Don'T Be The Antagonist

Don'T Be The Antagonist
Penipu



"Ada apa ini? Kenapa kamu terlihat murung, Keisha? Apakah ada yang terjadi?" tanya Fauzan, menatap lurus pada calon istri keduanya.


Keisha yang mendengar suara Fauzan langsung mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah lelaki itu.


Tampaknya Fauzan tengah mengkhawatirkannya, terlihat jelas dari surat mata dan kerutan sama ardi keningnya.


"Pak, tiga orang bodyguard saya baru saja merendahkan saya. Mereka membandingkan saya dengan Mbak Aina yang memiliki segalanya dan segudang prestasi, sementara saya hannyalah sekretaris rendahan yang menjilat atasannya untuk naik kelas sosial," seru Keisha, dengan ekspresi wajah sok memelas.


Ketiga orang bodyguard tersebut, langsung membulatkan makanya dengan sempurna, menatap Keisha dengan tatapan tidak percaya.


"Benar? Apakah kalian mengatakan hal jahat seperti itu kepada calon istriku?" tegas Fauzan, menatap tiga orang lelaki berpakaian jas hitam tersebut dengan tatapan merendahkan.


Glek ....


Ketiganya menatap ke arah Keisha yang terhalang punggung Fauzan dengan tatapan terkejut. Karena pasalnya, mereka melihat wanita itu tengah tersenyum dengan culas, seakan menertawakan mereka yang tengah mendapatkan masalah karenanya.


"Dasar wanita licik seperti rubah!" batin Kevin, menatap geram Keisha yang masih terus tersenyum dengan jahat.


"Aku sedang bertanya kepada kalian! Tapi kenapa kalian malah menatapnya dengan tatapan setajam itu? Apakah sikap itu membenarkan perkataan Keisha? Jika kalian telah merendahkannya?" tanya Fauzan, penuh penekanan.


Ketiga bodyguard tersebut langsung menundukkan kepalanya dalam. Meminta maaf kepada Fauzan dan Keisha apa sikap lancang mereka.


"maafkan kami, Tuan. Kami sungguh tidak bermaksud untuk merendahkan Nona Keisha, kami hanya mengatakan hal yang sesungguhnya," ucap Kevin, sambil melirik ke arah Keisha yang masih terus tersenyum dengan culas kepada mereka bertiga.


"Sebenarnya, beberapa hari yang lalu kami bertemu dengan Tuan Gary," celetuk Catra, membuat senyuman angkuh Keisha memudar dengan cepat dan digantikan dengan ekspresi wajah tegang.


Fauzan mengerutkan keningnya dalam. "Siapa Tuan Gary? Aku tidak pernah mendengarnya? Apakah dia mitra baru di perusahaan kalian?" tanyanya, tanpa kebingungan.


Catra melirik ke arah Keisha yang tampak resah dengan keringat dingin yang sudah bercucuran dari pelipisnya. Dia terlihat sangat tegang, sampai-sampai tidak berani meluapkan emosi yang sudah sampai di ubun-ubun itu.


"Tuan Gary adalah Paman Nona Keisha. Beberapa hari dia datang untuk meminta uang kepada Nona Keisha, dan Tuan Gary tahu jika Nona Keisha akan menikah dengan konglomerat terkaya nomor 2 di kota ini. Jadi dia datang untuk meminta kompensasi hidup yang layak," ucap Catra, menjelaskan secara detail tentang kejadian yang berusaha disembunyikan oleh Keisha dari Fauzan.


Fauzan menoleh ke arah Keisha dengan tatapan marah. "Kenapa kamu tidak mengatakan apa pun kepadaku? Lalu bagaimana seterusnya? Kalian akan mempertemukan aku dengannya?" tanyanya, tampak Geram.


"Maafkan kami, Tuan. Tapi pada pukul 03.00 sore nanti, Nyonya Aina yang akan bertemu secara langsung dengan Tuan Gary. Dan beliau melarang kami untuk memberitahu Tuan mengenai hal ini. Beliau ingin menyelesaikannya dengan cara yang damai, dan jika Anda ikut campur di dalamnya, itu tidak akan selesai dengan cara yang damai. Begitu kata Nyonya," ucap Kevin, bergantian dalam menjelaskannya.


"Jam 03.00 sore ini?" Fauzan menatap jam tangan yang ada di pergelangan tangannya dengan ekspresi resah. "Satu jam dari sekarang?"


Ketiga orang bodyguard itu menganggukkan kepalanya pelan. "Iya, Tuan!" jawab mereka, serempak.


