Don'T Be The Antagonist

Don'T Be The Antagonist
Seperti Psikopat



"Ma, mama yakin akan baik-baik saja?" tanya Alva, menatap kondisi Aina yang hanya bisa terbaring lemah di atas ranjang selama 2 hari.


Aina mengganggu pelan, menatap kedua putranya yang berdiri di sisi kanan ranjangnya dengan senyuman lembut.


"Kalian berangkatlah ke sekolah, 30 menit lagi sekolah kalian akan masuk. Jangan sampai terlambat hanya karena menunggu Mama di sini. Ada Mbok Yanti dan yang lainnya di rumah, Mama makan baik-baik saja, Nak," ucap Aina, membujuk kedua putranya yang enggan pergi ke sekolah dan ingin menunggunya di rumah saja.


Izra menyenggol siku Kakak lelakinya, membuat Alva menoleh padanya dan menatapnya dengan tatapan bertanya.


"Kenapa?" tanya Alva, setengah berbisik.


"Ayo berangkat sekolah saja. Jangan membuat Mama menghabiskan lebih banyak tenaga karena meminta kita pergi ke sekolah," bisik Izra, di dekat telinga Kakaknya.


Alva menghela napas panjang, dan mengangguk setuju dengan keputusan sang Adik.


"Baiklah, kami berdua berangkat ke sekolah dulu ya, Ma. Jangan terlalu banyak pikiran dan istirahat saja. Nanti setelah pulang sekolah aku akan langsung pulang!" ucapnya, sambil menyelami tangan Aina.


Izra dan Alva berjalan keluar dari kamar sang ibu, turun ke lantai satu untuk bertemu dengan pembantu mereka, Mbok Yanti.


"Mbok, titip Mama dulu ya. Nanti setelah pulang sekolah kami berdua tahun pulang, kami tidak akan lama," ucap Alva, dengan raut wajah cemas.


Mbok Yanti menganggukkan kepalanya mengerti dan mengusap punggung Alva yang terlihat sedih nan sendu, saat melihat ibunya.


"Iya, Den. Anda tidak perlu mencemaskan Nyonya. Saya akan menjaganya selagi kalian berdua pergi sekolah," ucap wanita paruh baya berusia 56 tahun itu kepada keduanya.


Izra dan Alva menyalami wanita itu sebelum akhirnya pergi meninggalkan rumah, untuk pergi ke sekolah.


Sesampainya keduanya di sekolah ....


Alva dan Izra turun dari mobil. Alva langsung disambut oleh teman-temannya, sementara Izra dijemput oleh Kepala Sekolah di depan gerbang secara khusus.


"Selamat datang di sekolah ini. Bapak sudah mendengar banyak tentang kamu dari Nyonya Aina. Sekolah kami sangat bersyukur kedatangan murid sepintar kamu. Kami berharap kamu tetap bisa mempelajari ilmu baru walaupun Mungkin kamu sudah mempelajari materi pelajaran kami di sekolah luar negerimu di sana," ucap Kepala Sekolah, sambil mengulas senyuman lembut.


"Alva, siapa yang datang bersamamu itu?" tanya seorang anak lelaki memaksa Alva untuk berada di dekatnya.


Izra yang pengatur bicara dengan Kepala Sekolah, sesekali melirik ke arah Kakak lelakinya yang tampak tertekan dengan beberapa orang yang sempat dia kira temannya.


"Apa mereka bukan teman-teman Alva? Kenapa raut wajahnya terlihat tertekan seperti itu? Jangan-jangan mereka orang yang mengganggunya?" batin Izra, sambil melangkah pergi mengikuti langkah Kepala Sekolah.


Alva melirik ke arah Sion, ketua klub basket yang sama sekali tidak ramah di belakangnya tapi terlihat begitu akrab saat di depan orang-orang.


Alva melepaskan tangan Sion dari lehernya, dan menjaga jarak dari lelaki itu beberapa langkah.


"Jangan sok akrab denganku. Terutama di depan Adikku! Kamu akan mendapatkan balasan yang tidak akan bisa kamu perkirakan."


Sion yang melihat kobaran amarah dari kedua manik mata Alva, akhirnya tersenyum culas, menertawakan amarah yang terlihat sama sekali tidak menakutkan baginya itu.


Sion mendekat kembali pada Alva, mendekatkan wajahnya sambil menunjukkan ekspresi tidak bersahabat. "Kau baru saja mengancamku?" tanyanya, penuh tekanan.


Alva tidak bergeming, dia hanya dia menatap wajah Sion dengan kedua mata yang fokus pada mata lawan bicaranya.


Sion menarik wajahnya, model beberapa langkah dan kembali tersenyum miring. "Wah, tampaknya kamu telah menguasai sesuatu. Lihatlah ekspresi wajahmu! Kamu terlihat sama sekali tidak takut denganku sekarang ini. Hem, walaupun menarik, tapi aku tidak suka!"


Sion hampir melayangkan tinjunya jika saja Izra tidak menghalangi tangannya mengarah pada wajah Alva.


Sorot mata yang mengerikan terlihat jelas di kedua manik mata Izra. Lelaki itu benar-benar terlihat ingin dan menakutkan. Seperti seseorang yang tidak akan pandang bulu untuk menghajar siapa pun, asal mereka mengganggu ketenangannya terlebih dahulu.


"Kau, apa yang ingin kau lakukan pada Alva? Apa menurutmu hidup panjang w itu akan terus berlangsung setelah kamu berbuat sesukamu?" seru Izra, terlihat sangat menakutkan dan karismatik saat mengatakan hal tersebut.


Sion menaikkan sebelah alisnya, menatap Izra yang memiliki tekanan dan karisma yang begitu kuat! Sampai-sampai membuatnya tidak bisa berkutik, dengan tatapan tertarik.


Sion mendekat kembali ke arah mereka, namun kali ini targetnya adalah Izra, yang sudah bersikap sok berani di depan dirinya.


Sion mendekatkan wajahnya pada Izra yang ternyata memiliki tinggi yang sama dengannya. Kedua sorot mata lelaki itu terlihat sangat mengerikan jika dipadu dengan suasana tegang di sekitar mereka.


"Berani sekali anak baru sepertimu melawanku? Kamu tidak tahu siapa aku?" tanya Sion, hendak menyombongkan diri tentang pekerjaan orang tuanya.


Izra hanya tersenyum simpul, menatap Sion dengan tatapan yang tak kalah tajam dan membuat suasana di sekitar mereka semakin memburuk.


"Memangnya kenapa jika aku sudah mengetahuinya? Makan sebelum aku mengetahui siapa ayahmu, siapa ibumu, dan siapa keluargamu yang lain! Aku bisa membeli semua yang mereka miliki dengan beberapa lembar kertas yang aku punya di dalam dompetku! Hah, kau kira aku sama seperti Alva yang lebih memilih diam daripada meributkan sesuatu yang tidak penting?"


Izra mendekat setengah langkah ke arah Sion, menatapnya dengan tatapan yang lebih mengerikan dari milik lawannya.


"Kau kira aku akan diam saja jika melihatku diganggu seseorang? Jangan salah sangka, aku bukanlah orang yang suka di tindas. Tapi sebaliknya, aku sangat suka menindas! Dan karena kamu mengganggu ketenanganku. Jadi biar aku ucapkan. Selamat datang di neraka! Mari kita lihat, seberapa hebatnya kamu bertahan!"


Kedua manik mata Izra seakan bersinar terang, seperti ada kembang api di dalam matanya.


"Tunggulah waktuku bermain! Aku akan membuatmu sangat menderita!"