Don'T Be The Antagonist

Don'T Be The Antagonist
Ancaman (2)



Keisha menatap Gary yang pergi menjauh dari gedung apartemennya, setelah dirinya berada di lantai atas, tempat rumahnya berada.


Aren, Kevin dan Catra tetap memperhatikan Keisha dari dekat, menatap kecemasan yang tampak nyata di manik mata indah wanita itu.


"Anda tidak perlu cemas, Nona. Nyonya kami bukan orang yang gampang di bodohi. Saya yakin Anda mengerti maksud saya," ucap Aren, berusaha menenangkan Keisha.


Keisha menoleh padanya, menatap cemas ketiga orang di hadapannya. "Tetap saja, aku takut Mbak Aina mendapat perlakuan buruk darinya. Pamanku bukan orang yang lemah-lembut! Dia bisa memukul wanita tanpa rasa bersalah," ucapnya, mengigil ketakutan.


"Anda tidak perlu cemas, Nona. Nyonya bukan orang yang lemah walau dia bersikap lemah-lembut." Catra mengulas senyuman tipis, menatap Keisha dengan sorot teduh. "Anda harus mengenalnya lebih lama lagi agar Anda tahu tentang Nyonya Aina. Dia benar-benar orang yang hebat!" serunya, tampak bangga.


Keisha hanya menghela napas panjang dan berjalan masuk ke dalam rumahnya, membiarkan ketiga orang itu melakukan tugasnya di luar rumah.


"Sehebat apa Mbak Aina sampai mereka memujinya?" gumam Keisha, sambil melepaskan sepatunya dan masuk ke dalam rumah.


"Yah, walau aku sering mendengar kehebatannya di kantor. Tapi tetap saja, bisa apa wanita berjilbab itu?" cibirnya, tersenyum culas.


Tak lama kemudian Keisha terdiam, merasakan hawa keberadaan seseorang yang sangat mengerikan. Keisha menatap ke belakang, menatap perawakan lelaki yang duduk di ruang tengah dengan tenang, tanpa mengeluarkan suara.


Keisha menyalakan lampu di ruangan itu, menatap wajah Fadil yang tenang dan angkuh, dengan tatapan terkejut.


"Bagaimana bisa dia masuk?" batin Keisha, merasa tegang.


"A-apa yang Anda lakukan di sini, Tuan Fadil?" celetuk Keisha, berjalan mundur saat Fadil bangkit dari tempat duduknya dan mendekatinya.


Keisha semakin mundur, sampai tubuh bagian belakangnya menemui dinding penyekat dapur.


Fadil pun menghentikan langkahnya, tepat 2 langkah sari posisi Keisha berdiri.


"Kamu belum memberikan jawaban pada saya. Mangkanya saya datang!" jelas Fadil, menatap Keisha dengan sorot mata dinginnya.


"Ja-jawaban?" Keisha mengerutkan keningnya samar. "Anda masih menunggunya? Padahal saya sudah akan melangsungkan pernikahan dalam 4 hari ke depan?" celetuknya, kaget.


Fadil mengangguk dengan santai. "Ya, aku masih menunggunya." Fadil menatap lekat, menatap wajah cantik Keisha dengan tatapan bengis. "Kamu menolakku?"


Glek ....


Keisha menelan ludahnya susah, membuat senyuman mengerikan milik Fadil, mengembang semakin lebar.


"Aku rasa kamu memang menolaknya," desis Fadil, menatap Keisha tajam. "Kamu yakin menolaknya? Di saat aku sudah menjanjikan hal besar padamu?"


Keisha memalingkan wajahnya, tak menatap wajah Fadil yang menakutkan.


"I-iya. Saya menolaknya! Jadi tolong jangan ganggu saya dan tolong keluar dari sini secepatnya!" seru Keisha, setengah berteriak.


Catra membuka pintu dengan segera saat mendengar suara teriakan Keisha dari dalam.


Lantas dia mendapati Fadil di dalam sana, dengan posisi menyudutkan Keisha ke dinding bagian dalam rumah tersebut.


"Apa yang Anda lakukan, Tuan Besar?" celetuk Aren, menatap Fadil dengan tatapan dingin.


Fadil mundur satu langkah dan menoleh pada ketiga pengawal dari perusahaan Aina itu dengan tatapan menyepelekan.


"Tidak ada. Aku hanya menagih jawaban darinya," jawab Fadil, melirik Keisha dengan senyuman mengejek. "Tapi sudah selesai! Jadi kalian tidak perlu mengadukanku pada adik ipar! Aku masih enggan bertengkar dengannya," ucapnya, sambil berjalan pergi.


Keisha menghela napas lega saat menyaksikan Fadil keluar dari rumahnya dengan tenang, tanpa menimbulkan keributan.


Keisha terduduk di tanah dengan posisi bersimpuh, membuat 3 orang pengawalnya masuk dan mendekat padanya.


"Anda baik-baik saja?" tanya Catra, menatap kondisi Keisha yang mengkhawatirkan.


Keisha mengangguk. "Saya baik-baik saja. Tapi, sepertinya aku tidur di vila saja. Di sini terlalu berbahaya," ucapnya, mengkhawatirkan keselamatan dirinya.


Ketiga lelaki itu mengangguk, menyetujui permintaan Keisha, yang ingin kembali ke vila Fauzan.


"Kalau begitu saya akan mengkonfirmasi hal ini kepada Nyonya dulu. Baru kita bisa pindah jika beliau mengizinkannya," ucap Aren, berjalan pergi mendahului mereka.


Keisha mengangguk paham dan membiarkan Catra memapah dirinya keluar sari rumah.


"Ya, baiklah. Terima kasih, Tuan Aren," ucap Keisha, menghela napas panjang nan lelah.


"Sama-sama, Nona Keisha," jawab Aren, singkat.


Kevin menatap Keisha dengan tatapan lekat. Seakan ingin mengajukan pertanyaan, tapi dia takut di bilang lanjang.


"Katakan saja," celetuk Catra, membuat Keisha menoleh padanya dan berpindah pada Kevin, yang sedang di pandang Catra.


"Kenapa? Kamu mau bertanya apa, Tuan Kevin?" tanya Keisha, menatap lelaki itu dengan benar.


Kevin menelan ludahnya kasar, menghela napas besar dan melirik ke arah Catra dan Aren, yang juga mengawasi pergerakannya.


"Begini, Nona. Maaf jika lancang. Tapi saya dengar Anda hamil. Apakah itu benar-benar anak Pak Fauzan?" celetuknya, membuat Keisha tercekat.


"Bagaimana ini?!" batin Keisha, tampak resah karenanya.