Don'T Be The Antagonist

Don'T Be The Antagonist
Kesalahan



"Kamu tidak tahu siapa wanita itu sebenarnya?" tanya Arina, menatap Sherly dengan tatapan muak.


"Memangnya siapa dia?" tanya Sherly, dengan tatapan culas.


Arina menghela napasnya kasar. "Hahh ... dia adalah pemilik asli perusahaan suamimu! Atasan langsung dari Pak Baron, kamu mengerti?!"


"Apa katamu?!!"


***


Suara teriaka Sherly membuat beberapa pengunjung di Cafe tersebut menoleh ke arah meja mereka.


"Kecilkan suara kamu, Sher. Kenapa hobi sekali mempermalukan kita? Jaga sedikit mulutmu," celetuk Arina, memperingatkan dengan tatapan tajam.


Sherly yang melihat sikap angkuhnya itu, langsung menatap Arina dengan tatapan merendahkan, ingin membuat takut wanita itu.


Tapi tampaknya Arina tidak takut sama sekali. Dia malah memalingkan wajah dari Sherly, seakan tidak memedulikannya.


Sherly mengerutkan keningnya dalam, menatap orang kepercayaannya itu dengan tatapan aneh. "Kamu marah karena perkataanku tadi?" tanyanya, masih terlihat culas.


Arina hanya diam dan fokus memainkan ponselnya.


Karena tidak ada jawaban, jadi jawabnya adalah "ya". Dan teman-teman Arina yang melihat perubahan sikapnya, menolehkan kepalanya pada Sherly, yang tampak enggan meminta maaf kepadanya.


"Hahh ... sepertinya permasalahan kalian tidak akan selesai dengan mudah. Lebih baik aku pulang sekarang, ayo Arina. Lebih baik kita pergi ke mall, menghabiskan uang untuk menghibur diri," ucap Sindy, segera mengajak sahabat baiknya pergi meninggalkan perkumpulan kelas atas tersebut.


Arina tidak banyak berbicara dan segera mengemas barang-barangnya. Pergi dengan Sindy adalah pilihan yang tepat. Daripada dia terus berada di dalam satu ruangan dengan Sherly, dalam kondisi hati terbakar, mungkin pergi dari ruangan itu adalah pilihan terbaik.


"Kami pergi dulu, selamat menghabiskan waktu kalian," ucap Sindy, berjalan pergi mengikuti langkah Arina yang sudah pergi terlebih dahulu.


"Hahh, turunkan sedikit egomu, Sher. Kalau kamu bertengkar dengan Arina, kamu tidak akan pernah mendapatkan informasi terbaru lagi. Walaupun kamu yang paling kaya dan memiliki jabatan tertinggi di antara kita, tapi kamu tetap tidak bisa melakukan apa pun tanpa bantuan Arina," ucap Lia, tanpa memikirkan perasaan si pendengar.


Sherly mengurutkan keningnya dalam, menatap Lia dengan tatapan tidak senang. "Jadi, maksudmu aku tidak berdaya jika tidak ada Arina?"


Lia menatapnya dengan sinis. "Ya. Setidaknya seperti itu yang aku lihat selama ini. Kamu selalu meminta bantuan Arina saat kondisimu sedang sulit. Dan yang aku bingungkan, kenapa kamu selalu memperlakukannya dengan rendahan depan yang lain?"


Lia menatap tajam, seakan mengajak bertengkar dengan Sherly. "Jagalah sikapmu, Sher. Selama kamu tidak memiliki otak, seberapa pun banyaknya uang dan setinggi apa pun jabatan kamu. Kamu tetap tidak akan bisa melakukan apa pun tanpa ajudan yang profesional dan bertanggung jawab! Jangan menjadi congkak hanya karena beberapa gudang uang. Menurutku kamu sangat menjijikkan!" cemoohnya, sebelum akhirnya ikut meninggalkan meja tersebut.


Sherly yang mendengarkan kalimat pedas itu hanya terdiam, menatap kepergian Lia dengan tatapan benci dan penuh dendam


"Padahal suaminya pernah mengutang pada suamiku untuk membangun perusahaan. Tapi lihatlah mulutnya itu, cik ... cik ... sangat tidak tahu terima kasih!" tekan Sherly, dengan ekspresi wajah dingin.


***


"Ya, sesuai arahan Anda dan Mbak Aina, aku sudah membagikan semua undangan pada teman-temanku. Lalu bagaimana dengan Anda? Anda juga akan mengundang teman-teman Anda? Atau hanya teman bisnis dan beberapa orang penting saja?" tanya Keisha, sambil membenarkan lipstiknya.


