
Klekk ....
Izra masuk ke dalam ruangan Keisha dan menatap Bundanya tengah berkutat dengan beberapa dokumen seorang diri.
Izra yang baru pulang sekolah dan melihat pemandangan itu, merasa semakin lelah dan tidak ingin bekerja hari ini.
Masalah di perusahaannya saja sudah terlalu banyak. Sekarang dia harus magang di perusahaan Ayahnya juga?
Keisha mendongak dan melihat kehadiran Izra di depan pintu dengan tatapan bingung.
"Bunda tidak dengar kamu mengetuk pintu tadi. Kamu langsung masuk?" tanya Keisha, menatap anak keduanya ini dengan tatapan bertanya-tanya.
Izra menggelengkan kepalanya pelan. "Tadi aku sudah ketuk pintu. Tapi kayaknya Bunda enggak dengar. Ya udah, aku langsung masuk aja."
Mendengar penjelasan itu Keisha hanya mengangguk pelan dan membiarkan Izra duduk di salah satu sofa yang ada di dalam ruangan itu untuk beristirahat terlebih dahulu.
"Sudah makan?" tanya Keisha, masih setia memandang Izra yang sudah duduk dengan setengah tertidur di sofa panjang.
"Belum. Tadi juga enggak sempat Makan siang gara-gara banyak PR. Rasanya Izra kayak lelah banget hari ini. Udah pelajarannya full, PR-nya banyak dan sekarang harus dilanjut kerja! Nanti malam juga aku harus pergi ke perusahaan buat mengecek laporan yang lain." Izra melemparkan tatapan lelah kepada Keisha. "Izra capek, Bun."
Keisha tertawa kecil dan membuat Izra menghela napas lelah dan menatap ke arah langit-langit untuk sekedar menghibur matanya dengan pemandangan putih itu.
"Ya sudah, kalau kamu capek bekerja! Hari ini biar Bunda yang kerjakan semua pekerjaan di kantor. Sekarang kamu tidur aja di situ dulu, nanti jam 07.00 malam kita pergi ke restoran buat makan malam terus langsung lanjut pergi ke perusahaan kamu. Nanti Bunda antar, bagaimana?" tanya Keisha, dengan nada lembut yang terkesan akrab.
Izra mengurutkan keningnya samar dan menatap Keisha dengan tatapan kasihan.
"Bunda kan udah hamil besar. Mama juga berpesan kalau Bunda enggak boleh terlalu capek. Gimana Kalau hari ini kita sama-sama bolos kerja aja? Bang Alva sama Ayah juga enggak bakalan marah gara-gara itu, kita kan magang di perusahaan sendiri hehe ...," celetuk Izra, memperlihatkan ekspresi tengilnya.
Keisha menggelengkan kepalanya ampun dan lanjut bekerja. Sementara Izra beristirahat di dalam sana dengan tiduran di sofa sambil memainkan ponsel.
Walau tidak melakukan apa pun, setidaknya dia bisa menemani Keisha yang gila bekerja dengan tidak tidur dan terus menjaga kesadarannya.
Sampai akhirnya pukul 07.00 malam tiba, sesuai janji Keisha kepada Izra. Mereka akan pergi makan malam lalu lanjut pergi ke perusahaan Izra yang ada di pinggir pantai.
Keisha tidak pernah pergi ke perusahaan Izra sebelumnya. Bahkan dia tahu kalau Izra memiliki perusahaan sendiri, beberapa hari yang lalu. Itu pun tidak sengaja!
Jadi saat Keisha menawarkan tumpangan untuk Izra ke perusahaan anak lelaki berusia 16 tahun itu, sebenarnya Keisha sangat bersemangat karena dia akan tahu perusahaan Isra cepat atau lambat.
Setelah usai membereskan barang-barangnya, Keisha bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Isra yang sudah ada di depan pintu, bersiap-siap keluar sambil menunggunya.
"Kita mau makan malam di mana Bun? Gimana kalau restorannya Izra yang pilihkan? Kebetulan di dekat perusahaan Izra ada toko kelontong yang Makanannya benar-benar enak. Bunda mau coba makan di warung?" tanya Izra, memastikan terlebih dahulu kalau Keisha tidak akan keberatan dengan itu.
Keisha mengelus puncak kepala Izra dengan sayang. "Bunda bukan berasal dari keluarga sultan seperti Mama atau Ayah kamu. Bunda ini orang biasa. Sekalipun kamu mengajak makan di pinggir jalan yang enggak punya tenda, asal makanannya enak! Bunda pasti enggak akan menolak. Jadi ayo makan di tempat yang kamu tunjukkan itu," ucapnya.
