Don'T Be The Antagonist

Don'T Be The Antagonist
Waspada



Brak ....


"Terima kasih sudah mengantar, kamu mau mampir dulu?" tanya Keisha, pada lelaki yang baru saja mengantarnya pulang.


Karena Keisha di tinggal Fauzan, serta para bodyguardnya. Di tambah, dia tak berhasil mendapatkan taksi di sana.


"Boleh?" tanya Mirza, menatap Keisha yang tampak biasa saja dalam bersikap kepadanya.


Padahal dulu Keisha sangat enggan berurusan dengan para mantannya. Apa mungkin karena dia akan menikah? Karena itu dia tak terlalu memedulikan mereka lagi?


"Masuk saja. Aku tidak tinggal sendiri di sini, kamu bisa mampir untuk minum sebentar. Mau atau tidak?" tanya Keisha, menunggu jawaban Mirza.


Lelaki berambut panjang, sebahu itu, menatapnya dengan tatapan lekat, beberapa saat. Sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya.


"Oke. Aku parkir dulu," ucap Mirza, segera menatap mobilnya di pekarangan rumah Keisha.


Keisha menunggu di depan pos satpam, membuat Pak Wanto keluar dan menghampirinya.


"Siapa yang datang, Non?" tanya Pak Wanto, dengan sopan.


Keisha menoleh padanya, menatap salah satu penghuni villa yang bisa bersikap baik kepadanya dengan baik. Tidak seperti Mbak Vina yang selalu julid dan ketus kepadanya.


"Teman saya, Pak. Tadi saya di antar pulang. Jadi saya tawarkan masuk untuk minum, tidak apa, kan?" tanya Keisha, menatap lelaki berusia 38 tahun itu dengan tatapan berharap.


Pak Wanto menganggukkan kepalanya pelan. "Tidak masalah, Non. Nyonya dan Tuan tidak pernah melarang untuk tamu Non Keisha masuk dan bertamu. Jadi silakan saja," jelasnya, ramah.


Pak Wanto menatap sebuah mobil yang baru datang dengan tatapan senang. "Oh, Nyonya datang," ucapnya, segera bergegas mendekati mobil Aina dan membukakan pintu untuknya.


Keisha yang melihat itu hanya diam dan memperhatikan Mirza yang tampak bingung melihat kedatangan Aina di sana.


Aina keluar dari mobil, setelah Pak Wanto membukakan pintu untuknya. "Terima kasih, Pak. Keisha sudah sampai di rumah?" tanyanya, begitu turun dari mobil.


"Itu, Non Keisha hanya ada di sana, Nyonya. Tapi, Non Keisha kedatangan tamu. Jadi, sepertinya Nyonya harus antri," celetuk Pak Wanto, di sertai gurauan.


Aina hanya tersenyum dan menepuk pundak Pak Wanto. "Bapak ini bisa saja. Kalau begitu saya temui Keisha dulu–"


Aina terdiam, menatap sosok Mirza yang tak melepaskan pandangan matanya dari Aina.


"Assalamualaikum, dengan siapa?" tanya Aina, sopan.


Mirza mengerjapkan matanya dan segera menoleh ke arah Keisha yang berdiri di dekat pos satpam.


"Wa-waalaikumsalam, saya temannya Keisha, Mbak. Maaf mengganggu," ucap Mirza, pada Aina yang berdiri di hadapannya, menatapnya dengan lekat.


"Oh, kamu temannya Keisha. Ya sudah, jangan diam saja di sana. Masuk aja, silakan," ucap Aina, membimbing langkah Mirza memasuki pekarangan rumah dan berjalan mendekati Keisha.


"Kei, teman kamu di minta masuk saja. Mbak cuman mau kasih ini ke kamu, terus mau balik lagi ke kantor. Ada pekerjaan yang harus Mbak kerjakan." Aina menatap jam yang melingkar di tangannya dan menghela napas panjang. "Belum jemput Nuri juga, jadi Mbak langsung balik ya?!" ucapnya.


Keisha menerima amplop coklat yang di berikan oleh Aina dan membuka berkas itu, dengan segera.


"Mbak, ini apa?" tanya Keisha, menatap Aina yang berjalan kembali mendekati mobilnya dengan tatapan nanar.


"Kenapa nangis? Seharusnya kamu senang, kan? Aku sudah selesaikan permasalahan kamu," ucap Aina, tersenyum lembut melihat Keisha yang menangis tanpa mengeluarkan suara.


"Dengan cara apa Mbak memaksa lelaki itu tanda tangan? Saya saja tidak pernah bisa berkompromi dengan dia. Tapi–" Keisha menghentikan perkataannya dan hanya bisa menangis sejadi-jadinya.