Fauzan hanya tersenyum tipis dan tidak menjawab pertanyaan itu. Dia terus menatap ke arah depan, seakan menunjukkan sikap enggan menjawab pertanyaan Keisha.


"Sepertinya Anda tidak mengundang teman-teman anda. Baiklah, tidak masalah. Pernikahan kita memanglah aib di keluarga Anda. Saya mengerti itu" ucap Keisha, tanpa merasa terbebani.


Fauzan menghela napas lembut dan menoleh padanya, sekilas. "Ya, sebenarnya itu yang aku inginkan. Tapi bukan karena pernikahan keduaku adalah aib keluarga. Ini cenderung pada diriku yang tidak ingin menyakiti perasaan Aina."


Keisha menoleh ke arah Fauzan yang tampak sedih setelah mengatakan kalimat tersebut. "Lalu?" tanyanya, menaikkan sebelah alisnya.


"Hahh ... tapi kamu tidak perlu khawatir. Karena istriku, memperbolehkanku mengundang teman-teman dan yang lainnya. Bahkan nanti semua kerabat jauhku juga datang." Fauzan menghela napas berat untuk kedua kalinya.


"Hahh ... bahkan ini akan menjadi upacara pernikahan yang lebih besar, dari pada pernikahanku dengan Aina. Karena saat aku menikah dengan Aina, para kerabat tidak datang. Tapi saat menikah denganmu, mereka semua ingin datang. Jadi kamu tidak perlu cemas, karena pernikahan kita akan berlangsung dengan meriah. Aina sudah mengatur semuanya untuk kita," ucap Fauzan, memberitahukan.


Keisha langsung terdiam. Diam dengan memikirkan kenapa Aina selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk dirinya?


Padahal sudah jelas, jika dia adalah orang yang merusak rumah tangga mereka. Tapi kenapa Aina selalu memperlakukan ya dengan baik? Apa alasannya?


"Boleh saya bertanya sesuatu tentang Mbak Aina?" tanya Keisha, menatap Fauzan dengan tatapan serius.


Fauzan hanya menganggukkan kepalanya, memperbolehkan wanita itu untuk bertanya. "Apa?" tanyanya, menanti.


"Kenapa Mbak Aina terlihat sangat tidak keberatan dengan pernikahan kedua Anda? Apakah hubungan rumah tangga Anda dan Mbak Aina tidak sebaik yang diberitakan di TV? Karena sejauh ini, saya melihat kalian tidak terlalu sering mengobrol. Dan tampaknya kalian sibuk masing-masing. Apakah hubungan kalian serenggang ini?" tanya Keisha, dengan suara lirih.


Fauzan menoleh padanya dengan senyuman lembut. "Apakah aku terlihat membenci istriku? Atau, apakah aku terlihat seperti seorang lelaki yang sering memanfaatkan istrinya untuk mengambil perhatian publik?" tanyanya, dengan suara lembut.


Keisha terdiam beberapa saat, menatap Fauzan dengan tatapan setengah bingung. "Sejauh ini, saya melihat Anda sangat menyayangi Mbak Aina. Tapi, yang menjadi pertanyaan saya. Apakah Mbak Aina selalu bersikap seperti ini? Dingin dan seperti tidak memiliki perasaan yang sama dengan Anda."


Fauzan menggelengkan kepalanya pelan. "Aku yakin kamu pernah mendengarnya, Kei. Jika istriku juga merasa sakit hati dengan pernikahan ini. Tapi kamu mempertanyakan kenapa dia tetap melakukan yang terbaik untuk pernikahan kita, bukan?" 


Keisha menganggukkan kepalanya sekali. Mengiyakan pernyataan itu.


Fauzan kembali tersenyum, namun fokusnya sudah kembali ke jalanan. "Itu karena tugas istri yang mengharuskan mereka menjaga martabat suaminya. Itulah yang sedang dilakukan oleh istriku. Menjaga martabatku agar tetap baik, walaupun hatinya sudah hancur lebur dan terinjak-injak."


Fauzan tersenyum pedih, seakan menahan rasa sakit yang ada di dalam dadanya. Perasaan sesak yang membuatnya ingin menangis setiap kali mengingat apa saja yang di ikhlaskan oleh Aina untuk dirinya.


"Istriku adalah orang yang sangat baik, Kei. Kamu, bukanlah kesalahan pertamaku untuknya. Dulu aku juga pernah sangat menyakitinya. Tapi dengan lapang dada, dia menerimaku dan setia ada di sisiku," ucap Fauzan, dengan suara parau.


"Ini bukan kesalahan pertama Anda? Lalu, apa kesalahan pertamanya, Pak?"