
"Bunda, Alva langsung balik ya?" ucap Alva, sambil menerima helm yang di berikan oleh Keisha padanya.
Keisha menatap Alva, dan tak menjawab pamitan dari anak remaja berusia 17 tahun itu.
Alva menaikkan sebelah alisnya, menatap Keisha dengan sorot bertanya-tanya.
"Kenapa Bunda? Bunda mau beli makan dulu? Kayaknya tadi Bunda belum sempat makan gara-gara di rumah ribut," celetuknya, menawarkan.
Keisha menggelengkan kepalanya, menatap Alva dengan tatapan yang masih sama. "Boleh tanya?" tanyanya, menatap serius.
Alva mengangguk, mematikan kembali mesin motornya dan menatap Keisha dengan benar. "Boleh. Mau tanya apa, Bun?"
"Kenapa kamu jadi baik?" tanya Keisha, bingung.
"Kenapa?" Alva berpikir sejenak, menatap wajah Keisha yang tampak serius saat bertanya hal itu padanya. "Hem ... karena udah gak benci aja," celetuknya, ringan.
Keisha menyuramkan kedua alisnya dalam, membuat Alva memandangnya bingung.
"Kenapa? Kenapa sudah tidak marah? Alasannya apa?" seru Keisha, penuh penekanan.
Keisha tampak frustrasi karena semua orang bersikap baik dan menerima dirinya dengan baik. Padahal itu hal yang bagus, tapi dia malah semakin bingung karena niatnya adalah menghancurkan keluarga bahagia Fauzan! Tapi kenapa jadi begini?
"Karena Mama sudah mengizinkan Bunda masuk ke dalam keluarga kita." Alva menghela napas, menatap Keisha yang tampak kalut dalam kebingungannya. "Bunda mungkin gak ingat, tapi Alva pernah bilang, kan? Kalau Alva marah karena Bunda sakiti Mama?"
Alva mengulas senyuman tipis. "Tapi sekarang Mama sudah gak sakit lagi, gak nangis dan terima Bunda dalam keluarga. Jadi gak ada alasan Alva untuk marah sama Bunda. Malah, Alva sekarang senang karena sebentar lagi Alva dapat adik baru. Nuri juga jadi temannya, kan?" ucapnya, panjang.
Keisha mengerutkan keningnya samar. Air matanya mulai keluar membasahi pelupuk matanya, membuat Alva panik saat melihatnya.
"Karena Bunda baik. Karena Bunda gak akan ada di sini selamanya. Aku, Nuri dan Ayah sangat menyayangi Bunda sampai tidak ingin menyia-yiakan waktu hanya untuk marahan. Kami gak mau bertengkar dengan Bunda," jelas Alva, dengan suara parau.
Keisha mengerutkan keningnya dalam, menatap Alva yang memandangnya dengan tatapan sedih.
"Bunda gak usah sedih. Kami sudah terima kalian berdua apa adanya. Kami gak akan musuhi Bunda. Tapi tolong, beri Ayah waktu untuk bisa terima Bunda dari hati, ya? Bunda tahu, kan? Walaupun Ayah menerima Bunda sebagai istri, tapi belum tentu hatinya bisa di bagi dua," jelas Alva, dengan sabar.
Keisha menganggukkan kepalanya mengerti, mengusap air matanya kasar dan menatap Alva dengan lembut.
"Terima kasih. Aku akan menyesuaikan diri." Keisha menundukkan kepalanya dalam dan kembali menangis. "Dan maaf, karena sudah membuat kalian bertengkar beberapa waktu. Aku sungguh minta maaf," ucapnya, lirih.
Alva menganggukkan kepalanya pelan, menatap Keisha dengan tatapan lembut dan beranjak memeluknya.
"Alva juga lagi belajar buat benar-benar terima Bunda. Kita sama-sama belajar ya, Bun."
Keisha mengangguk dan menatap Alva dengan senyuman tipis. "Pulanglah. Sudah malam, hati-hati di jalan. Terima kasih sudah mengantarku," ucapnya, menepuk-nepuk pundak Alva.
Alva mengangguk dan menjauh dari Keisha, naik kembali ke atas motornya dan segera pergi meninggalkan pekarangan apartemen Keisha.
Keisha menghela napas panjang dan membalik tubuhnya, hendak masuk ke gedung apartemennya. Tapi tiba-tiba seorang lelaki berdiri di depannya dengan tatapan lurus.
"Apa yang Anda lakukan di tempat ini?" tanya Keisha, menatap lelaki itu dengan sorot tajam.
"Kenapa lagi? Tentu saja pertemu denganmu, Keisha!"