
Keisha duduk di depan villa Fauzan dengan kepala menunduk dalam. Dia tak bisa menghadiri pemakaman Nuri karena Aina melarangnya datang.
Bukan bermaksud buruk. Hanya saja, karena Keisha sedang mengandung, jadi dia tidak di perbolehkan datang ke sana.
"Saya buatkan teh jeruk, Non. Silakan di minum," ucap Mbak Vina, meletakkan segelas teh di meja kecil yang ada di samping tempat duduk Keisha.
Keisha mengangguk sambil mengucapkan terima kasih padanya. Dan saat itu juga, Keisha kembali menangis dalam diam karena merasa sedih.
"Tolong jangan terus menangis, Non. Anda tidak boleh terlalu lelah dan banyak pikiran. Tolong jaga tubuh Anda. Anda harus tetap sehat untuk anak yang ada di dalam perut Anda," ucap Mbak Vina, mengingatkannya.
Keisha mengusap air matanya dengan tisu, mencoba menahan air mata yang terasa sulit di hentikan jika sudah berhasil keluar dari pelupuk matanya.
"Maafkan aku, Mbak. Hatiku sangat sakit karena kepergian Nuri. Haha, padahal aku baru mengenalnya beberapa minggu. Tapi kenapa aku sangat–" Keisha tak bisa melanjutkan ucapannya, dia menundukkan kepala dan kembali menangis dengan isakan pelan.
"Haih, sampai kapan kamu akan bersikap seperti itu, Kei? Kamu membuat Mbak Vina kewalahan," ucap Mirza, datang bersama dengan dua sahabat perempuan Keisha.
Keisha mendongak, menatap teman-temannya berpakaian serba hitam dan mendekat padanya dengan tatapan cemas.
"Jangan menangis, Kei. Nyonya Aina tidak akan suka melihat ini. Bahkan tidak ada satu pun anggota keluarga Nuri yang menangis di sana. Mereka semua berusaha tegar untuk mengantarkan anak kecil itu pergi ke tempat peristirahatan terakhirnya," ucap Fani, dengan menghela napas dalam.
"Maaf, kalian sudah cuci kaki dan tangan?" tanya Mbak Vina, menghalangi ketiga orang yang ingin mendekati Keisha begitu saja.
"Cuci? Sudah, di depan Pak Gintara meminta kami membersihkan diri lebih dahulu sebelum masuk. Tenang saja, Mbak!" ucap Fina, memberitahu.
Mbak Vina menganggukkan kepalanya mengerti dan menepi, membiarkan ketiga orang itu mendekati Keisha dan menemaninya.
"Saya akan buatkan minuman dan bawakan makanan kecil. Saya permisi dulu," ucap Mbak Vina, sebelum berlalu pergi meninggalkan mereka.
Keisha dan tiga orang lainnya hanya mengangguk dan kembali fokus pada Keisha yang terlihat sedih dan terpukul karena kematian anggota termuda di keluarga suaminya.
"Benarkah yang kamu katakan tadi, Fin? Mereka tidak menangis di sana?" tanya Keisha, menatap Fina yang duduk di sisi kirinya.
Fina mengangguk dan menepuk-nepuk pundak Keisha, menabahkan. "Ya, mereka tidak ada yang menangis. Bahkan sampai membuat para tamu undangan merasa canggung jika ingin menangis di tempat itu. Haha, dan aku salah satunya!" celetuknya, mengulas senyum masam.
Keisha tersenyum pedih, menatap kosong ke arah kedua tangannya. "Aku sudah menduganya. Mereka orang-orang yang sangat tegar. Bahkan saat mendengar berita itu untuk pertama kalinya, Fauzan tidak menangis. Dia hanya terlihat terpukul dan berusaha kuat. Dia langsung pergi sholat dan mengaji semalaman."
Lelaki itu berulang kali mengusap air matanya yang hendak turun, membasahi pipinya, saat dia membaca ayat-ayat suci itu semalaman.
Dan Keisha menjadi saksi ketabahan itu semalaman. Keduanya melewatkan tidur dan terus berdoa dan meminta pengampunan agar Nuri bisa tenang di alam sana.
"Hahh, jika tahu keluarga ini sanggatlah khusuk. Aku pasti tidak akan masuk ke dalam sini. Haha, aku sedikit malu karena alu tidak bisa sholat dan mengaji sama sekali. Hahh ... tekanan itu datang dan mendorongku hijrah," celetuk Keisha, curhat.
"Alhamdulillah," ucap ketiga teman Keisha, membuat Keisha menatap mereka dengan tatapan masam.
"Jangan meledekku. Masuk ke dalam keluarga ini dengan niat jahat, malah membuatku terjebak dalam kebaikan Tuhanku," masam Keisha, dengan senyuman kesal.
***
Aina duduk di sebuah kursi goyang yang ada di dalam kamar pribadinya, menatap keluar jendela dan melewatkan makan malam dengan keluarganya.
"Ma, Mama tidak pergi makan?" tanya Alva, masuk ke dalam kamar itu dan mendekati Aina yang duduk di dekat jendela.
Aina menoleh, menatap anak pertamanya dengan tatapan masam dan menggelengkan kepalanya pelan. "Mama tidak berselera, Alva. Kamu dan adik kamu saja yang makan malam. Temani Ayah kalian di meja makan," ucapnya, lembut.
Alva berjongkok, meletakkan kepalanya di pangkuan Aina. "Maaf, Ma. Alva tidak bisa menjaga Nuri dengan baik. Seharusnya Alva menjaganya dan terus bersama dengannya selama pesta. Tapi Alva malah jadi satpam panggung seperti kemarin. Alva minta maaf," ucapnya, benar-benar bersalah.
Aina membelai rambutnya lembut, menatap Alva dengan tatapan sedih. "Jangan bicara begitu, Al. Semua sudah di takdirkan. Mungkin ini pilihan terbaik untuk Nuri, dari Tuhan. Tuhan sedang merindukannya, mangkanya adikmu di panggil pulang. Tuhan menyayangi Nuri, Nak. Karena itu, Tuhan menghentikan perjuangan menyakitkan ini untuknya."
Aina gemetar, dia menundukkan kepalanya dan menempelkan keningnya pada pelipis Alva.
Dia sudah berusaha menahan air matanya sekuat tenaga. Tapi tampaknya dia tak sanggup dan menumpahkan air matanya di wajah Alva.
Alva tak bergeming, tetap di posisinya dengan mata terpejam. Memberikan Aina ruang untuk menangis dengan leluasa.
"Ini pilihan terbaik Tuhan untuk adikmu. Anakku yang cantik, akhirnya berhenti berjuang melawan sakitnya. Akhirnya berhenti menangis tiap malam karena menahan penderitaan di dalam kepalanya." Bibir Aina bergetar hebat, membuat Alva ikut menangis dalam tenang mendengar suara Aina yang menyakitkan itu.
"Anak Mama yang cantik, seusai berjuang, menangis dan tertawa sampai usia 10 tahun. Setelah di titipkan di dalam pelukan Mama selama 10 tahun, akhirnya dia di panggil dan Mama tidak akan pernah memeluknya lagi. Anakku yang pintar dan cantik, sudah tidak bersama Mama, Alva Mama sangat sedih ... hiks, ternyata Mama tidak sekuat itu untuk menahan semuanya," pedih Aina, menangis tanpa suara.
Alva bangkit, memeluknya dan ikut menangis bersamanya. "Tidak apa, Ma. Menangislah, karena Mama hanya manusia biasa. Menangislah saat sedih. Menangislah sepuasnya ...."