Don'T Be The Antagonist

Don'T Be The Antagonist
Prasangka



Klek ....


Fauzan masuk ke kamar Keisha dengan langkah perlahan-lahan sambil memandang ke sekeliling.


Setelah pulang kerja 10 menit yang lalu. Dia menemui Aina terlebih dahulu dan makan malam bersama dengannya, sebelum dia tahu kalau istri keduanya sedang sakit.


"Kei, aku boleh masuk ke kamarmu?" tanya Fauzan, menatap wanita yang sedang berbaring di atas ranjang dan menoleh kepadanya, saat tahu ada seseorang masuk.


"Bukannya kamu sudah masuk?!" pekik Keisha, membuat Fauzan memperhatikan tempatnya berdiri.


Lelaki itu tersenyum malu dan berjalan kembali, untuk mendekati ranjang Keisha.


"Aku bawakan makan malam untukmu." Fauzan memberikan piring yang dia bawa langsung dengan tangan, kepada Keisha.


"Oh ... padahal tidak usah repot-repot. Aku sedang tidak ingin makan malam," jelas Keisha, dengan meletakkan piring itu ke atas meja kecil yang ada di samping ranjangnya.


Fauzan mengambil piring itu kembali dan memosisikan dirinya duduk di tapi ranjang Keisha.


"Jangan begitu. Kamu kan sedang mengandung. Aku juga tidak akan senang kalau kamu sakit terus. Kasihan anaknya!"


"Terus enggak kasihan sama aku?" tanya Keisha, dengan wajah memelas.


Fauzan diam beberapa saat dan memikirkan kenapa tiba-tiba Keisha bersikap manja kepadanya? Apa ini bawaan dari ibu hamil versi Keisha?


Karena dulu saat istri pertamanya sedang mengandung. Aina tidak berlaku seperti ini. Malah dia menjadi sangat gila kerja, sampai-sampai tidur punya tidak nyenyak dan makan pun tidak habis.


Karena itulah, saat menyaksikan sikap manja Keisha, Fauzan menjadi sedikit dulu harus berbuat apa dan harus bagaimana cara menanggapinya.


Karena Fauzan tidak mencintai Keisha, jadi dia cukup sulit memperlakukan wanita itu dengan baik. Di saat dia memiliki sikap dingin pada wanita yang di anggap sebagai orang asing.


"Kan kamu itu ibunya, Kei. Mengalah lah pada anakmu yang masih kecil. Bahkan dia masih belum bisa bernafas sendiri, kan? Ayo, aku suapin."


Fauzan mulai menyedok makanan itu dan meletakkan ujung sendoknya tepat hadapan mulut Keisha.


Keisha tak kunjung membuka mulutnya, dan Fauzan juga tidak mau mengalah ataupun membujuknya. Lelaki itu terus meletakkan sendok di depan mulut Keisha sampai dia membuka mulutnya.


"Setelah makan, aku akan mengajakmu jalan-jalan di sekitar sini. Kata Aina, jalan-jalan sangat baik untuk ibu hamil. Jadi sekarang, ayo makan dulu!" bujuk Fauzan, akhirnya.


Walaupun merasa berat hati dan perutnya tidak nyaman, Keisha membuka mulutnya dan menerima suapan pertama dari sang suami.


Aina yang hendak masuk untuk membawakan susu ibu hamil pada Keisha, saat melihat pemandangan di dalam kamar. Langkahnya langsung tertahan dengan perasaan yang sudah campur aduk. Walaupun begitu, senyuman lembut masih terbit dengan cantik di wajahnya.


"Mbak?!" panggil Keisha, dari dalam kamar saat Aina sudah hampir menutup rapat pintu kamar itu.


"Oh ... aku takut mengganggu kalian. Aku hanya ingin membawakan susu untukmu." Aina menunjukkan gelas susu yang ada di atas nampan, yang dia bawa dengan kedua tangan.


Tatapan Keisha jatuh ke arah gelas tersebut. Tanpa banyak bicara, dia menyambar gelas itu dan meminum susu tersebut sampai habis tanpa sisa.


Fauzan sampai terdiam melihat hal tersebut. Padahal Keisha sangat susah disuruh makan. Tapi saat Aina membawakannya susu, dia langsung meminum itu sampai habis tanpa protes sedikit pun. Padahal tadi Keisha bilang kalau perutnya sedang sakit.


