Don'T Be The Antagonist

Don'T Be The Antagonist
Rahasia Terlarang part 3



Pemandangan awan yang indah di sore itu tidak membuat fokus Alva terpecah. Seakan rasa cemas dan khawatir lebih mendominasi perasaan anak lelaki berusia 17 tahun itu.


Di kala hari semakin gelap, Alva masih mengemudikan sepeda motornya membelah jalanan lenggang dengan angin sepoi-sepoi yang menyejukkan.


Syukurlah, masih ada beberapa peristiwa yang mampu meredam amarah anak lelaki muda itu. Sosok wanita yang selalu dia sayangi sedang terbaring koma di rumah sakit, siapa yang tak khawatir?


Sebagai putra yang sudah tumbuh besar dengan kasih sayangnya, Alva benar-benar tidak menyangka peristiwa yang sudah tak pernah terjadi selama 3 tahun terakhir kini mulai terulang dengan kondisi yang lebih parah dari sebelumnya.


Dengan perasaan berat, Alva memarkirkan kendaraan kesayangannya di depan gedung rumah sakit dan menyerahkan kuncinya pada satpam yang sedang bertugas di sana.


"Makasih, Pak!" ucap Alva, pada satpam yang sudah mau menggantikannya parkir motor dengan benar.


Satpam yang aslinya sedikit terpaksa melakukan itu, hanya menghela napasnya panjang dan tetap melakukan pekerjaannya dengan baik dan ikhlas. Walau nanti dia pasti tetap memarahi Alva yang sudah bertindak seenaknya.


Masuk ke dalam area inti rumah sakit, Alva sudah di jemput seorang wanita paruh baya yang senantiasa menunggunya di lobi, saat tadi Alva sempat mengirimkan pesan padanya jika dia sedang dalam perjalanan ke rumah sakit tempat Mamanya di rawat.


"Mbok, Mama gimana?" tanya Alva, menghampiri wanita itu dan mereka pergi bersama masuk ke dalam lorong tempat kamar Aina berada.


Mbok Yanti tidak mengatakan apa pun selain diam dan menundukkan kepalanya. Ekspresi sedih yang di tunjukannya juga terlihat sangat memprihatinkan sampai Alva tak lagi bertanya tentang kondisi Ibunya.


"Tuan Muda,” panggil seorang Dokter muda yang usianya masih berkisar 30an tahun.


Alva yang di panggil olehnya langsung berhenti dan menatap Dokter yang sengaja menghentikan langkahnya itu.


"Kalau gitu saya ke kamar Nyonya dulu ya, Mas," izin Mbok Yanti, dengan suara lemas nan lirihnya.


Alva hanya bisa menganggukkan kepalanya dan membiarkan Art-nya pergi meninggalkan Alva dengan sang Dokter.


Menghela napas panjang, tampaknya Alva sudah menyiapkan diri untuk mendengar kemungkinan terburuk yang akan di katakan Dokter Aldi padanya.


"Ayo ikut ke ruangan saya, Tuan. Sepertinya Tuan Besar tidak bisa datang, mengingat beliau tidak segera ada di sini setelah Nyonya terbaring selama 1 jam," ucap Dokter Aldi, seakan tahu jika Fauzan tak akan menjenguk sang istri untuk malam ini.


Alva hanya mengulas senyuman masam dan mengangguk singkat. "Baik, Dok. Mari."


Alva mengikuti langkah Dokter Aldi kembali ke ruangannya dengan tenang. Tak ada pembicaraan yang terjadi di antara keduanya selama perjalanan menuju ruangan pribadi Dokter Aldi.


Alva begitu tenang karena banyak memikirkan sesuatu yang bahkan belum sempat di sampaian oleh Dokter Aldi kepadanya.


Yah, walau permasalahan utamanya adalah karena juga tidak terlalu dekat dengan Dokter pribadi Mamanya ini sih.


Klek ....


Dokter Aldi membuka pintu ruangannya dan masuk ke dalam sana, setelah mempersilahkan Alva masuk mengikuti langkahnya.


"Silakan duduk, Tuan!" Ucap Dokter Aldi mempersilahkan Alfa untuk duduk di depan mejanya.


Alfa berjalan mendekati sebuah kursi yang tersedia di depan meja Dokter Aldi dan duduk di salah satu kursi tersebut.


Dokter Aldi tersenyum masam dan menyalakan monitor yang ada di atas mejanya lalu menunjukkan gambar tengkorak sang ibu.


Dokter Aldi menunjuk beberapa titik di mana sebuah gumpalan yang cukup besar untuk berada di dalam kepala manusia.


