Don'T Be The Antagonist

Don'T Be The Antagonist
Milik Izra



"Hem, suamimu tidak balik-balik? Ke mana dia pergi?" tanya Mirza, menatap wajah Keisha yang baru menyadari hal itu setelah Mirza mengatakannya.


"Oh, benar juga. Ke mana ya? Apa mungkin boker??" celetuk Keisha, dengan suara begitu nyaring, sampai beberapa orang di sekitar mereka menolak ke arahnya.


Mirza menepuk keningnya ampun, menutupi wajahnya dengan kedua tangan sambil menunduk sedikit. "Kei, kalau kamu malu-maluin sekali lagi, aku tinggal nih!"


Keisha hanya terkekeh geli dan meminta maaf padanya. "Hehehe, baiklah-baiklah maafkan aku. Aku hanya bercanda, itu orangnya balik!" ucapnya, menunjuk ke arah pintu masuk dengan gerakan dagu.


Mirza menoleh ke arah datangnya Fauzan, sejenak dan kembali melihat pada Keisha. "Karena suamimu sudah kembali, aku akan pergi sekarang."


Fauzan menatap Mirza yang berdiri saat dia kembali, langsung mempercepat langkahnya. "Mau ke mana, Tuan Mirza? Anda sudah selesai sarapan?" tanyanya, ramah.


Mirza mengapa petunjuk waktu yang melingkar di pergelangan tangan kirinya sambil berkata, "Iya, Tuan. Saya harus ke lokasi pemotretan sekarang. Jika tidak, saya pasti akan terlambat."


"Baiklah, selamat jalan," ucap Fauzan, sementara Keisha hanya melambaikan tangannya saat Mirza meninggalkan meja mereka.


Fauzan kembali duduk di depan Keisha, menatap wanita yang sedang memakan makanan penutupnya dengan tatapan yang lebih tenang.


"Kabar baik?" tanya Keisha, mendapatkan anggukkan kepala dari suaminya.


"Syukurlah kalau begitu. Apa kata mereka?" tanya Keisha, lagi.


"Istriku sedang sibuk mempersiapkan proyek baru. Walau kemarin dia sakit, tapi kata Alva hari ini dia baik-baik saja. Sudah sehat seperti semula," jelas Fauzan, menjawab.


Keisha kembali menganggukkan kepalanya mengerti, dan menatap ke arah depan melihat lelaki yang lagi-lagi dia temui, walaupun sangat enggan untuk melihat wajahnya.


"Kenapa dia ada di sini?! Apa hotelnya benar-benar dekat hotel kami?" batin Keisha, melihat sosok Jendra yang baru saja masuk ke Cafe tempat mereka sarapan pagi ini. 


"Mas, sebaiknya kita pergi sekarang deh. Lelaki itu ada di sini lagi," celetuk Keisha, dengan nada tidak bersahabat.


Fauzan menoleh ke arah belakang, memperhatikan lelaki yang dimaksud Keisha. "Oh, pantas ekspresi wajah mau berubah drastis. Ternyata kamu bertemu musuh bebuyutanmu," pekiknya, setengah terkekeh sambil bangkit dari tempat duduknya.


Keisha membereskan barang-barangnya dan segera pergi dari tempat itu bersama suaminya.


"Tidak masalah. Itu akan jauh lebih baik daripada bertatap muka dengan lelaki itu. Ayo cepat pergi, sebelum dia melihat kita." Keisha memutuskan, dia menyeret Fauzan dengan mencengkeram bagian lengan bajunya.


***


"Ka, kamu mau ke mana pulang sekolah ini? Beberapa hari yang lalu kita pergi ke game canter, kamu mau ikut dengan kami hari ini?" tanya Vega, menata teman lelakinya yang sibuk membaca buku di samping Izra.


Yaka menoleh sejenak dan mengangguk singkat. "Tidak masalah, hari ini aku tidak ada les. Jadi aku bebas hari ini. Tapi tetap saja, jam malam di rumahku masih berlaku!" ucapnya, menjelaskan kalau-kalau dia harus pulang lebih cepat daripada teman-temannya.


"Hem, tapi maaf, sepertinya hari ini aku tidak bisa pergi bersama kalian," sahut Izra, membuat ketiga temannya menatap dirinya dengan kecewa.


"Kenapa?" serempak mereka, memprotes.


Izra menggaruk kepala bagian belakangnya yang terasa sedikit gatal.


"Em, sebenarnya hari ini aku harus mengunjungi perusahaanku. Perusahaan rintisan yang sudah aku bangun selama 3 tahun terakhir. Ya walaupun masih belum berkembang secara pesat, tapi perusahaan kami sudah cukup memiliki nama di dunia bisnis. Maafkan aku, aku tidak bisa pergi bersama kalian," ucap Izra, benar-benar merasa bersalah.


"Perusahaan rintisan? Tiga tahun terakhir? Berarti saat usiamu 13 tahun, kamu sudah berusaha membangun perusahaan sendiri?!" pekik Yaka, terkejut bukan main.


Begitu pula dengan Neal dan Vega yang hanya bisa menyaksikan keduanya berargumen dengan mulut yang setengah terbuka.


"Hehehe, lebih tepatnya saat usiaku 12 tahun. Saat itu aku melihat Mamaku sangat keren di posisi Direktur Utama. Jadi diam-diam, aku dan beberapa kenalanku yang usianya lebih dewasa dariku, mencoba membuat beberapa aplikasi. Dan siapa yang tahu, jika itu akan berhasil membuat nama perusahaan kami cukup dikenal. Sampai Mama dan Ayahku kaget saat tahu perusahaan itu adalah milikku," jelas Izra, terus menunjukkan ekspresi wajah masam.


"Wah ... apa itu perusahaan game? Apa kami boleh pergi ke sana? Izinkan kami melihatnya, aku juga ingin melihat bagaimana perusahaan yang dibangun temanku. Boleh ya?!" ucap Vega, menujukan wajah sok imut, yang terkesan memaksa.


Izra tersenyum masam dan berkata, "Baiklah, asal kalian tidak keberatan dengan perjalanan yang cukup jauh."


"Tidak apa!" sahut Neal, sangat bersemangat.


"Tentu itu tidak akan menjadi masalah untuk kami. Kamu tenang saja!" sahut Vega, menimpali perkataan Neal dengan cepat.


"Baiklah, kalian bertiga boleh ikut aku ke sana nanti," ucap Izra, memutuskan.