
"Gantikan aku untuk pekerjaan siang ini. Aku ada acara di luar." Mirza mengemas beberapa barang bawaannya dengan cepat. Memasukkan semuanya ke dalam tas kerjanya.
Sekretaris cantik yang baru berusia di akhir 23 tahun itu hanya melihat Bos-nya sering keluar akhir-akhir ini dengan perasaan gelisah.
Bukan karena dirinya cemburu atau apalah yang menyangkut perasaan pribadi terhadap Mirza. Melainkan hanya murni kekhawatiran semata.
"Tuan," panggil Leni, dengan suara mencicit layaknya anak tikus.
Mirza yang sibuk, tak menghentikan kedua tangannya beraktivitas. Namun kepalanya sempat menoleh pada Leni. "Apa?"
"Maaf kalau saya lancang. Tapi Anda tak akan pergi terlalu sering menemui istri rekan bisnis perusahaan Anda, kan?"
Deg ....
Mirza terdiam. Dia mendongak seraya tatapan tajam dengan kekuatan membunuh itu tampak nyata. Andai saja bola mata itu tak merekat dengan baik di kelopak matanya, mungkin kedua bola mata Mirza sudah melompat keluar karena saking geramnya mendengar nasehat itu.
"Kamu kira aku akan melakukan apa?" Mirza menatap Leni dengan ganas. "Kamu pikir aku orang seperti itu?"
Leni menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak pak. Tapi kadang kalanya cinta bisa membutakan segalanya." Leni menundukkan kepalanya sejenak. Menunjukkan kekhawatiran
nyata yang sedang dia rasakan saat ini. "Sebagai bawahan Anda, saya hanya tak ingin Anda kembali dalam keadaan 'itu'."
Amarah Mirza teredam. Dia yang telah berprasangka buruk terhadap Leni. Kini mulai luluh dengan suara lembut ketika wanita itu menunjukkan kekhawatirannya dengan tulus.
"Aku tahu batas."
Leni mendongakkan sedikit kepalanya. Mengintip bagaimana ekspresi wajah Mirza saat ini.
"Karena sudah pernah sakit satu ali. Aku tak akan mengulangi kesalahan yang sama untuk masalah ini, Len. Aku tahu khawatir kepadaku. Iu tulus. Murni sebagai teman. Aku tahu. Karena itulah, aku akan menjaga perasaanku dengan membatasinya."
Mirza membalik tubuhnya. Membelakangi Leni yang telah memandangnya seutuhnya. "Tapi aku juga tak ingin kehilangan kesempatan melihat perasan ini tumbuh sebelum wanita itu pergi."
Mirza membuang napas lembut. Mengulum senyuman sendu dan membalik tubuhnya, kembali memandang sekretaris sekaligus temannya dengan tatapan lembut.
"Jadi tolong biarkan aku menikmatinya selagi ada kesempatan. Nanti setelah dia mengusir semua orang dari hadapannya. Aku juga akan melakukan apa yang di inginkannya, seperti yang di lakukan orang lain juga. Karena wanita itu tak akan bisa aku lihat dalam waktu yang lama."
"Saat kamu mengerti dari siapa pun batas waktu yang dapat kamu habiskan dengan seseorang yang kamu dambakan. Walau pun harus menyeberang neraka terlebih dahulu, aku yakin kamu tetap akan melakukan hal gila itu hanya untuk melihat wajahnya sekali lagi."
Mirza tersenyum masam. "Seandainya bisa di perumpamakan dengan gila. Seandainya kamu tak lagi bisa menjadi lebah untuk bertemu bungamu, mungkin aku sedikit berharap bisa menjadi angin yang menggiring kelopak keringnya ke tempat peristirahatan terakhir."
Leni hanya diam. Walau pun dia tak mengerti apa maksud perkataan Mirza dengan lebah, bunga dan angin. Tapi dia bisa menarik garis melalui semua perkataan itu.
Jika Bos-nya sedang sangat mencintai seorang wanita, sampai nyaris kehilangan otak dan akal sehatnya.
"Kalau begitu saya akan keluar sekarang, Tuan." Leni menundukkan kepalanya hormat dan berjalan keluar dari kantor Mirza dengan tenang.
Sementara Mirza hanya mengangguk dan membiarkannya pergi. Walau tak lama setelah kepergian Leni, dia pun keluar kantor dan bertemu Leni lagi di ruang sekretarisnya.
