Don'T Be The Antagonist

Don'T Be The Antagonist
Ibu Hamil Meresahkan



"Aku ingin bertanya padamu, Kei. Sebenarnya siapa lelaki tadi? Tidak mungkin dia mengejarmu sampai seperti itu jika kalian tidak pernah memiliki masa lalu," celetuk Fauzan, melangkah di samping Keisha saat keduanya sedang melihat taman bermain.


Keisha yang mendengar itu, memalingkan wajahnya sejenak ke arah lain, berusaha menenangkan dirinya yang sempat bergejolak saat mengingat beberapa potongan ingatan kecil yang cukup menyakitkan.


"Aku enggan untuk mencari katakannya. Bisa tidak kalau tidak dibahas? Itu membuatku mengingat beberapa memori buruk," ucap Keisha, berterus terang.


Fauzan menatap air muka Keisha yang tampak gelisah dan resah. Membuatnya sedikit tidak tega, karena belum cerita saja keringat Keisha sudah bercucuran mrmbasahi pelipisnya.


"Baik, kamu tidak perlu menceritakannya. Tapi jangan melarangku untuk mencarinya, bagaimanapun juga kamu tetap istriku. Setidaknya aku harus tahu bagaimana kondisimu, walaupun kita jarang bicara atau bertemu nanti," seru Fauzan, seakan meminta izin sebelum bertindak.


Keisha menatapnya beberapa saat, membuat lelaki itu menoleh ke arahnya dan menaikkan sebelah alisnya. Menatap aneh istri mudanya yang lebih terasa seperti teman bermain daripada teman hidup.


"Apa? Kamu ingin menanyakan sesuatu?" tanya Keisha, membuat lelaki di hadapannya menatap aneh.


FauzanĀ  segera berjalan lebih cepat, meninggalkan wanita hamil itu di belakangnya beberapa langkah, dan membuat Keisha menggerutu kesal karena ditinggalkannya.


"Tunggu aku, kamu tahu aku tidak bisa berjalan cepat karena sedang mengandung. Kamu ingin menyiksaku?!" pekik Keisha, langsung menghentikan langkah lelaki berusia 35 tahun itu.


Fauzan menoleh, menatap Keisha yang mengejar langkahnya dengan langkah secepat mungkin yang dia bisa. "Pelan-pelan saja."


Keisha mendengus, dan berkata. "Bagaimana bisa pelan-pelan jika kamu meninggalkanku? Bagaimana jika aku berpapasan dengan lelaki itu lagi? Jendra bukan orang yang pantang menyerah, dia pasti berusaha untuk menemui aku lagi!"


"Beberapa saat yang lalu, ada seorang wanita yang tidak ingin mengungkit masa lalunya, karena takut terluka. Tapi sekarang dia malah menyebut nama itu lagi dan membuatku berpikir keras."


Keisha sedikit mendongak, menatap wajah Fauzan teman tatapan bertanya-tanya. "Apa?"


Fauzan mendekatkan wajahnya sampai ujung hidung mereka saling bersentuhan. "Apa dari tadi kamu masih memikirkan lelaki itu, sampai menyebut namanya di depan suamimu?"


Deg!


Melihat wajah sang istri yang seperti terkena mental, Fauzan kembali berdiri tegap dan menutup mulutnya yang tersenyum, tengah menertawakan raut wajah Keisha yang bingung dan ingin menolak fakta jika dia memikirkan Jendra dengan begitu keras, sampai membuat kedua alisnya mencuram begitu dalam.


Keisha melirik ke arah Fauzan, menatap lelaki itu dengan kesal. "Jangan menertawakanku! Aku tetap tahu jika kamu tersenyum walaupun sudah kamu tutupi. Kedua sudut matamu yang berkerut itu tidak bisa berbohong!"


Keisha hendak berjalan pergi terlebih dahulu, meninggalkan Fauzan dengan langkah kesalnya! Tapi dia malah tersandung kaki sendiri dan hampir jatuh jika Fauzan tidak memeluknya dari belakang.


Grep!


"Hati-hati, Kei! Kamu sedang mengandung, dan k denganmu masih rentan! Bahkan dia belum genap satu bulan. Jika kamu merasa kesal dengan sikapku, tetaplah berhati-hati dalam melangkah!" omel Fauzan, melepaskan pelukan mereka begitu saja tanpa beban.


Lain halnya dengan Keisha yang tengah berdebar-debar sampai tidak mendengar apa yang dikatakan lelaki itu barusan.


Keisha memegang dadanya yang berdegup kencang dengan ritme beraturan. "Apa ini? Aku berdebar setelah sekian lama? Dan lagi dengan seseorang yang sudah memiliki istri?" batinya, dingin menolak fakta tentang kehadiran rasa tersebut.


Keisha menggelengkan kepalanya cepat, membalik tubuhnya dan berjalan pergi meninggalkan Fauzan begitu saja. Seakan ingin pergi jauh dari lelaki itu.


Keisha tidak ingin memperparah debaran di dadanya, saat kedua manik mata mereka saling perbatasan, nanti.


"Tidak boleh, Keisha! Kamu boleh memiliki sebagian hartanya. Tapi tidak tentang sebagian hati dan perhatiannya. Jangan merebut suami orang yang sudah berlaku baik padamu. Jangan membalasnya dengan air tuba!" batin Keisha, enggan mendengarkan suara Fauzan yang terus memanggilnya saat mereka terpaut jarak yang cukup jauh.


Fauzan menatap wanita itu dengan tatapan bingung. Bingung dengan segala sikapnya yang bisa berubah secara drastis tanpa sebab yang jelas.


"Sebenarnya, kenapa ibu hamil selalu lebih labil daripada wanita PMS? Hahh ... membuat kaki dan otakku lelah saja. Mereka pikir, memasukkan sikap mereka yang seperti itu ke alasan yang logis, bisa semudah membalikkan tangan? Sebenarnya itu lebih sulit daripada menyelesaikan kubus balok tahu!" keluhnya, beranjak mengejar langkah Keisha.


"Kei, tunggu aku!" teriak Fauzan, berlari mengejar langkah Keisha. "Hahh, menyusahkan saja!"