
"Hah ... hah ... kenapa juga kamu memilih film horor? Aku paling tidak suka film gender itu! Menyebalkan sekali," celetuk Keisha, sambil minyak air matanya yang masih terus keluar walaupun mereka sudah ada di luar gedung bioskop.
Fauzan yang melihat itu, hanya bisa terus meminta maaf pada sang istri sambil memberikan lembaran tisu secara terus-menerus.
"Maafkan aku, Kei. Aku tidak tahu kamu tidak suka film horor. Biasanya aku dan Aina, lalu dengan anak-anak juga. Sering sekali melihat film horor bersama-sama. Karena kami sama-sama suka film yang mengerikan seperti tadi! Hehe, sungguh maafkan aku," ucap Fauzan, benar-benar tampak bersalah.
Keisha hanya menghela napas kasar, menatap lelaki yang ada di depannya dengan tatapan kesal. "Hahhh baiklah jika kamu tidak tahu. Tapi lain kali aku tidak akan mau menonton film seperti tadi! Lihat saja nanti malam, aku pasti tidak akan bisa tidur karenanya," pekiknya, tampak kesel.
Fauzan menganggukkan kepalanya antusias, berjalan keluar mengikuti langkah Keisha dan pergi masuk ke dalam arena food court dan menghampiri kedai es krim.
"Aku harus makan ini untuk menenangkan diri. Tunggu di sini, aku akan membelinya sebentar," ucap Keisha, meminta suaminya menunggu di depan toko tersebut.
"Kenapa kamu membelinya sendiri? Biar aku saja yang belikan, lagi pula antreannya juga sangat panjang. Tidak baik untukmu berdiri terlalu lama," ucap Fauzan, menghentikan langkahnya dengan mencekal salah satu lengan Keisha.
"Begitu? Baiklah, tolong belikan rasa stroberi dan vanilla. Aku tidak terlalu suka coklat karena menurutku itu pahit," ucap Keisha, berpesan.
Fauzan hanya mengangguk mengerti, dan berjalan masuk ke dalam toko tersebut untuk memesan pesanan sang istri.
Sementara Keisha memilih untuk keluar dari kawasan food court tersebut dan duduk di bangku kayu yang ada di dekat lift, yang ada tepat di depan area food court tersebut.
Keisha memainkan ponselnya, tidak memperhatikan sekelilingnya yang terlihat ramai dikunjungi banyak orang.
Sampai di titik, ada seseorang yang pergi tepat di hadapannya. Keisha langsung mendongak dan menatap siapa yang ada di sana.
Keisha terperanjat, menatap lelaki yang sudah dia temui dua kali, dan juga dihindarinya dua kali! Berdiri di depannya dengan memamerkan senyuman sinis.
"Apa yang sedang kamu lakukan di sini sendiri? Sudah aku bilang, pertemuan kita adalah takdir. Karena itu kita terus bertemu!" ucap lelaki itu, beranjak duduk di samping Keisha setelah membuat dua orang yang sebelumnya duduk di samping wanita, itu pergi
Jendra mengerutkan keningnya dalam, menatap Keisha dengan tatapan benci yang terlihat nyata.
"Jika kamu tidak ingin bertemu denganku, seharusnya kamu tidak tertangkap radarku! Kenapa kamu jadi terus menyalahkan aku? Aku hanya tidak sengaja melihatmu, dan menghampiri mau untuk sekedar menyapa. Tidak sopan sekali jadi perempuan. Memang dasar anak yatim piatu," celetuk Jendra, sengaja memprovokasi emosi Keisha.
Kedua manik mata Keisha membulat dengan sempurna, menatap lelaki itu dengan tatapan benci. Sampai membuat surat di lehernya terlihat jelas.
"Apa yang baru saja aku dengar dari mulut seorang pembunuh? Kamu lupa tentang pembunuhan yang terjadi di rumahmu? Empat anggota keluargamu meninggal dengan keadaan miris, hanya karena kamu harus dengan objek penelitian! Dasar lelaki gila. Tidak seharusnya kamu berkata seperti itu padaku, yang konteksnya lebih baik daripada berandalan tak bermoral seperti!" Keisha menatapnya dengan sinis. "Percuma saja kedua orang tuamu menyekolahkan kamu sampai tinggi! Jika saat keluar dari akademis, kamu hanya menjadi seorang pembunuh. Dasar manusia rendahan!" celetuknya, marah.
Saat itu juga, tangan kanan Jendra terangkat begitu tinggi sampai sejajar dengan wajahnya, dan hendak dia ayunkan ke arah wajah Keisha.
"Apa yang mau Anda lakukan?"
Seorang lelaki berdiri di antara mereka, berdiri di depan mereka dengan tatapan horor.
Jendra segera menurunkan tangannya, mengulas senyuman manis dan menoleh pada lelaki itu dengan menunjukkan ekspresi palsu. "Aku hampir saja mengelus kepalanya karena omongan manis Keisha yang aku dengar. Maaf, aku lupa jika dia sudah memiliki suami," alibinya, tampak meyakinkan.
Fauzan menarik tangan Keisha, membuat wanita itu berdiri secara paksa. "Ini es krimmu. Sekarang kita pergi saja. Aku tidak ingin berurusan dengan lelaki ini. Kamu baik-baik saja, kan?" tanya, memastikan keadaan Keisha terlebih dahulu sebelum mereka pergi
Keisha hanya mengangguk pelan dan membuat lawan bicaranya mengangguk paham.
"Baik, ayo kita pergi. Masih ada beberapa tempat yang ingin aku tunjukkan padamu. Tidak perlu mengurusi lelaki ini, itu hanya akan membuat emosimu tidak stabil dan kamu yang merugi!" celetuk Fauzan, sambil menatap sinis ke arah Jendra, seakan memberinya peringatan tegas untuk tetap menjaga jarak dari istrinya.
"Sekali lagi, saya permisi dulu!" celetuk Fauzan, sebelum akhirnya mereka berdua benar-benar meninggalkan Jendra di tempat itu.