Fauzan mengusap kasar rambutnya dan menatap Keisha dengan ekspresi marah.


Keisha yang mendengar itu langsung menyugar rambut depannya ke belakang, dan menatap Kevin, Catra dan Aren dengan tatapan benci.


"Kenapa kalian membuat masalah untukku? Padahal sebentar lagi aku akan segera menikah dengannya. Tapi kalian membuat masalah yang membuat hubunganku dan Pak Fauzan menjadi canggung?!" Keisha menatap marah pada mereka bertiga. "Dasar bawahan yang lancang! Aku akan mengadukan kalian pada Mbak Aina setelah semua masalah ini selesai dengan baik!" geramnya, memberi perhitungan pada ketiganya.


Tapi sepertinya tiga orang bodyguardnya itu, tidak takut dan terkesan tidak peduli dengan ancamannya. Karena mereka bertiga malah tersenyum dan menyepelekan amarah Keisha yang tampak nyata itu.


"Silakan lakukan apa yang Anda inginkan. Karena kami juga akan melakukan apa yang kamu inginkan. Anda bukan Tuan kami, jadi ancaman Anda kepada kami tidak akan mempan dan membuat kami takut. Itu malah terlihat sangat konyol karena wanita mungil seperti Anda memberi perhitungan ada tiga lelaki berbadan besar seperti kami!" Kevin menatap Keisha dengan tatapan merendahkan.


"Hemph, menjadi selingkuhan saja banyak lagak, apakah Anda tidak malu mengangkat kepala setinggi itu setelah menghancurkan hati seorang yang suci?!" timpal Catra, terlihat jelas jika dia membenci sosok Keisha yang berdiri di depannya.


"Cih, wanita murahan saja masih menjunjung harga diri. Apakah jika Anda dibayar satu juta, masa saya bisa menikmati tubuh Anda?" hardik Aren, membuat emosi Keisha semakin memuncak.


"Hentikan itu. Kamu sudah merendahkannya sampai sama rata dengan tanah, Aren. Sudah jangan diteruskan lagi! Nanti jika dia mengadu pada Nyonya, aku pastikan kita menerima tiga surat pengunduran diri!" celetuk Kevin, seakan tidak takut untuk dipecat asalkan dia sudah puas menginjak-injak harga diri Keisha yang masih dia pertahankan.


Setelah mengatakan hal yang menyakitkan itu, Aren dan kedua temannya beri jalan meninggalkan Keisha yang sudah berkaca-kaca dan ingin menangis karena diperlakukan seperti itu.


Keisha ditinggalkan sendirian begitu saja oleh mereka, ke 4 lelaki yang sempat datang bersamanya, dengan cara yang sangat tidak adil.


"Cik, sial! Akanku pastikan kalian mendapatkan pelajarannya. Terutama kalian bertiga, kacung sampah!" hardik Keisha, benar-benar marah.


Keisha mencengkeram kedua tangannya kuat-kuat dan membuat kuku-kukunya yang panjang menancap di tangannya dengan sempurna dan menghadirkan cairan merah yang menetes di permukaan tanah.


"Lihat saja nanti, akan ku buat perhitungan dengan kalian bertiga!" teriaknya, marah.


***


Aina tengah duduk santai di depan seorang lelaki yang berpenampilan ala kadarnya. Namun penampilan ini lebih condong ke penampilan preman pasaran, yang sering dilihat Aina di TV.


"Jadi nama Anda adalah Tuan Gary? Dan Anda adalah Paman Keisha, yang sudah merawat dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang dan cinta, layaknya seorang putri sendiri?" tanya Aina, menatap lelaki yang seperti seorang munafik ini, dengan tatapan ramah dan senyuman manis.


Gary pengangguran kepalanya sambil tersenyum dengan senang. Karena sebentar lagi dia akan mendapatkan banyak uang dari menjual keponakannya itu.


Begitu pikirnya, tapi siapa sangka yang duduk di depannya ini bukanlah lawan yang mudah. Walaupun Aina mengenakan jilbab dan bersikap lemah lembut serta anggun, tapi dia memiliki jiwa yang sangat tegas dan dapat membuat seorang tidak berkutik.


Dan itu akan segera terjadi kepada Gary, lelaki separuh baya yang sudah membohongi dirinya tentang membesarkan Keisha.


"Jadi, kedatangan Anda ke sini adalah untuk negosiasi tentang mahar pernikahan Keisha?" tanya Aina, mulai menunjukkan senyuman culas.


"Ya, saya meminta maharnya senilai 500 juta dan 1 buah mobil mewah yang siap pakai!"