
Keisha keluar dari kamarnya, menatap sekeliling ruangan yang tampak lenggang karena tak ada seorang pun yang berlalu-lalang di sana.
"Anda perlu bantuan, Non?" tanya Mbak Vina, tiba-tiba ada di belakang Vina dengan membawa alat pel dan ember berisikan air bekas pelnya.
Keisha menoleh padanya dengan ekspresi wajah kaget, membuat Mbak Vina mengulas senyuman masam.
"Maafkan saya kalau sudah membuat Non Keisha terkejut. Saya tidak bermaksud mengagetkan," ucap Mbak Vina, meletakkan benda yang dia bawa ke atas lantai dan mengulurkan tangannya.
"Nama saya Vina. Sepertinya saya seumuran dengan Non Keisha," ucap Mbak Vina, berusaha akrab dengan Keisha.
Namun Keisha hanya diam dan menatap tangan Vina yang mengantung di udara dengan tatapan dingin, seakan enggan menjabat tangannya.
"Saya Keisha. Salam kenal. Tidak perlu jabat tangan tidak apa, bukan? Tangan Mbak Vina, kan habis memegang kain pel! Nanti tangan saya kotor," celetuk Keisha, angkuh.
Mbak Vina mengerjapkan matanya polos beberapa kali dan menarik turun tangannya, kembali mengangkat ember dan alat pelnya untuk pergi meninggalkan Keisha.
"Selamat malam, Non Keisha," ucapnya, berjalan pergi menuruni tangga.
Keisha berdeham, memandang Mbak Vina yang tampak balas bersikap kasar padanya dengan tatapan ragu.
"Saya lapar. Ada makanan enggak di dapur?" tanya Keisha, membuat Vina menoleh padanya dan menatapnya lama.
"Ada. Tapi saya tidak terima jasa antar makanan ke kamar. Silakan turun ke ruang makan, biar saya siapkan!" balas Mbak Vina, biasa saja. Tapi terdengar songong di telinga Keisha.
Keisha memutar bola matanya malas, beranjak turun dari tempatnya dan pergi ke ruang makan yang ada di sisi kiri tangga tempatnya berada.
Keisha duduk di salah satu kursi, menatap Mbak Vina yang mulai bersiap untuk memasakkan makan malam untuk Keisha.
"Sudah cuci, kan? Tangannya kan bau pel," ucap Keisha, memperingatkan.
Keisha pun diam, menatap Mbak Vina yang sedang memasak dengan tatapan lekat.
"Saya ingin bertanya, walaupun sedikit lancang. Tapi saya tetap ingin bertanya pada Anda," ucap Mbak Vina, tanpa menoleh ke arah Keisha di belakangnya.
Keisha mengangkat sebelah alisnya, memandang wanita itu dengan tatapan bingung.
"Apa yang ingin kamu tanyakan?" tanya Keisha, membuat Mbak Vina menoleh dan menatapnya dengan tatapan serius.
"Apa Anda datang dengan sengaja ke dalam rumah tangga kedua Tuan saya?" tanya Mbak Vina, tampak memberanikan diri.
Keisha terdiam beberapa saat. Menatap wanita berusia sepantaran dengannya itu, dengan tatapan sendu dan tak senang.
"Tidak perlu tahu. Bukannya Pak Fauzan sudah menitipkan saya kepadamu? Tapi kenapa sekarang kamu malah bertanya pertanyaan yang sensitif?" ketus Keisha, tampak marah.
"Karena bagi saya, tindakan Anda sangat tercela." Mbak Vina menundukkan kepalanya sedih. "Terutama untuk Nyonya. Saya takut Nyonya sedih. Karena Nyonya orang yang sangat baik, dia tidak mungkin mengusir Anda walaupun dia tidak suka dengan kehadiran Anda," ucapnya, parau.
Keisha diam, menatap ke arah lain dengan tatapan berat dan mata yang berkaca-kaca. "Sajikan saja makananku dan jangan banyak bicara. Saya sudah lapar dari tadi," ucapnya, berusaha mempertahankan image jahatnya walaupun tak mampu.
Mbak Vina pun diam, segera menyajikan makanan Keisha dan meninggalkannya sendirian di ruangan itu.
"Selamat makan. Saya akan ada di kamar. Jika Anda membutuhkan saya, Anda bisa menekan nomor 3. Saya akan segera ke kamar Anda," ucap Mbak Vina, menunjuk ke arah telepon kabel dengan tatapannya.
Keisha hanya mengangguk dan membiarkan wanita itu pergi dengan tenang.
"Terima kasih makanannya."
Klap!