"Ini adalah tumor Nyonya Aina yang sudah berkembang setelah beliau menolak di lakukannya 2 operasi!" ucap sang Dokter, membuat kening Alva langsung mengerut dengan sempurna.


"Dua jadwal operasi ditolak oleh Mama? Kenapa kami tidak pernah mendengarnya, Dok? Bukankah seharusnya hal seperti ini didiskusikan oleh Dokter dan ayah? Tapi ayah tidak pernah mengatakan apa-apa juga kepada kami. Apa jangan-jangan Mama menyembunyikan kondisinya?" tanya Alva, mulai merasa Curiga dengan sikap sang ibu yang akhir-akhir ini lebih memilih berpisah kamar dari ayahnya dan menjaga interaksi antara keluarganya.


Dokter Aldi yang sudah menjadi Dokter keluarga Alfa selama 10 tahun lamanya, hanya bisa mengulas senyuman masam dan menundukkan kepalanya bersalah.


"Semua ini memang keinginan Nyonya Aina. Saya sebagai Dokter pribadinya, juga tidak bisa terlalu memaksakan kehendak saya kepada beliau."


Dokter Aldi menghela napas kasar beberapa kali dan memandang Alva dengan tatapan letih bercampur masam.


"Saya selalu mengatakan kepada Anda ataupun keluarga Anda yang lain, kan? Kalau faktor pikiran juga dapat mempengaruhi kondisi beliau. Karena itulah saya terpaksa diam setelah mendapatkan jawaban, jika Nyonya Aina menolak operasi yang sudah saya jadwalkan. Beliau lebih tidak boleh memiliki banyak beban pikiran dari pada hal yang lain."


"Jadi maksud Dokter, pendapat Mama yang tidak masuk akal itu masih jauh lebih baik dari pada Mama menjalankan operasi?" tanyanya, dengan intonasi geram.


Dokter Aldi membuang napas panjang dan menatap Alva dengan tetapan lelah dan resah. "Bukan seperti itu maksud saya, Tuan. Nyonya Aina menolak operasi karena alasan yang masuk akal bagi saya."


Dokter Aldi menundukkan kepalanya sejenak dan mengulas senyuman masam. "Kalau dia terus berjuang lebih lama lagi, dia tidak akan pernah sehat dalam hal psikis."


Alva membulatkan matanya dengan sempurna mendengar satu kalimat penutupan Dokter Aldi yang tak pernah dia sangka-sangka.


"Karena stres setelah kehilangan Putrinya, saya melihat banyak luka di beberapa area tubuhnya. Luka sayat yang mengerikan." Dokter Aldi terlihat begitu frustrasi saat itu. "Sebagai sepupunya, saya lebih berharap dia meninggal karena penyakitnya dari pada masalah yang lainnya."


"Tunggu, sebenarnya apa yang saya dengar ini, Paman? Saya tidak mengerti. Kenapa arah pembicaraan kita berujung negatif seperti ini?!" Alva mengepalkan kedua tangannya kuat. "Saya sangat yakin kalau Mama bukan orang yang-"


"Saya benar-benar meminta maaf untuk kesalahan saya, Tuan Muda. Tapi hanya inilah yang bisa saya lakukan untuk Nyonya Aina." Dokter Aldi memotong perkataan Alva. "Jangan pernah melihat seseorang dari cangkangnya. Sejatinya cover benar-benar bisa menyembunyikan kisah yang pelik dan rumit."


"Tidak- tunggu ... bagaimana Paman bisa berbicara begitu tentang Kakak Anda sendiri. Anda berharap kalau Mama mati cepat gara-gara penyakitnya?" tanya Alva, mulai naik pitam.


Tapi Dokter Aldi tidak mengatakan apa pun selain diam dan memperhatikan keponakannya yang sudah termakan amarah dengan sabar dan lemah lembut.


"Kamu tahu kalau Paman tidak mungkin mendoakan yang buruk-buruk tentang mama kamu. Tapi sepertinya kamu sudah tidak bisa di ajak berbicara tentang masalah ini, Alva. Paman pun tidak akan memaksanya."


Dokter Aldi menghela napas panjang dan berjalan ke arah pintu.


"Silakan keluar. Kita akan bicara lagi setelah kamu berhasil menenangkan diri."


Alva yang mendengar permintaan itu langsung bangkit dari tempatnya dan tidak banyak bicara dia segera keluar dari ruangan tersebut dengan langkah kesal dan wajah yang di tekuknya.


"Semuanya menjadi rumit hanya karena satu masalah!" gumam Alva, tampaknya sangat marah.