Don'T Be The Antagonist

Don'T Be The Antagonist
Pertanyaan Yang Berat



Tok ... tok ....


Keisha segera terbangun dari tidurnya dengan cara memaksa. Ketukan itu sudah dia dengar sejak tadi, tapi tampaknya si penganggu memiliki jiwa yang kukuh.


"Sebentar," ucap Keisha, segera beranjak turun dari ranjang dan berjalan ke arah pintu, untuk membukanya.


Klek ....


Kedua mata Keisha membelalak kaget, menatap Aina berdiri di luar kamarnya dengan tatapan bosan.


"Kenapa masih tidur? Kamu sangat lelah?" tanya Aina, menghela napasnya panjang dan lelah.


Keisha terdiam, tampak gugup dan gagap ketika hendak menjawab pertanyaan itu.


"Bersiap dan turunlah. Ayo sarapan denganku. Ada yang mau aku bicarakan denganmu," ucap Aina, tampak santai, tapi masih terlihat tegas dan anggun.


Keisha hanya mengangguk dan memandangi Aina sampai wanita itu menuruni tangga.


Keisha menghela napas lega, dan segera beranjak masuk untuk bersiap seperti permintaan Aina.


"Jangan sampai dia menunggu. Aku tak mau membuat masalah dengannya!" batinnya, terburu-buru.


***


Keisha menuruni tangga dengan cepat, membuat Aina yang duduk di meja makan bersama dengan Mbak Vani, menoleh ke arahnya dengan tatapan mengamati.


"Kamu boleh pergi, Mbak. Saya mau bicara dengan Keisha dulu," ucap Aina, dengan sopan.


Mbak Vina segera bangkit dari tempat duduknya, berjalan pergi meninggalkan Keisha dan Aina berdua saja di dalam rumah itu.


"Duduk, kenapa malah berdiri di sana? Kamu kan bukan karyawan TA lagi. Perlakukan aku seperti Kakak perempuanmu saja," ucap Aina, tampak santai dan anggun.


Keisha pun duduk di hadapan Aina, memandang apa yang di lakukan wanita itu dengan saksama, sampai akhirnya Aina kembali menatapnya dengan serius.


Keisha mengangguk, menatap Aina dengan tatapan serius. Bersiap mendengarkan apa yang akan di katakannya dengan baik.


"Besok kamu dan aku akan pergi ke toko gaun. Mencoba gaun pernikahan dan melihat gedung pernikahanmu," ucap Aina, membuat Keisha membulatkan matanya dengan sempurna.


"Me-melihat gedung dan ke toko gaun? Memangnya kapan pernikahan saya akan di adakan?"  tanya Keisha, tampak gugup.


"Seminggu lagi. Aku yang meminta waktunya di percepat. Toh, semakin cepat semakin baik! Kamu juga harus memikirkan usia kandungan dan besar perutmu jika ingin menyembunyikan kehamilanmu dari orang-orang," ucap Aina, kembali mengambil gelas tehnya, dan meminumnya dengan anggun.


Keisha mengambil segelas air putih, menegaknya hingga tandas dan masih tak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.


"Tapi saya belum mengatakan apa pun pada keluarga saya," ucap Keisha, dengan wajah tertekan.


"Keluarga?" Aina mengerutkan keningnya dalam, menatap Keisha dengan tatapan tak mengerti. "Bukankah kamu anak yatim piatu yang di besarkan di panti asuhan?" tanyanya, heran.


"Benar. Tapi tetap saja, saya ingin meminta izin ke kepala panti sebelum menikah. Saya harap Anda memperbolehkannya," ucap Keisha, tampak gelisah.


Aina menghela napasnya panjang. "Baiklah, aku akan mengizinkannya. Bawa Mas Fauzan juga saat kamu meminta izin. Bagaimana pun juga, Fauzan adalah calon suami kamu. Dia harus memiliki sopan santun kepada orang yang kamu anggap penting," jelasnya, panjang.


Keisha menelan ludahnya kasar. "Sa-saya boleh membawa Pak Fauzan pergi dengan saya ke panti asuhan?"


Aina mengangguk mantap. "Dia wajib meminta izin kepada walimu. Aku akan mengatakannya pada Fauzan nanti, toh ... dia tak akan menolak apa yang aku minta padanya."


Keisha terdiam, mengatupkan bibirnya rapat-rapat saat melihat Aina yang seperti tak membawa beban saat membahas hal seperti ini, berdua dengannya.


"Boleh saya tanya satu hal?" tanya Keisha, tampak gugup dan takut.


Aina mengangguk santai, sambil terus menikmati tehnya. "Katakan saja."


"Apa Anda tidak cemburu dan membenci saya? Bukankah saya sudah merebut suami Anda? Tapi kenapa Anda selalu bersikap baik pada saya?" tanya Keisha, berusaha keras dalam memberanikan dirinya.