Don'T Be The Antagonist

Don'T Be The Antagonist
Kita Sama



Keisha duduk di depan kamar rawat inap Nuri bersama dengan Mbak Vina yang selalu setia menemaninya.


"Anda tidak ingin kembali saja, Non? Sepertinya Ibu dan Bapak sudah berjaga di ruangan Non Nuri. Sebaiknya kita pulang, Anda juga belum makan siang. Kasihan adik bayinya," ucap Mbak Vina, setia menatap pergerakan Keisha.


Keisha hanya diam, dia terus menatap ke dalam ruangan, tanpa berani masuk dan mengganggu keluarga kecil Aina dan Fauzan yang tengah berkumpul di keadaan berkabung.


"10 menit lagi. Nanti kalau mereka tidak ada yang keluar, kita akan langsung pulang," putus Keisha, mendapatkan uang bukan kepala dari Mbak Vina.


Keduanya kembali duduk dengan diam, sambil menatap ruangan Nuri yang terlihat tenang, karena gadis itu tidak kunjung sadar dari pengaruh obat biusnya.


"Ya sudah, ayo balik sekarang, Mbak. Aku juga sudah lapar," ucap Keisha, tangki dari tempatnya diikuti oleh Mbak Vina.


Baru tiga langkah sejak mereka meninggalkan ruangan Nuri, tiba-tiba seorang anak lelaki keluar dan menatap Keisha dan Mbak Vina yang mulai berjalan meninggalkan ruangan tersebut.


"Bunda mau pulang?" tanya Alva, membuat kedua wanita itu menoleh dan Keisha tersenyum kepadanya.


"Ya, Bunda mau balik sekarang, Al. Nanti pamitkan Mama dan Ayah kamu ya," ucap Keisha, memperhatikan Alva yang berjalan mendekat ke arahnya.


Alva menganggukkan kepalanya mengerti, dan melambaikan tangannya, membiarkan kedua wanita itu, kembali melangkah pergi meninggalkan lorong.


Alva menatap lama sosok Keisha, yang berjalan pergi berdampingan dengan Mbak Vina. "Bun," panggilnya, membuat langkah kedua wanita itu berhenti secara spontan.


Keisha kembali menoleh, menatap Alva dengan tatapan bertanya-tanya. "Kenapa? Mau ikut Bunda pulang ke vila?" tanyanya, mendapatkan anggukkan kepala dari Alva.


"Iya, Alva mau ikut Bunda pulang. Bolehkan?" tanya Alva, hanya mendapatkan senyuman sekilas dari lawan bicaranya.


"Oke, tunggu dulu. Alva mau minta izin sama Mama sebentar," ucap Alva, segera berlari masuk ke dalam kamar adiknya dan meminta izin kepada kedua orang tuanya.


"Ma, Alva boleh ikut Bunda pulang ke vila tidak? Di rumah aku kan sendirian, Mama sama Ayah pasti nungguin Nuri di rumah sakit. Jadi, aku boleh ikut sama bunda tidak?" tanyanya, dengan tampang memelas.


Aina menatap ke arah suaminya sejenak, sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya dan berjalan mendekat ke arah putra sulungnya.


"Bunda kamu mana?" tanya Aina, tambak sangat biasa mengakui Keisha sebagai ibu kedua dari anak-anaknya.


"Itu di depan sana, sama Mbak Vina. Kenapa? Mau aku panggilkan?" tanya Alva, menatap wajah Aina yang terlihat lemas dan sedikit pucat.


Aina menganggukkan kepalanya dan membuat Alva berlari pergi menemui Keisha, membawa wanita itu ke hadapan ibunya.


"Iya, Mbak? Kenapa?" tanya Keisha, menatap Aina dengan tatapan sopan dan terkesan kalem.


Seakan-akan, Keisha tidak mempunyai rasa dendam atau sikap permusuhan kepada istri pertama dari calon suaminya ini.


"Nitip Alva selama aku dan Mas Fauzan di rumah sakit nungguin Nuri, ya? Enggak papa, kan?" tanya Aina, benar-benar menunjukkan wajah yang memprihatinkan.


Keisha mengangguk singkat, tidak keberatan jika keluarga Aina sedikit menyusahkannya.


Aina menghela napas lega, dan tersenyum lembut kepadanya. "Terima kasih, Keisha. Besok setelah aku memastikan Nuri baik-baik saja, aku akan mampir ke vila untuk membahas beberapa hal denganmu. Luangkan waktu mau di sore atau malam hari, ya?"


