Don'T Be The Antagonist

Don'T Be The Antagonist
Terpecah



"Fauzan punya selingkuhan, Kak."


Aina tersenyum pahit, menatap raut wajah Fadil yang tercengang karena saking terkejutnya.


"Apa?!!" pekik Fadil, tak percaya jika sang adik bisa melakukan perbuatan tercela di belakang Aina. "Enggak mungkin, Na! Suami kamu gak mungkin–"


"Maaf, Kak. Besok Kakak bisa pulang cepat?" tanya Aina, masih menatap Fadil dengan tatapan sendu.


"Tidak mungkin, Na. Kamu pasti salah paham. Mungkin kamu terlalu curiga karena kamu perempuan, dan kamu sedang hamil muda. Mungkin karena itu kamu selalu berprasangka," tutur Fadil, mencoba tetap tenang walaupun di dalam dirinya ada sebuah gejolak besar bernama amarah.


Aina tak menjawab. Dia hanya diam dan menundukkan kepalanya, pasrah.


Fadil bingung. Harus bereaksi seperti apa melihat Aina yang seperti ini. Sementara, banyak pikiran tidak baik untuk bumil muda.


"Sudah, sebaiknya kamu tenangkan diri. Nanti kalau aku ada waktu, aku akan bicara dengan suami kamu," ucap Fadil, bangkit dari tempatnya dan berjalan kembali masuk ke dalam kamarnya.


"Kakak tidak jadi pergi dinas?" tanya Aina, menatap Fadil yang kembali membawa barang-barang masuk ke dalam kamar.


"Tidak. Bagaimana aku bisa pergi dinas dengan tenang kalau kamu mengatakan masalah serius seperti itu? Lebih baik selesaikan dulu yang di sini, baru pergi ke sana. Aku akan kirim sekretarisku untuk menghandlenya dulu!" ucap Fadil, kembali duduk menemani Aina di ruang tamu.


Aina tidak banyak berkomentar. Fadil memang selalu perhatian dengan dirinya. Mungkin karena Fadil sudah menganggap Aina seperti adik perempuannya sendiri.


Bahkan jika di bandingkan dengan Fauzan, mungkin Fadil lebih menyayangi adik iparnya ini.


"Masuklah ke kamar kamu. Istirahat saja. Nanti aku akan bicara dengan suami kamu," ucap Fadil, meminta Aina pergi.


Aina mengangguk, bangkit dari tempatnya dan berjalan pergi meninggalkan Fadil di ruang tamu, sibuk berbicara dengan seseorang di teleponnya.


***


Klap ....


Keisha menatap lekat penampilan dirinya di depan cermin. Dia sedikit tak senang dengan penampilannya malam ini.


Hahh ....


Keisha menghela napas, menoleh pada seorang perempuan yang terus menatapnya dari belakang, tanpa mengatakan sepatah kata pun karena sedang marah padanya.


"Bagaimana dengan ini? Bagus?" tanya Keisha, pada sahabat perempuan, Lita.


Lita tak menjawab, dia hanya diam dengan tatapan lurus. Menatap Keisha dengan tatapan datar.


"Ya. Terserah kamu," ucap Lita, menghela napas panjang, seakan tak peduli dengan hal itu.


Setelah mengatakan hal itu, Lita malah memainkan ponselnya dan tak menoleh pada Keisha sama sekali.


Keisha memutar bola matanya malas dan menatap karyawan perempuan butik itu untuk membungkus pakaian pertama saja, karena Keisha lebih percaya diri saat mengenakannya.


"Aku ganti baju dan kita ke salon," ucap Keisha, tak di jawab oleh Lita.


Keisha diam di tempatnya. Memandang Lita dengan tatapan tidak enak. "Kamu kenapa sih, Lit! Bukannya senang dan dukung aku. Kamu malah marah kayak gitu. Memang apa salahku?" tanyanya, membentak.


Lita terkejut, dia segera mendongak  dan menatap Keisha dengan tatapan marah. "Lihat, angkuh banget kamu, Kei! Kamu gak tahu apa salah kamu?" balasnya, berteriak nyaring.


Beberapa orang mulai menatap mereka, memandang kedua wanita itu dengan tatapan tak sedap.


"Jadi pelakor kok bangga! Apa aku harus dukung kamu yang jadi perusak rumah tangga orang?" Lita bangkit, menatap Keisha dengan tatapan marah. "Aku memang teman kamu! Mangkanya itu aku marah kalau kamu berbuat buruk!"


Lita menyugar rambut panjangnya dengan kasar, menatap Keisha dengan tatapan enggan.


"Udahlah, capek banget aku ngurusin kamu, Kei!" Lita menjinjing tasnya dengan kasar. "Kalau kamu mau cari teman yang tetap dukung kamu, basipun kamu berbuat buruk kayak sekarang! Bayar orang aja sana. Aku gak sudi!!" pekiknya, terakhir kali.


Setelah itu Lita meninggalkan ruangan itu, membiarkan Keisha seorang diri di sana.


Keisha memalingkan wajahnya, tampak gusar dan lelah. "Ck, terserah deh!"