Don'T Be The Antagonist

Don'T Be The Antagonist
Ancaman



"Apa yang Anda lakukan di tempat ini?" tanya Keisha, menatap lelaki itu dengan sorot tajam.


"Kenapa lagi? Tentu saja bertemu denganmu, Keisha!"


***


Keisha mengerutkan keningnya dalam, menatap lelaki yang hidup selama 15 tahun dengannya dan selalu menyiksanya sepanjang waktu.


Kerjanya hanya mabuk dan memukul Keisha sepanjang waktu. Seorang lelaki bagai mimpi buruk untuk Keisha.


Keisha memang hidup di panti asuhan, namun lelaki ini selalu datang dan mempermalukannya dengan selalu meminta uang pada Ibu pengurus panti dan berfoya-foya dengan uang itu.


Keisha sangat geram dengannya. Bahkan melihat wajahnya saja, membuat Keisha merasakan gejolak nyata di dalam dirinya.


Ada emosi yang tak bisa di kendalikan oleh Keisha tiap kali melihatnya.


"Apa lagi yang paman inginkan? Bukannya minggu lalu aku baru mengirim uang? Kenapa sekarang malah datang ke sini?" celetuk Keisha, memandang Gary, pamannya, dengan tatapan tak senang.


Gary tersenyum, menatap wajah Keisha dengan tatapan licik. "Aku dengar kamu akan menikah dengan orang berada. Tentu, sebagai keluarga dan satu-satunya wali kamu, Paman harus datang dan menyapa suami, kan?"


Krt ...


Kedua tangan Keisha mengepal dengan sempurna, membuat Gary menatapnya dengan senyuman jahat.


"Kamu tidak perlu takut, Keisha. Aku tidak akan melakukan hal buruk pada mereka, asal mereka menuruti permintaanku!" ucap Gary, mengundang amarah Keisha.


"Jangan mengganggu keluarga suamiku, paman! Jika paman ingin uang, minta saja padaku. Aku akan memberikannya!" teriak Keisha, tampak marah dan frustrasi.


Gary terbahak-bahak, menatap Keisha yang tertekan dengan tatapan merendahkan.


"Kenapa kamu sangat takut? Memangnya aku akan mencelakai suamimu, hahaha. Aku bahkan belum bertindak, tapi kamu sudah gemetar begitu," ucap Gary, semakin terbahak-bahak.


Lelaki berjas hitam dengan tubuh kekar itu di temani 2 orang temannya. Dan kehadiran mereka malah membuat Keisha bingung bukan main.


"S-siapa Anda? Kenapa kalian tahu nama saya?" tanya Keisha, sedikit gelagapan.


"Kami di utus oleh Nyonya Aina untuk menjaga Anda mulai sekarang. Kami akan berjaga di depan apartemen Anda," jelas seorang lelaki berkulit putih, bernama Aren.


"Mbak Aina? Untuk apa dia meminta kalian menjaga– ah, apa karena kejadian itu?" tanya Keisha, berusaha menebak.


"Benar, Nona. Karena insiden kemari. Lalu, siapa ini?" tanya lelaki berjawab bule, bernama Kevin, sambil menatap sosok Gary.


Keisha menatap Gary dengan tatapan bingung. Bingung harus memperkenalkan Gary pada mereka sebagai apa.


"Aku pamannya. Aku ke sini untuk bertemu dengan bos kalian. Apa kalian bisa membawaku bertemu dengannya?" tanya Gary, dengan tatapan penuh harap.


Keisha menggelengkan kepalanya pelan, saat lelaki bernama Catra, menoleh ke arahnya untuk mencari kejelasan, apakah benar lelaki itu memang pamannya?


"Maaf, Tuan. Kami tidak bisa membawa Anda bertemu dengan Nyonya," jelas Catra, menolak dengan tegas permintaan itu.


Gary mengerutkan keningnya dalam, menatap Catra dengan tatapan tak senang.


"Kalau begitu, jangan mengharapkan restu dariku! Aku tidak akan datang menjadi wali untuk Keisha jika kalian tidak membawaku ke depan bis kalian," ketus Gary, tampak angkuh.


Kevin, Aren dan Catra saling bertukar pandang, sebelum akhirnya menoleh pada Keisha yang tampak tak senang tapi tetap tak bisa berbuat apa-apa.


"Baiklah, kami akan memenuhi permintaan Tuan. Saya akan mengatakannya pada Nyonya agar kalian bisa bertemu." Aren menatap tajam nan dalam. "Tapi jika Nyonya menolak, Anda tidak boleh mencari-cari celah atau bertindak nekat untuk bertemu dengannya!"


Aren menatap angkuh, memandang Gary dengan tatapan merendahkan. "Jika Anda sampai melanggar, kami akan membawa masalah ini ke jalur hukum!" tegasnya, tak dapat di bantah.


"Ck, baiklah!"