
Pukul 12.00 malam ....
Suara pintu terdengar membuka kamar bagian Keisha, membuat wanita yang tengah membaca buku karena tidak bisa tidur itu, menoleh ke arah sumber suara.
"Kamu sudah pulang, Mas?" tanya Keisha, menatap Fauzan berjalan masuk ke dalam kamarnya dengan tatapan sedih.
Fauzan tersenyum masam, melihat Istri mudanya yang tetap menyambut kedatangannya walau dia sudah berlaku jahat di malam pertama mereka, dengan meninggalkannya sendirian.
"Iya, Kei. Aina meminta aku pulang untuk menemani kamu. Lagi pula ini malam pertama kita, tapi aku malah pergi. Maafkan aku," ucap Fauzan, duduk di samping Keisha dengan tenang.
Keisha kembali menatap ke arah bukunya, tak memperhatikan wajah Fauzan yang tampak murung karena rasa bersalahnya.
"Itu tidak penting. Lagi pula kita tidak akan melakukan malam pertama, kan? Kita tidak berada di dalam hubungan yang harus melakukannya," celetuk Keisha, memperjelas niat kedatangannya ke rumah ini.
Fauzan diam, menatap Keisha yang tampak benar-benar tidak mempermasalahkan hal tersebut.
"Tetap saja, sekarang kamu istriku dan seharusnya aku bersikap adil padamu. Walaupun kita tidak bisa tidur bersama, setidaknya aku bisa menemani kamu sepanjang malam," jelas Fauzan, dengan nada lirih.
"Tidak perlu seperti itu, Mas. Aku tahu kamu sedih melihat kondisi Nuri. Aku mengerti, dan seharusnya kamu tidak pulang jika hanya memamerkan ekspresi itu padaku," celetuk Keisha, menghela napas dalam dan mengalihkan pandangannya pada Fauzan. "Kamu belum memberitahu bagaimana keadaan Nuri dan malah bercerita tidak penting seperti itu. Hahh ... aku jadi agak kesal," celetuknya, benar-benar terlihat jengkel.
Fauzan terdiam, menatap wajah Keisha yang tampak kesal sungguhan karena dirinya.
"Nuri tidak baik-baik saja. Keadaannya sangat buruk." Fauzan menundukkan kepalanya, mengulas senyuman masam yang terlihat menyakitkan. "Dokter berkata, kita harus menyiapkan hati untuk kemungkinan terburuk malam ini."
Keisha diam dengan bibir bergetar. Tak ada kalimat yang bisa dia lontarkan setelah mendengar berita buruk itu.
"Tapi aku dan Aina sudah mengikhlaskan semuanya. Kami memilih ikhlas untuk keadaan apa pun, untuk ke depannya," ucap Fauzan, menelan ludahnya susah saat melihat Keisha mulai menangis dalam diam di sampingnya.
"Alasannya?" Keisha menatap Fauzan dengan tatapan sakit. "Karena kalian terdengar menginginkan kematian Nuri, jadi katakanlah alasannya, Mas. Apa alasannya?" tanyanya, berulang kali.
"Karena kami sadar, jika berjuang sangat menyakitkan untuk Nuri. Bertahan dalam keadaan itu, sangat menyakitkan." Fauzan menunduk, mengingat kembali ekspresi istrinya saat mengatakan kalimat yang dia ucapkan saat ini pada Keisha.
Keisha tak bisa mengelak, dia tahu rasanya harus pulih dari sakit. Walau dia hanya patah tulang dulu, tapi rehab untuk bisa kembali berjalan itu sangat menyiksa.
Dia tak bisa membayangkan kondisi Nuri yang harus belajar tentang segalanya saat dia bangun dari komanya.
Menahan rasa sakit, merelakan kakinya yang sulit untuk berjalan, menahan rasa sakit di setiap organnya, dan perlahan-lahan menjadi sesak karena menahan rasa sakitnya.
Keisha menutupi wajahnya dengan buku, menundukkan kepalanya dalam-dalam dan menangis dengan suara kencang di sana.
Fauzan hanya diam, tak berani menyentuh Keisha dengan sembarang, karena wanita itu sudah mengingatkan jika hubungan mereka bukanlah hubungan suami-istri pada umumnya.
**
Di lorong rumah sakit, tepat di depan kamar Nuri. Dua anak lelaki tengah duduk dengan menatap satu sama lain, dengan tatapan mengenaskan.
"Minum." Alva memberikan sebuah kaleng minuman pada Izra yang dari tadi diam dan tak menunjukkan emosi, kecuali tampang sedihnya itu.
Izra menerima benda itu dan langsung menghabiskannya dalam sekali teguk.
Alva menggelengkan kepalanya ampun, duduk di sampingnya dan ikut menatap ke luar jendela, dengan tatapan kosong.
"Kamu tahu apa yang akan terjadi padanya malam ini?" tanya Izra, tanpa menatap lawan bicaranya.
"Ya, aku tahu. Dan aku sudah menyiapkan hatiku untuk itu. Mama dan Ayah juga sama, mereka juga telah menyiapkan hati mereka untuk itu. Aku harap kamu jug–" ucapan Alva terhenti saat Aina keluar dari kamar Nuri dengan air mata yang tak terbendung.
Alva dan Izra bangkit dari tempatnya, berjalan cepat ke arah sang Ibu dan memeluknya tanpa banyak bicara.
Tidak ada kata yang keluar dari mulut mereka hanya tangis dan pemandangan buruk yang di lihat kedua anak itu, yang menemani tangis pedih mereka.
Bibir membiru dengan wajah pucat itu masih terpampang jelas di kedua mata Izra dan Alva.
Sosok Nuri yang terbaring di atas ranjangnya tanpa nyawa itu, membekas begitu kuat di ingatan mereka, mulai detik itu.
Anak perempuan yang baru berusia 10 tahun, kini akan memutuskan kenangan masa kecilnya hari ini, bersama dengan mereka.
Meninggalkan keluarganya tanpa salam atau pun pamit dengan sopan. Isak tangis yang terdengar dari Aina, terasa pedih di telinga Alva dan Izra.
Dokter melepas infus dan alat bantu pernapasan dari tubuh Nuri, menutupkan kain putih dari ujung kaki sampai ujung kepalanya, membuat wujud gadis itu tak tampak lagi dari pandangan mereka.
Alva menempelkan matanya pada bahu Aina, menangis tanpa suara dan tanpa berani melihat bagaimana sosok adik perempuannya saat ini.
Sehari setelah mereka mendapatkan anggota keluarga baru, di saat yang sama, mereka juga harus melepaskan satu anggota keluarga mereka.
Kebahagiaan hanya tersisa saat matahari masih terbit dan hilang bersama sang fajar.
Tangisan ketiganya memang terdengar lirih, tapi itu malah membuat luka di hati mereka berlubang tanpa dasar.
Tanggal 10 Oktober 2022, pukul 12.15 malam. Bertepatan dengan hari kelahirannya, 5 menit yang lalu. Kini Shari Nuri Rahmatiani, meninggalkan keluarganya. Menutup kisah bersama mereka dengan pulang kembali ke Sang Pencipta.
"Selamat jalan Putriku. Kami akan merindukanmu setiap hari, tanpa lupa sedetik pun."