Izra sama sekali tidak terlihat canggung. Sebaliknya, Dia terlihat lebih akrab dan dekat dengan Keisha daripada dengan Aina yang notabenya adalah wanita yang sudah membesarkannya dari kecil.
Nirmala yang juga berjalan keluar dari kantornya untuk pulang, tidak sengaja berpapasan langsung dengan Keisha dan Izra yang juga berjalan ke arah yang sama dengannya.
"Kalian sudah mau pulang? Aku harap besok kamu bisa pulang lebih sore dari hari ini, Kei! Walaupun Putra kamu membantumu bekerja, memiliki beban pikiran berlebihan untuk ibu hamil itu sangat berisiko! Aku harap kamu lebih memperbanyak waktu istirahat daripada memforsir pekerjaanmu," ucap Nirmala, kembali memberikan nasehat yang membuat Keisha memandangnya dengan tatapan tidak percaya.
"Boleh aku tanya sesuatu?! Dari tadi aku sudah merasa sangat menjanggal. Tapi karena kamu berjalan cepat meninggalkanku, aku jadi tidak bisa bertanya tentang masalah ini kepadamu!" ucap Keisha, pada Nirmala.
Langkah ketiga orang itu berhenti di depan ambang pintu, tapi tetap tidak menghalangi jalan, karena mereka berdiri di sampingnya.
Izra berjalan dua langkah lebih ke belakang dan menjaga jarak dari kedua orang tersebut.
Lihat betapa sopannya lelaki itu dalam bersikap. Hal tersebut bahkan mencuri beberapa perhatian karyawan yang masih berada di dalam ruang pemasaran.
Sejak hari pertama sampai hari ini, mereka tidak bisa dibuat tidak kagum dengan seluruh perlakuan Izra yang sangat sopan saat berhadapan dengan siapa pun itu termasuk petugas kebersihan di kantor mereka.
Nirmala memandang Keisha dengan tatapan bingung. "Tanya apa?"
Keisha memperhatikan wanita yang lebih tinggi 5 cm dari dirinya itu dengan kening yang berkerut samar.
"Sebenarnya, ada apa dengan dirimu akhir-akhir ini Bu Nirmala? Saya tidak terbiasa melihat sikap Anda yang ramah seperti ini kepada saya. Apakah saya melakukan kesalahan sampai Anda bisa berbuat baik seperti ini untuk melimpahkan semua dosanya kepada saya??" tanya Keisha, terlihat polos tapi juga menjengkelkan.
Nirmala memutar bola matanya malas dan melipat kedua tangannya di depan dada sambil mendekatkan wajahnya ke arah Keisha.
"Apakah aku sangat aneh ketika bersikap baik?" tanya Nirmala, benar-benar mengikis jarak di antara mereka berdua dengan mencondongkan tubuhnya ke arah Keisha.
Keisha spontan mundur dan menjaga jarak di antara mereka. Tapi tampaknya hal itu tidak berpengaruh karena Nirmala kembali mendekat padanya dan terus melemparkan tatapan mengintimidasi.
"Coba jawab pertanyaanku tadi?! Apakah aku terlihat sangat Aneh ketika bersikap baik? Lagi pula aku ini hanya manusia biasa. Yang sikap bawaan dari lahirnya itu dingin, tapi bukan berarti tidak bisa bersikap baik kepada orang."
Mendengus kasar di hadapan wajah Keisha. Nirmala semakin menyipitkan matanya untuk membuat wanita itu semakin terasa terintimidasi.
"Apa jangan-jangan karena aku memiliki wajah dingin dan sikap yang acuh biasanya, aku jadi tidak boleh bersikap baik kepada orang? Termasuk dirimu?!" tanya Nirmala, membuat Keisha meneguk ludahnya dengan susah.
"Ehem ...." Keisha berdeham dan menunjukkan gelagat canggung. "Bukan begitu maksudku. Aku hanya tidak terbiasa melihat kamu bersikap ramah seperti ini Bu Nirmala! Tidak lebih dan tidak kurang," cicitnya, di akhir kalimat.
Nirmala menarik mundur wajahnya dan kembali berdiri dengan tegak. "Bagus! Jadi kamu tidak keberatan kalau aku bersikap baik kepadamu untuk seterusnya? Aku ini manusia yang butuh sosialisasi loh. Tolong jangan abaikan aku."
Keisha tersenyum masam dan mengangguk ambigu. "Haha ... aku akan berusaha menerimanya," ucapnya, disertai tawa hambar yang terkesan tidak ikhlas.