Don'T Be The Antagonist

Don'T Be The Antagonist
PDKT



"Baik, kalau begitu saya tidak akan menunda waktu Anda lagi dan segera mengirimkan dokumennya kepada Anda, Nyonya."


Aina mengangguk singkat dan mengantarkan lelaki berjas rapi dengan rambut bergaya belah samping yang rapi itu keluar dari kamarnya.


Baru membuka pintu, dia sudah di hadapkan dengan seorang lelaki bertubuh besar yang sangat dia kenali, tengah berdiri di depan kamarnya dengan membawa sebuah buket bunga besar dengan wajah termangu saat melihat ada lelaki lain yang keluar dari kamar Aina.


"Oh ... Pak Mirza, kenapa Anda di sini?" tanya Aina, seketika perhatiannya teralihkan pada lelaki berusia 4 tahun lebih muda darinya.


Mirza mengangguk sambil mengangkat sebuah keranjang buah dan buket bunga yang dia bawa. Menunjukkan kedua benda itu dengan menyunggingkan senyuman ambigu.


"Sepertinya dia datang untuk mengunjungi Anda, Nyonya. Kalau begitu saya tak akan mengganggu. Selamat bersenang-senang." Lelaki berjas rapi itu menundukkan kepalanya sejenak pada mereka berdua dan pergi meninggalkan kamar Aina.


"Hati-hati di jalan Pak Husein." Aina melambaikan tangannya dan tersenyum ramah. Membuat Mirza merasa sedikit cemburu dengan hal itu.


"Ya, Nyonya."


Mirza terus memperhatikan perawakan Aina dengan saksama. Wajah pucat dan tubuh yang semakin kurus. Tampaknya keadaan Aina tak cukup baik walau pun dia mulai bisa berjalan sekarang.


"Maaf terlambat menjenguk Anda," ucap Mirza, ketika tatapan mereka saling bertemu.


Aina menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak masalah, Pak Mirza. Saya senang Anda bisa mengunjungi saya sekarang. Kalau begitu, Anda mau masuk?"


Aina menunjuk ke arah dalam kamarnya dengan ujung ibu jarinya.


Mirza menoleh lurus ke belakang punggung Aina. Tampaknya sedang tak ada seorang pun yang menjaganya. Itu kesempatan yang bagus untuknya.


"Jika di perbolehkan," jawab Mirza, antusias.


Aina membuka pintu semakin lebar dan memimpin mereka berdua masuk ke dalam kamarnya.


"Silakan duduk," ucap Aina, memperlihatkan seraya dia berjalan mendekati meja panjang yang terletak di sudut iri ruangan. Yang berisikan fasilitas ruangannya, seperti mesin kopi dan beberapa makanan yang di tinggalkan anak-anaknya.


Melihat itu, Mirza yang awalnya ingin duudk jadi mengurungkan niatnya dan berjalan meninggalkan tempatnya untuk mendekati Aina.


"Biar saya sendiri yang membuatnya, Nyonya. Anda sedang sakit. Jadi beristirahatlah," ucap Mirza, mengambil alih gelas yang ada di hadapan Aina.


Aina memandang Mirza beberapa saat. Membuat lelaki itu nervous walaupun dia sok sibuk dengan menyiapkan kopinya.


"Ada yang ingin Anda sampaikan?" tanya Mirza, tanpa memandang Aina dan terus menundukkan kepalanya sambil menuang air panas ke dalam gelas kopinya.


"Anda di sini bukan untuk menjenguk saya, kan? Anda selesai menjenguk Keisha juga, kan?" tanya Aina, menelisik lebih dalam pada bola mata gelap yang bersinar di bawah siluet matahari senja.


Mirza mencoba untuk tenang. Dia tak memberikan banyak respons yang mencurigakan sampai Aina tak akan menyadari niatnya.


"Anda bisa bertanya pada Keisha jika tak percaya pada saya," jawab Mirza, dengan cerdik.


Aina menyipitkan kedua matanya. Nyaris tak percaya jika seandainya Mirza goyah saat memberikan jawaban pertanyaannya.


Tapi sayang, Mirza lulus dari peninjauan itu dan tak membuat Aina mencurigai dirinya. "Baiklah. Aku juga mau kopinya."


Aina pergi kembali ke ranjangnya. Sementara Mirza menghela napas lega. Bersyukur karena dia telah selamat dari mata maut nan jeli Aina.


"Dia wanita yang aku suka. Tapi siapa yang akan mengira jika dia sangat garang dan tegas?" batin Mirza, masih berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup kencang beberapa menit ke depan.


