alih untuk segera menunaikannya, dia hanya senang karena memiliki alasan untuk segera pergi dari sana dan menghindari Alva.
"Huff ... selamat nyawa gue," batin Izra, dipenuhi rasa syukur saat dirinya mulai berjalan keluar dari ruangan Aina.