"Terima kasih, Mbak." Keisha tersenyum lebar, seakan-akan tampak sangat nyaman jika berada di dekat Aina dari pada di dekat lelaki yang sudah berusaha keras dia rebut hatinya.


Aina mengulas senyuman simpul dan menghela napas panjang. "Seharusnya kamu menghabiskan makananmu dulu, Kei. Baru setelah itu minum susu. Kenapa malah minum susu dulu sebelum makananmu habis? Kalau seperti ini, kamu pasti sudah kenyang duluan, kan?!" tuturnya, dengan suara yang sangat lembut sampai membuat Keisha terpana saat mendengarnya.


"Enggak terlalu kenyang kok. Nanti aku akan habiskan makanannya. Terus nanti kita jalan-jalan bareng ya, Mbak?!" celetuk Keisha, membuat pasangan Fauza dan Aina menjadi bingung setengah mati.


"Kamu ingin jalan-jalan dengan aku? Tidak dengan mas Fauzan saja??" tanya Aina, tampak tidak percaya dengan permintaan dari istri kedua suaminya ini.


Keisha menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Tidak! Aku ingin dengan Mbak Aina saja. Kenapa? Mbak tidak mau jalan-jalan denganku? Kata mbak Aina jalan-jalan sangat baik untuk ibu hamil. Tapi kenapa sekarang malah enggak mau?" tanyanya, dengan menunjukkan ekspresi sedih.


Aina menatap ke arah dalam ruangan, memandangmu suaminya yang menggidikkan bahu acuh dan terlihat lebih senang dengan keputusan itu, karena jatuhnya dia tidak akan di repotkan oleh Keisha.


Aina menghela napas panjang dan menganggukkan kepalanya pelan. "Baiklah, setelah kamu selesai makan kita akan jalan-jalan di luar sebentar. Nanti kalau sudah selesai, kamu bisa cari aku di ruang kerja, ya?!"


Keisha menganggukkan kepalanya antusias dan membiarkan Aina meninggalkan kamarnya dengan membawa gelas kotor bekas susu Keisha.


Dengan langkah riang gembira, Keisha kembali masuk ke dalam kamarnya dan mengambil piring yang ada di tangan Fauzan.


Selepas itu Keisha segera menghabiskan makan malamnya dan memberikan dirinya kembali pada Fauzan.


"Sepertinya kamu lebih menyukai Aina daripada suamimu ini. Kenapa? Bukannya kamu berusaha keras untuk mendapatku? Tapi sekarang kenapa berusaha sangat keras untuk bersikap baik di depan istri pertamaku?" tanya Fauzan, pak membuat kepala Keisha berpaling padanya.


"Kenapa lagi? Karena sebelumnya aku tidak pernah punya teman wanita yang tidak mengharapkan sesuatu dariku. Mangkanya aku sedikit terobsesi padanya." Keisha menatap sang suami dengan tatapan dingin. "Bagaimana ini. Zan? Sepertinya aku lebih nyaman dengan istrimu daripada dengan suamiku sendiri. Aku harap kamu tidak keberatan untuk itu, ya?!" ucapnya, di akhiri dengan senyuman lebar yang terlihat sangat cantik.


"Ya, terserah kamu saja, Kei. Lagi pula, apa yang harus aku khawatirkan? Aina memang orang yang sangat pengertian. Dia pasti tak akan membuatmu celaka. Bagaimana pun juga, bayi yang ada di dalam perutmu itu anakku dan aku harus menjaganya walau tak mencintaimu. Kamu paham, kan?" tanya Fauzan, seakan sangat jujur tentang dirinya yang tak pernah memiliki perasaan pada Keisha.


Lantas Keisha yang mengerti, karena dia tak pernah menginginkan hati Fauzan tapi hanya hartanya. Mendengar perkataan seperti itu, sama sekali tidak menyakitkan untuknya.


"Kalau itu Mbak Aina. Sepertinya tak mungkin dia menyakitiku, Zan. Dia pernah menyelamatkan nyawaku. Aku tak akan pernah menaruh curiga pada orang baik sepertinya." Keisha menatap wajah Fauzan yang tampak serius. "Percayalah padaku. Jika kamu menuduh Aina. Maka itu pasti bukan perbuatannya."


Keisha menghela napas panjang dan menatap keluar jendela. "Aku pandai menilai orang. Jadi tak mungkin aku salah sangka."


"Baiklah, terserah kamu!"