Don'T Be The Antagonist

Don'T Be The Antagonist
Kesabaran



Aina membelai puncak kepala Fauzan dengan lembut, sehingga tanpa sadar membuatnya tertidur pulas.


Tok ... tok ....


Suara pintu yang di ketuk, membuat Fauzan terbangun dan membuat Aina  menoleh ke arah sumber suara.


"Aku buka pintu sebentar, Mas. Kamu tiduran aja di kasur, bantalan pakai bantal. Kaki aku kram kamu pakai bantal," celetuk Aina, membuat Fauzan menyengir kuda dan beranjak tidur di atas ranjang, seusai arahan istrinya.


Klek ....


"Ada apa, Mbok?" tanya Aina, meninggalkan Fauzan di dalam sana sendirian, karena Aina keluar dan menutup pintunya, untuk menemui sang tamu.


"Anu, Nyonya. Mas Alva masuk rumah sakit," cicit Mbok Yanti, membuat Aina membulatkan matanya.


"Astagfirullah, jangan bercanda, Mbok. Alva kenapa? Kok bisa masuk rumah sakit!" ucap Aina, berjalan mendekat ke arah Mbok Yanti dengan cemas.


"Iya, Bu. Ada kejadian buruk saat Mas Alva antarkan Non Keisha tadi, Buk. Ada yang mau menculik Non Keisha, tapi mas Alva kejar dan jatuh  ke bahu jalan pas ada serangan dari salah satu penculiknya!" ucap Mbok Yanti, menjelaskan situasi yang dia dengar dari pihak kepolisian saat menerima telepon tadi.


"Ya Allah. Ya sudah, sekarang saya mau siap-siap ke rumah sakit, tolong minta Mas Zean siap-siap antar saya ya, Mbok. Dan tolong jangan ramai-ramai, nanti yang lain pada dengar. Ini sudah malam," ucap Aina, memperingatkan.


Mbok Yanti menganggukkan kepalanya mengerti, dan berjalan pergi untuk melakukan tugas yang di minta oleh Aina.


Sementara Aina masuk ke kamar, membangunkan Fauzan dengan suara lembut, agar sang suami tak terkejut.


Awalnya memang berniat seperti itu, tapi saat melihat Fauzan duduk di ranjang dengan tatapan serius sambil menerima telepon, ekspresi wajah Aina langsung berubah kalut.


"Siapa, Mas?" tanya Aina, mendekati meja kerja suaminya yang ada di dalam kamar mereka, membuka laptop dan menunggu Fauzan mendekat ke arahnya.


Seakan mengerti apa yang akan di lakukan oleh sang istri, Fauzan segera mendekat dan memberikan ponselnya pada Aina.


Mode pengeras suara langsung on, membuat keduanya bisa mendengar dengan jelas, apa yang di bicarakan oleh lawan bicaranya.


"Hmph!!"


Jemari Aina bergerak cepat, mengetikkan kode yang tak di mengerti Fauzan di dalam laptopnya.


Istri Fauzan yang pintar. Tak banyak orang yang tahu apa pekerjaan Aina yang sebenarnya. Karena dia terlihat seperti wanita saleh dan selalu berada di rumah, mereka kira Aina adalah Ibu rumah tangga. Namun siapa sangka jika Aina adalah Dirut Perusahaan Keamanan SC. Perusahaan terbesar di negara ini.


Fauzan hanya bisa memantau, sampai akhirnya Aina dapat melacak keberadaan ponsel Keisha dan segera mengirimkan lokasi itu ke perusahaannya dan ke kantor polisi, pada kenalannya yang bekerja di sana.


Setelah menurunkan perintah, Aina mencabut semua kabel yang ada di ponsel Fauzan, memberikan ponsel suaminya kembali pada pemiliknya.


"Pergilah menemui Keisha, aku sudah mengirimkan lokasinya  padamu," ucap Aina, pergi  mendekati lemari pakaian, ganti baju secepat kilat, dan buru-buru keluar.


Fauzan mencekal pergelangan tangannya, membuat Aina menghentikan langkahnya tepat di depan pintu.


"Kamu mau ke mana?" tanya Fauzan, tak mengerti denggan sikap istrinya.


"Aku harus ke rumah sakit. Alva masuk rumah sakkit  saat mencoba menyelamatkan kekasihmu." Aina melepaskan tangan Fauzan dengan segera, dan berlari keluar kamarnya dengan wajah cemas.


Fauzan mematung, menatap Aina yang tak lagi mengandalkannya seperti dulu. Menyadari sebuah fakta jika Aina mencoba untuk mandiri atas semua hal yang bersangkutan dengan anak-anak ataupun dirinya.


"Alva masuk rumah sakit, dan kamu masih tetap memintaku pergi mencari Keisha? Kamu sudah gila?!" bentak Fauzan, membuat langkah Aina berhenti tepat di anak tangga terakhir.


Aina terkejut, dia mendengar suara Fauzan yang marah sampai menggema memenuhi ruangan luas itu.


Aina menoleh pada suaminya, menatapnya dengan tatapan datar dan dingin.


Fauzan terpaku. Ini pertama kalinya Aina menatapnya sedingin itu. Karena selama ini Aina selalu menatapnya dengan lembut.


"Aku memintamu menolong anakmu, bukan Keisha! Apakah kamu akan terus salah paham padaku yang terus mencoba berbaik hati walaupun muak?" ketus Aina, tak peduli lagi dengan kewajibannya sebagai istri.


"Jangan membuat amarahku naik sampai ke ubun-ubun, Mas! Kamu tahu, aku bukan orang yang sangat sabar!" lanjut Aina, penuh penekanan, sebelum dia pergi meninggalkan ruangan itu.