
"Keisha, sampai kapan kamu akan tidur?" tanya seorang wanita berjilbab, menyibak selimut Keisha dan membuat wanita 27 tahun itu mengerang kesal.
"Apaan sih, Mbak Vina. Aku baru tidur jam 12.00 malam karena marathon film Korea! Sekarang aku masih mau tidur, jangan menggangguku!" omel Keisha, kembali menarik selimutnya dan membuat Aina menghilang napas lelah.
"Siapa yang kamu sebut Mbak Vina, Kei? Aku Aina, jadi cepat bangun dan bersiap karena kita harus pergi melihat gedung pernikahan kalian. Bukannya kemarin kamu minta pergi berdua saja dengan Fauzan?" pekik Aina, membuat kedua mata Keisha terbuka dengan lebar dan menatapnya terkejut.
"M-Mbak Keisha? Sejak kapan Mbak ada di sini? Kenapa tidak minta Mbak Vina untuk membangunkanku, hehe ...," celetuk Keisha, bangun dari tempat tidurnya dan berjalan pergi ke kamar mandi untuk bersiap.
"Tapi, apa memang benar kalau aku akan pergi melihat gedung berdua dengan Pak Fauzan?" tanya Keisha, berdiri di ambang pintu kamar mandi dan menatap Aina yang tampak serius dengan tatapan bertanya.
"Wajahku yang terlihat serius seperti ini masih kamu anggap sebagai candaan? Aku rasa kamu tahu, kalau aku sedang tidak berbohong! Lagi pula, sejak kapan aku memberikan harapan semu padamu, Kei? Tidak pernah bukan?" celetuk Aina, menyunggingkan senyuman miring sambil berjalan keluar dari kamar Keisha.
Keisha menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal dan melanjutkan aktivitasnya, yaitu membersihkan diri dan bersiap untuk pergi sesuai arahan Aina tadi.
Lalu, saat Keisha baru masuk ke dalam kamar mandi dan dia teringat tentang sesuatu yang sangat fatal! Dia pun terdiam seribu bahasa dengan kedua mata yang melebar, bulat sempurna.
"Tunggu, aku baru saja berbicara santai dengan Mbak Aina?" pekik Keisha, membekap mulutnya dengan kedua tangan, sambil menunjukkan ekspresi terkejut.
"Sudah begitu, Mbak Aina juga tidak menegurku? Apakah aku bisa semakin dekat dengannya??" batin Keisha, membayangkan banyak hal yang bisa dilakukan bersama dengan Aina ke depannya.
Entah kenapa dia merasa sangat bahagia, ketika dirinya bisa dekat dengan istri pertama Fauzan. Padahal seharusnya wanita itu menjadi rival mainnya dalam drama yang dibuat ini.
Tapi kenapa dia malah bahagia saat mereka berdua bisa akrab? Sungguh aneh, tapi ini kenyataannya.
Keisha menggelengkan kepalanya kuat. "Sudahlah, jangan terlalu memikirkannya dan segera bersiap! Jangan sampai mereka berdua menungguku terlalu lama dan membuat Pak Fauzan marah karenanya," batinnya, segera bergegas.
***
Beberapa saat kemudian, Keisha turun dengan pakaian rapi dan siap pergi bersama dengan Fauzan untuk melihat-lihat gedung pernikahan mereka.
Keisha mengenakan pakaian kasual yang sangat pas dan cocok untuk dirinya. Pakaian yang tidak terlalu terbuka agar Aina tidak menceramahinya, serta tidak terlalu tertutup agar dia merasa nyaman dan tidak kegerahan.
"Kamu sudah siap? Mau sarapan di rumah atau makan di luar sekalian kita berangkat nanti?" tanya Fauzan, menyambut kedatangan Keisha, dengan tatapan bersahabat.
Aina hanya diam di samping lelaki itu, sambil mengerjakan sesuatu yang membuat fokusnya tertuju pada layar laptop yang dia pangku.
"Sudah, Pak. Saya akan sarapan di rumah saja. Mungkin Mbak Vina sudah memasakan sarapan untuk saya. Mubazir jika dibuang-buang," jelas Keisha, berjalan pergi ke dapur diikuti oleh Fauzan.
Aina hanya melirik mereka berdua dengan tatapan tidak tertarik, dan kembali memfokuskan diri ke pekerjaannya.
"Mbak Aina mau minum?" seru Keisha, membuat wanita berjilbab itu menoleh ke arahnya dengan tatapan aneh.
"Alih-alih memperhatikan calon suamimu, yang jelas-jelas mengikuti kamu ke dapur! Kamu malah menawarkan aku minum?" sindir Aina, membuat Keisha merasa tegang.
"Mati aku. Harus aku jawab apa pertanyaan ini?" batin Keisha, merasa gundah.
Aina yang memperhatikan sorot mata dan kepanikan yang ditunjukkan Keisha karena perkataannya, hanya terkekeh geli dan membuat wanita berusia 27 tahun itu menatapnya dengan kesal.
"Mbak mempermainkan saya?" tanya Keisha, tampak jengkel dan kesal.
Aina hanya terus tertawa, menertawakan Keisha yang terus kesal karenanya.
Namun, walaupun seperti itu, Keisha tetap menuangkan segelas jus jeruk untuk Aina, dan memberikannya sebelum Keisha mulai mengambil piring dan menyiapkan sarapan untuk dirinya.
"Terima kasih, Kei," ucap Aina, mengambil gelas jus yang baru saja diletakkan di atas meja oleh Keisha.
Keisha terdiam menatap tangan kanan Aina yang di perban dengan baik sampai menutupi pergelangan tangannya.
"Mbak Aina terluka? Kapan dan di mana?" tanya Keisha, tampak khawatir sampai menunjukkan wajah pucat.
Aina yang melihat itu, langsung mengurutkan keningnya dalam dan merasa Keisha ini cukup aneh jika disebut sebagai plakor di dalam rumah tangganya.
Bukan hanya karena Keisha yang terlalu menurut dan perhatian padanya, melainkan ada juga beberapa faktor lain yang membuat Aina tidak bisa membenci Keisha, yang seakan akan menjadi sosok yang membuatnya tidak bisa berkutik.
"Kamu aneh, Keisha," celetuk Aina, membuat Keisha terdiam seribu bahasa.
"K-kenapa? Apa saya melakukan kesalahan?" tanya Keisha, langsung merasa tertekan.