
Brak ....
Fauzan mengerutkan keningnya dalam, mengambil langkah mundur beberapa langkah, bersiap untuk mendobrak pintu itu.
Sementara Fadil sudah menghubungi dokter keluarga mereka, sesuai permintaan Fauzan.
"A-apa yang terjadi di dalam?" tanya Keisha, pada Mbok Yanti yang datang mendekat padanya.
"Itu– Non, biasanya Nyonya–"
Klek ....
Pintu di buka, membuat seorang wanita keluar dari dalam ruangan itu dengan tangan yang terluka, bahkan darahnya sampai menetes ke lantai.
Fauzan yang hendak mendobrak, akhirnya mengurungkan niatnya dan menatap sosok Aina yang keluar dengan menjulurkan tangannya yang berdarah, agar darahnya tidak mengenai pakaiannya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Fadil, menatap tangan adik iparnya yang mendapat luka gores cukup panjang dan dalam.
"Iya, tapi ada cecak di atas meja rias. Jadi tangan aku enggak sengaja mukul vas bunga," jelas Aina, membuat Fauzan yang mati membeku, langsung menghela napas lega dan memeluknya erat.
"Alhamdulillah, aku kira kamu kenapa. Tangannya sakit?" tanya Fauzan, melepaskan jasnya dan membuat benda itu menjadi bahan balutan tangan Aina yang terluka.
"Kalau kamu tekan, pasti sakit. Jangan terlalu di tekan, aku mau cuci tangan di kamar mandi. Mau seka darahnya dulu," ucap Aina, menarik tangannya keluar dari jas Fauzan.
"Aku ikut," ucap Fauzan, menyusul Aina masuk kembali ke dalam kamar tersebut dan mengikutinya masuk ke kamar mandi.
Sebelum itu, Fauzan sempat menatap ruangan pribadi Aina yang jarang boleh di masuki orang lain dengan teliti. Melihat apakah ada yang janggal atau tidak di tempat itu.
"Lihat apa?" tanya Aina, menatap suaminya yang berhenti di tengah-tengah ruangan dan menatap sekelilingnya dengan cermat.
Aina hanya diam, tak menggubrisnya dan membiarkan Fauzan membantunya membersihkan darah di tangannya.
"Biarkan Mbok Yanti masuk. Kalau di meja rias kamu sudah ada cecak, berarti kamar ini perlu di bersihkan," ucap Fauzan, tanpa menghilangkan fokusnya dari tangan Aina.
Aina menghela napas lembut. "Iya. Aku akan minta Mbok Yanti membersihkan kamarnya."
Setelah itu Aina diam, memperhatikan Fauzan yang terus membasuh tangannya yang berdarah, sampai darah itu tidak lagi keluar.
"Sayang," panggil Fauzan, membuat Aina mendongak dan menatapnya.
Cup ....
Fauzan mengecup bibir tipis milik sang istri, mengulas senyuman lembut dan menatap kedua mata coklat milik wanita cantik itu dengan lekat.
"Kenapa tiba-tiba?" tanya Aina, memiringkan kepalanya, menatap Fauzan dengan tatapan heran.
"Kangen," jawab Fauzan, merengkuh pinggang ramping itu mendekat padanya dan memeluknya erat.
"Sejak pertengkaran Keisha, kamu tidak pernah manja. Istriku yang manja dan tegas. Aku merindukannya," bisik Fauzan, memeluk Aina semakin erat. Seakan-akan dia tahu Aina akan semakin menjauh jika dia tidak menggenggamnya erat-erat.
"Itu karena kamu membuatku marah dan cemburu." Aina menenggelamkan kepalanya pada bahu Fauzan dan menghirup aroma pakaian suaminya dalam-dalam. "Aku marah, tapi tidak bisa mengatakan dan melampiaskannya karena kamu suamiku."
Aina menghela napas kasar. "Aku tidak ingin jadi istri kurang ajar hanya karena amarah dan egoku. Aku berusaha menahan semuanya sendiri," jelasnya, melanjutkan.
Fauzan diam, menatap sendu tubuh mungil Aina yang ada di dalam pelukannya. "Maaf, aku gagal menjaga perasaanmu."
"Iya. Aku tahu kamu di jebak olehnya." Aina menelan ludahnya susah, ada rasa sakit yang menyangkut di tenggorokannya. "Karena itu aku semakin takut kamu di rebutnya. Maaf, Mas."