"Tiga bodyguard kamu memberitahu tentang perlakuan kasar Pak Gary. Jadi aku memikirkan solusinya. Dan sekarang semua sudah beres, kamu tidak perlu takut jika dia datang untuk memeras kamu. Kamu tinggal hubungi aku, dan akan aku selesaikan sampai ke akarnya," ucap Aina, menepuk-nepuk pundak Keisha, menabahkan.


"Terima kasih, Mbak. Maaf sudah membuat Mbak repot," ucap Keisha, menghentikan tangisannya dan menatap Aina dengan senyuman lembut.


Aina balas tersenyum dan mengusap puncak kepalanya sayang, selayaknya seorang Kakak dalam memperlakukan Adiknya.


"Jangan sungkan. Kalau begitu, aku akan pergi. Masuklah, di luar dingin. Pastikan kamu tidak terserang flu, minta Mbak Vina nyalakan perapian jika kamu merasa vilanya dingin," ucap Aina, sambil melambaikan tangannya dan berjalan pergi ke mobil.


Keisha balas melambaikan tangannya, dan menatap kepergian Aina sampai mobilnya hilang dari pandangan Keisha.


Keisha mengusap ingusnya dengan sapu tangan Aina dan menatap selembar kain yang memiliki aroma wangi lembut khas Aina itu dengan tatapan sendu.


"Drama yang mengejutkan. Kamu sedang berakting baik di depannya?" tanya Mirza, setengah menyindir.


Keisha menatap lelaki itu dengan tatapan dingin, memperlihatkan wataknya yang sesungguhnya.


"Tidak. Aku selalu tulus padanya." Keisha menatap ke arah gerbang, tempat terakhir kali Keisha melihat mobil Aina. "Kamu pasti heran kenapa aku dapat bersikap sebaik itu padanya."


Mirza menaikkan sebelah alisnya, menyunggingkan senyuman culas dan menatap Keisha dengan tatapan tak percaya.


"Cih, padahal kamu datang sebagai pelakor. Tapi istri sah calon suami kamu malah memperlakukan kamu dengan baik? Wah, keberuntungan yang tiada duanya. Kamu pasti sangat berterima kasih padanya, sampai-sampai ingin bersujud, kan?" celetuk Mirza, mengikuti Keisha yang berjalan masuk ke dalam rumah.


"Tidak sampai bersujud. Aku juga bisa merasakan, di balik sikap baiknya, dia memiliki rencana besar untukku. Aku bersikap baik karena dia baik! Tapi bukan berarti aku tak mempersiapkan diri untuk melawannya, jika dia mulai menyerangku. Bagaimana pun juga, aku harus tetap waspada."


Keisha menghela napas panjang dan menatap Mirza yang berjalan di sampingnya dengan tenang, dan mendengarkan ceritanya dengan baik.


"Aina juga manusia. Dan setiap manusia punya sikap serakah dan busuknya sendiri-sendiri. Apa lagi dia orang pebisnis! Pasti dia memiliki rencana besar yang akan merugikanku, nantinya. Jadi aku harus bersiap, selagi dia menganggapku lemah, kan?" lanjutnya, menyunggingkan senyuman angkuh.


Mirza menggelengkan kepalanya pelan, menunjukkan sikap kagum pada Keisha yang bisa tetap waspada, padahal dia sedang dalam istana berlian yang menghilangkan keraguan.


"Memang manusia dengan peran antagonis sejati." Mirza membuat Keisha meliriknya tajam. "Aku yakin tidak ada yang bisa mengalahkan kamu dalam bidang ini. Cih, membuatku salut saja," celetuknya, memuji dengan cara yang unik.


Keisha tersenyum miring. "Mau bagaimana lagi? Ini adalah caraku bertahan hidup sehak bertahun-tahun lamanya. Jika tidak handal berlakon, pasti aku sudah hancur dan menjadi gelandangan di jalanan, kan?"


Mirza mengangguk, hendak memuji Keisha kembali. Namun saat hendak masuk ke dalam rumah, mereka berdua di buat terkejut dengan kehadiran seorang wanita yang tampak dingin saat menatap mereka.


"Jika berencana jahat, lakukan diam-diam. Jangan berbicara dengan mulut sekeras toak! Kalian ingin saya adukan pada Nyonya?" celetuk Mbak Vina, menatap Keisha tajam.


"Padahal Nyonya sudah sangat baik pada Anda. Tapi yang namanya hati busuk, tetap tidak akan sembuh walau di siram dengan air susu! Adanya tambah meradang dan terus memunculkan curiga. Hahh ... punya Nyonya Muda kok wataknya bengis sekali, tobat ... tobat!" cibir Mbak Vina, melanjutkan perkataannya, sambil berlalu pergi meninggalkan kedua orang yang tampak syok karena sindirannya.


"Dia pembantu?" tanya Mirza, menatap Keisha dengan tatapan terkejut.


Keisha mengangguk pelan. "Epik, kan?" celetuk, mengundang anggukan kepala Mirza.


"Epik pakai banget!"