
Klek ....
Pintu terbuka, Keisha dan Fauzan langsung masuk ke dalam kamar dengan dua ranjang itu dengan ekspresi lelah.
"Ah, perjalanan itu membuat aku lelah!" pekik Fauzan, merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan langsung terlelap.
Sementara Keisha berjalan ke sisi ranjang yang lain dan berjalan pergi meninggalkan Fauzan di kamar, karena dia ingin mandi dulu sebelum istirahat.
"Kei? Kamu mandi?" tanya Fauzan, tiba-tiba mengetuk pintu kamar mandi yang tertutup rapat itu.
Keisha yang ada di dalam sana, langsung menoleh dan menghela napas panjang. "Iya, aku masih mandi. Kamu mau mandi?" tanyanya, berteriak.
"Boleh aku masuk? Aku–"
"Kau gila? Cari saja kamar mandi lain! Aku menutup pintunya dan sedang tidak bisa membukanya!" teriak Keisha, memotong perkataan Fauzan.
Fauzan menghela napas kasar dan segera keluar dari sana. "Aku ke masjid, sekalian sholat! Kamu segera menyusul jika sudah. Sholat dulu sebelum istirahat," ucapnya, berlari keluar.
Keisha hanya diam dan tak memedulikan perkataannya. "Cara sholat saja aku tidak tahu, kenapa aku harus pergi?" batinnya, menghela napas penat.
***
Fauzan kembali ke kamarnya saat jarum jam menunjukkan pukul 2.00 malam.
Dia sudah menunggu kedatangan Keisha lebih dari 3 jam, dan gadis itu tak kunjung datang entah karena apa.
Klek ....
Masuk ke dalam kamarnya, Fauzan melihat Keisha yang tertidur dengan menggunakan mukena, di atas sajadahnya.
Melihat itu, Fauzan yang hampir marah karena menduga Keisha melewatkan sholat isya dan pergi tidur, akhirnya sirna dengan mudah.
Fauzan mendekati Keisha yang masih menggenggam ponsel, yang menampilkan sebuah pengajian tentang hukum meninggalkan sholat.
"Kenapa dia melihat ini? Dia tidak tahu pentingnya sholat?" gumam Fauzan, mematikan video itu dan mengamankan ponselnya di atas meja.
Setelah itu, Fauzan kembali mendekati Keisha dan mencoba membangunkannya. "Kei, bangun. Coba lepas mukena kamu dan tidur yang benar di ranjang. Jangan tidur di lantai, nanti kamu masuk angin," ujarnya, dengan suara lembut.
Keisha mengerang, mencoba membuka mata dan menatap wajah Fauzan yang sangat tampan, efek bekas air wudu yang menempel di ujung rambutnya.
"Hem, sebentar lagi, Mas," gumam Keisha, kembali memejamkan mata.
"Kalau kamu tidak bangun, aku akan memindahkan kamu ke atas ranjang," ucap Fauzan, ingin menakutinya.
Tapi kedua tangan Keisha malah terbuka dan mengarah padanya, seakan menginginkan Fauzan untuk menggendongnya.
"Baiklah, pindahkan saja. Aku sudah sangat mengantuk dan lelah. Anakku mengantuk, jadi Bundanya juga mengantuk. Kamu jadi Ayahnya, peka sedikit dong!!" celetuk Keisha, tiba-tiba menjadi menyolot.
Fauzan yang mendapati hal itu, langsung menghela napas panjang dan melepaskan mukena Keisha, baru memindahkannya ke atas ranjang.
"Besok kamu pasti malu jika mengingat caranya mengigau. Aku pastikan hal itu!" pekik Fauzan, tampak kesal dengannya.
Benar saja, pagi-pagi Keisha sudah tidak ada di ranjangnya dan entah pergi ke mana.
Fauzan yang bangun terlambat karena dia tidak ada jadwal selain pergi jalan-jalan dengan Keisha, akhirnya baru keluar dari kamar saat pukul 12.00 siang.
Fauzan pergi ke restoran untuk mengisi kekosongan perutnya terlebih dahulu, sebelum dia pergi mencari Keisha nanti.
"Kamu sudah di sini?" tanya seorang wanita, menyambut Fauzan begitu lelaki itu masuk ke dalam restoran.
Fauzan menoleh, menatap Keisha yang duduk di bangku dekat pintu masuk, memperhatikannya dengan tatapan menanti.
"Kamu menungguku di sini? Tanpa mengirimkan pesan?" tanya Fauzan, berjalan menghampirinya dan bergabung dengannya.
Keisha hanya diam, tak menjawab atau melihat lawan bicaranya yang tampak kesal karena tingkahnya.
Fauzan memperhatikan wajah Keisha, tampak tidak ada rasa canggung di sana. "Apa kamu tidak ingat masalah kemarin?" tanya, pada akhirnya.
Keisha menoleh padanya, menatap Fauzan dengan sebelah alis terangkat.
"Masalah? Bukannya kemarin istrimu hanya meminta di pindahkan ke atas ranjang? Aku kira kamu tidak akan mempermasalahkan kontak fisik yang hanya sebatas itu, karena kita sudah menikah?! Tapi melihat kamu membahasnya, sepertinya kamu tidak nyaman?" panjang Keisha, menghela napas dalam-dalam.
Fauzan terdiam, menatap Keisha yang tampak tenang dan tak berbohong tentang ucapannya.
"Kamu benar-benar tidak terganggu?" tanya Fauzan, membuat semburat merah mudah, hadir di wajah Keisha tanpa Keisha sadari.
Fauzan terkekeh. "Kamu bisa malu juga ternyata!" pekiknya, membuat Keisha memalingkan wajah, tak ingin menatap Fauzan.
"Sial, kenapa harus sekarang sih!!" batin Keisha, merasa kesal sendiri.