Keisha langsung menganggukkan permintaan itu. Menerimanya dengan mudah, tanpa berniat untuk menolaknya.


"Oke. Aku tidak memiliki kegiatan di vila, jadi Mbak Aina tidak perlu khawatir dan datang saja. Aku akan tunggu di vila," ucap Keisha, tampak rukun dengan Aina.


Alva langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat dan menggandeng tangan Keisha, mengajak wanita itu untuk meninggalkan tempat mereka.


Mbak Vina izin untuk mengambil mobil di perkiraan, sementara Keisha dan Alva diminta untuk menunggu di depan gedung rumah sakit saja.


Karena kondisi Keisha yang mengandung, Mbak Vina tidak pernah membiarkan wanita itu merasa kelelahan, walaupun mereka berdua sering sekali bertengkar jika memulai pembicaraan.


"Weh, Va? Kamu di sini? Sama siapa nih, cewek baru kamu?" celetuk seorang anak remaja, tiba-tiba langsung merangkul pundak Alva dan bersikap sok akrab dengannya.


Alva langsung menatapnya dengan tatapan tajam, begitu pula dengan Keisha yang melihat anak remaja itu dengan tatapan tidak senang.


"Teman kamu, Al?" tanya Keisha, membuat Alva segera menggelengkan kepalanya kuat, menolak argumen tersebut.


"Bukan, Bun. Mana mau Alva punya teman kayak dia? Hobinya aja malak, belajar juga enggak pernah, ujian pun nilainya merah semua! Kalau Alva berteman dengan orang kaya dia, adanya masa depan Alva hancur enggak karuan!" celetuk Alva, langsung membuat anak lelaki itu melepaskan rangkulannya.


"Ngomong apa kamu barusan? Kamu meledek?" seru anak lelaki itu, menatap Alva dengan tatapan tidak senang.


Namun Alva hanya menghiraukannya, dan segera membawa Keisha masuk ke dalam mobil saat Mbak Vina datang menjemput mereka.


Anak lelaki yang tadi bersikap sok akrab dengan Alva, akhirnya menatap keduanya dengan tatapan benci. Seakan menyatakan, jika dia akan membuat perhitungan dengan keduanya.


"Siapa, Den?" tanya Mbak Vina, menatap ekspresi wajah anak lelaki yang ada di luar mobil mereka dengan tatapan aneh.


Karena ekspresi wajah anak lelaki itu benar-benar sangat membuat Mbak Vina merasa janggal dan aneh.


"Orang gila. Udah enggak usah diperhatikan, Mbak. Jalankan aja mobilnya. Aku sama Bunda sudah lapar. Sebaiknya kita segera pergi untuk mencari makan siang," ucap Alva, menatap kesel teman lelakinya, yang masih setia berdiri di posisinya.


"Ck, awas aja kamu, Alva! Aku pastikan, mulai besok harimu tidak akan tenang lagi," batin anak lelaki itu, penuh dendam.


***


"Tadi itu siapa?" tanya Keisha, untuk kedua kalinya.


Alva menoleh pada wanita itu dengan tatapan malas, malas membahas siapa identitas teman lelakinya tadi.


"Bunda ingin tahu atau ada yang ingin di selidiki?" tanya Alva, memancing emosi.


Keisha menaikkan sebelah alisnya, melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Alva dengan tatapan meremehkan.


"Kenapa tiba-tiba kamu bersikap sewot? Kamu tidak ingin menjawab pertanyaan Bunda? Padahal menyebutkan nama, bukanlah hal yang sulit, kan?" tanya Keisha, membuat Alva mendengus kasar.


"Aku tidak ingin memperkenalkan berandalan sepertinya pada keluargaku," celetuk Alva, memalingkan wajahnya, menghindari tatapan menyelidik Keisha.


Keisha menaikkan sebelah alisnya, memandang Mbak Vina yang terus memperhatikan mereka dari kaca spion tengah.


"Hemph, baiklah kalau kamu tidak ingin mengatakannya. Tapi ingat pesan, Bunda." Keisha menatap angkuh pada Alva. "Orang sepertinya, tidak akan membiarkan kamu begitu saja. Terlebih, setelah kamu mempermalukannya seperti tadi," celetuknya, membuat Alva menoleh.


"Bunda menakutiku?" tanya Alva, tampak acuh.


Keisha menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak. Bunda tidak memiliki niat menakutimu, Al. Bunda hanya memberi tahu. Karena orang seperti dia, sama seperti Bunda. Orang yang pendendam!" serunya, tampak serius.