"Bagaimana keadaan Keisha? Kamu sudah melihat anaknya?" tanya Aina, kembali membuat bulu kuduk punggung Mirza berdiri.


Mirza menoleh ke arah Aina dengan ambigu. "Jangan membuatnya curiga ... jangan membuatnya curiga. Aku mohon ...," batinnya, mulai mengeluarkan keringat dingin.


"Jangan berbicara sembarangan. Aku bahkan punya fotonya, ini!" Mirza menujukan foto bayi Keisha yang tadi pagi sempat di kirim oleh mantannya itu, agar Mirza datang menjenguknya.


Aina melipat kedua tangannya di depan dada. "Baiklah. Aku percaya. Mana kopiku?" tanya Aina, mengulurkan tangannya ke udara.


Mirza kembali menyimpan ponselnya dan segera mengambil cangkir mereka. Memberikannya kepada Aina, tapi dia segera kembali menariknya ke sisinya.


"Tunggu-" Mirza mengerutkan keningnya dalam. Memandang wajah Aina yang mulai berkeringat karena grogi. "Anda bisa minum kopi? Bukannya besok Anda ada jadwal operasi?"


Mirza benar-benar merebut kopi Aina dan tak jadi memberikannya. "Kan, benar. Anda tidak boleh minum atau pun makan. Anda harus mengosongkan perut!!"


Aina berdiri, mencoba meraih gelas kopinya. "Sedikit saja. Aku sangat lapar sampai perutku perih!" ucapnya, memohon.


Mirza masih berusaha menjauhkan gelas itu dari Aina. "Anda lapar sampai perut Anda terasa perih. Sudah begitu masih ingin meminum kopi? Anda kecanduan kafein ya?!" serunya, lantang.


Aina langsung menghentikan pergerakannya dan memandang Mirza dengan tatapan terkejut. Seakan tengah speechless dengan apa yang di katakan Mirza.


Melihat itu, tak khayal. Mirza langsung paham jika ini adalah permintaan egois Aina agar besok operasinya gagal. "Jangan mengada-ngada. Anda tak boleh minum ini. Titik!" tegasnya, tak terbantahkan.


Aina yang mendengar keputusan itu hanya menghela napas pasrah dan kembali duduk di tepi ranjangnya dengan tatapan memelas melihat gelas kopinya.


"Saya akan meminum semuanya!" celetuk Mirza. Menyesap kedua gelas kopi itu secara bergantian.


***


Tok ...tok ....


Keisha yang baru saja berhasil mengusir Mirza, kini harus kembali menerima tamu dengan kondisi badan yang tidak fit. Terlebih lagi, di jam seperti ini tak akan ada seseorang yang bersama dengannya.


Dengan susah payah Keisha turun dari ranjang dan membuka pintu yang berjarak 8 kaki dari tepat tidurnya berada.


Klek ....


Keisha terpaku melihat beberapa anak SMA berdiri di depan pintu kamarnya dengan beberapa hadiah kecil yang mereka bawa.


"Selamat malam, Mbak Kei. Bagaimana keadaanmu?"


"Kami tidak mengganggu, kan?" tanya anak SMA yang lain, mencelinguk ke dalam ruangan Keisha.


Keisha menoleh ke dalam kamarnya dan mempersilahkan adik-adik dari panti asuhan yang sama dengannya itu masuk dengan senyuman cerita.


Moodnya yang tadinya buruk, kini telah teratasi dengan baik atas kehadiran anak-anak it.


"Masuklah. Tapi jangan terlalu berisik karena anakku sedang tertidur, ya?" ucap Keisha, memperingatkan anak-anak itu.


Mereka mengangguk tanda setuju dan segera masuk ke dalam sana dengan senyuman manis yang telah bertengger di wajah mereka.


"Wah, dia sangat menggemaskan." Arum, gadis berusia 19 tahun itu tersenyum lembut melihat anak Keisha yang tertidur di dalam boks yang tersedia di samping ranjang sang Ibu.


"Aku juga mau lihat!" Alif, lelaki berusia 18 tahun berlari mendekati Arum dan berdiri di sampingnya. "Wah .. dia benar-benar lucu."


Anak-anak itu sangat heboh. Mereka membuat Keisha yang memperhatikannya dari samping.


"Ah ... aku jadi ingin kembali ke masa mereka setelah merasakan kehidupan pahit ini," gumam Keisha, tersenyum sendu.