"Semangat untuk kerja keras kalian semua." Mirza mengucapkan hal itu sambil berlalu pergi.
***
Mirza datang kembali dengan membawa sebuah buket bunga indah dan beberapa makanan lezat yang sekiranya akan di sukai Aina.
Baru ingin mengetuk pintu kamar tempat Aina berada, dia bisa melihat Fauzan dan Aina sedang bertengkar di dalam sana.
Wajah mereka tampak tak baik. Itulah mengapa Mirza mengurungkan niatnya dan memilih untuk duduk di depan ruangan tersebut. Duduk di bangku panjang dan menunggu semuanya menjadi tenang.
Mungkin ada 30 menit dia terus menunggu. Bahkan para perawat yang melihatnya sampai merasa kasihan karena Mirza terlihat begitu melas.
"Om Mirza, kenapa di sini?" tanya Izra, berjalan mendekati lelaki itu dengan Kakaknya, Alfa.
"Selamat sore," sapa Mirza, pada kedua anak Fauzan dan Aina ini.
Izra dan Alfa membalas dengan ramah. Mereka yang tadinya ingin masuk ke dalam untuk meletakkan pakaian Ibunya, kini harus duduk di samping Mirza dengan tenang. Menunggu hal yang sama.
"Sejak kapan mereka bertengkar?" tanya Alfa, terlihat begitu tenang. Padahal di dalam sana banyak pikiran yang mulai membuatnya gelisah.
Kedua orang tua yang tak pernah bertengkar hebat. Kini melakukannya saat keadaan keluarga mereka dalam situasi kacau.
"Kalau Mama kalian bercerai dengan Ayah kalian. Kamu akan setuju?" tanya Mirza, tiba-tiba membuat kedua anak lelaki itu memandangnya.
"Om bicara apa?" tanya Izra, datar.
Mirza tersenyum masam. "Aku hanya mengatakan apa yang terjadi di dalam sana." Mirza sedikit menundukkan kepalanya dan tersenyum masam. "Tapi sepertinya kedua orang tua kalian sedang membahas perceraian."
Keduanya kembali terdiam. Mereka tak menyangka ini akan terjadi juga. Walau pun sebenarnya mereka sudah mendapatkan firasat.
"Kalau memang begitu, aku akan memilih hidup mandiri." Izra memutuskan dengan cepat dan tangkas. Seakan-akan tekadnya telah bulat dengan pilihan itu. "Mama sedang tak sehat. Dan Ayah, dia pasti bahagia dengan keluarga barunya. Bunda baru saja melahirkan bayi yang lucu. Aku tak mau mengganggu mereka," jelasnya.
Mirza mengulas senyuman masam. Dia tahu jika kedua anak Fauzan dan Aina adalah orang hebat. Mereka bisa hidup mandiri dengan baik, walau nanti orang tuanya akan tetap mengkhawatirkan keduanya.
"Jangan gegabah." Alfa menyela. Dia menatap Izra dengan tatapan tegas. "Keputusanmu egois. Hak asuh kita biar di bagi rata saja."
Izra mengerutkan kening. Tanda tak setuju. "Aku bukan anak mereka berdua. Berbeda dengan kamu yang masih memiliki darah daging Ayah."
Alfa mendengus kasar. Memalingkan wajahnya dan menatap kosong ke arah depan. "Walau pun memiliki darah dan dagingnya, aku masih merasa Mama lebih menyayangiku dari pada Ayah. Kasih sayang tak bisa kamu ukur dari aku anak siapa di sini."
Alfa menatap kembali pada Izra yang keras kepala. "Biarkan mereka memutuskan yang terbaik untuk kita. Jangan lupa kalau Mama sedang dalam keadaan tak baik. Kamu ingin membuatnya cemas dengan tinggal sendirian?"
Izra menggelengkan kepalanya antusias. "Tidak! Aku ingin dia lekas pulih."
"Kalau begitu jangan membuatnya khawatir!" sambar Alfa, dia akhiri dengan helaan napas kasar.
Mirza yang dari tadi mendengar dan memperhatikan keduanya. Hanya tertawa kecil. Menertawakan dua anak yang terlalu dewasa di usianya yang muda.
"Lucu sekali. Anak kecil tak ingin menyakiti orang dewasa. Sementara yang dewasa sedang otw mengukir luka di masa depan mereka." Mirza bergumam dalam hati sambil menggelengkan kepalanya ampun. "Dasar anak-anak."