
"Hati-hati di jalan, jangan merepotkan Bunda kamu, Alva," ucap Aina, memperingati Alva yang ingin ikut kembali ke rumah Keisha.
Alva hanya mengangguk dan berjalan mengikuti Keisha masuk ke dalam mobil Fauzan, yang akan mereka kendarai tanpa pemilik aslinya.
Ya, Fauzan dan Aina di tinggal di rumah orang tua Aina. Karena keduanya lama tidak pulang ke rumah itu, jadi Ardi meminta mereka menginap beberapa hari.
Dan Alva yang notabenya tidak di terima oleh Rafa, di keluarga itu, akhirnya memilih pulang bersama dengan Keisha darj pada tinggal di sana dan terus merasa canggung sepanjang hari karena harus berpapasan terus dengan Pamannya itu.
Keisha mengemudi dengan tenang meninggalkan rumah itu. Sesekali dia menatap Alva yang tampak murung, mungkin karena perkataan Rafa yang membekas di hati anak remaja berusia 17 tahun itu.
"Jangan di pikirkan. Mama kamu saja tidak menolak kehadiran kamu, kenapa kamu harus memikirkan omongan orang jahat?" celetuk Keisha, membuat perhatian Alva berpindah padanya.
"Menurut Bunda begitu? Tapi menurut aku, berbeda. Aku satu pendapat dengan Paman Rafa." Alva menundukkan kepalanya, sedih. "Kehadiranku membuat keluarga mereka menjadi runyam. Karena aku adalah aib Ayah, jadi aku–"
"Mungkin kamu juga lupa. Tapi aku juga sama seperti kamu, aib Mas Fauzan." Keisha menoleh sejenak pada Alva, mengukur senyuman simpul dan mengangkat bahunya acuh. "Asalkan orang yang menanggungku tidak lagi keberatan, aku tidak akan memusingkan yang lain!" celetuknya, tanpa beban.
Alva menatap Keisha dengan lekat, beberapa saat. Sebelum dia berkata, "Bunda memang tak punya malu, ya?" pekiknya, membuat tawa Keisha hadir.
Alva mengerutkan keningnya dalam, menatap respons Keisha yang di luar dugaan dengan tatapan aneh. "Wah, Bunda malah tertawa dan tidak tersinggung? Hebat sekali," pujinya, tampak bodoh.
Keisha menoleh, masih mempertahankan tawanya yang lantang itu. "Hahaha, memang kenapa? Menurutku itu sangat lucu. Aku sudah lama tidak mendengar cemoohan seperti itu dari orang lain. Dan sekarang saat mendengarnya, aku tidak merasa kesal sama sekali. Malah bagiku itu lucu," seru Keisha, menjelaskan dengan ekspresi bahagia.
Alva hanya terus menatapnya, masih tetap mempertahankan tatapan anehnya. "Kenapa bisa begitu? Bunda bahagia saat di ejek? Unik sekali," celetuknya, kembali membuat Keisha terbahak-bahak.
"Bukan unik Alva. Itu karena saat masuk ke dalam rumah kamu, aku menemui banyak orang yang sangat unik. Mereka tidak marah atau berkata buruk tentang diriku, yang sudah jelas datang sebagai penganggu." Senyuman Keisha berubah menjadi sendu. "Padahal aku berniat jahat, tapi Mama kamu begitu baik. Aku jadi merasa bersalah padanya," gumamnya, sedih.
Keisha menoleh padanya, mengulas senyuman sendu dan membuat Alva semakin bungkam. "Karena Mbak Aina menginginkannya."
Keisha menunduk sejenak, sebelum kembali fokus mengemudi. "Dulu aku pernah memintanya untuk melepaskan aku. Aku pernah hampir kabur ke luar negeri. Tapi Mama kamu menjemputku di dalam pesawat! Haha, wanita gila. Dia bahkan sampai membeli tiket seharga 4 juta hanya untuk membawaku keluar dari pesawat."
Alva mengerutkan keningnya dalam, tak percaya dengan cerita itu. "Mama tidak mungkin senekat itu. Aku tidak percaya dengan cerita Bunda!" ucapnya, menolak.
Keisha menggidikkan bahunya acuh. "Terserah kamu. Aku mengatakan hal yang sesungguhnya. Aku tidak suka berbohong, jadi aku tidak mungkin bohong sama kamu, Alva."
Alva kembali diam, menatap ke arah depan dengan tatapan melamun. "Kalau Mama sampai berbuat begitu pada Bunda, berarti dia punya alasan kuat untuk mempertahankan Bunda di sisi kami."
Alva menyandarkan kepalanya, menatap ke arah Keisha dengan tatapan bingung bercampur sedih. "Tapi apa alsannya? Perasaan Alva, tidak ada alasan yang bisa membuat Mama mempertahankan Bunda di sini. Tapi kenapa Mama sangat kekeh?"
Keisha hanya diam. Dia tahu alasannya. Tapi terlalu sakit untuk menceritakan tentang hal itu pada Alva, anak yang sangat menyayangi Aina.
"Hah ... aku tidak pernah memahami Mama. Dia tidak pernah marah pada orang-orang yang menyakitinya. Bahkan kehadiranku yang seharusnya menjadi luka, malah dia peluk seerat ini. Dadaku sesak saat mengingat betapa baiknya Mama padaku," ucap Alva, mengucapkan isi hatinya.
Keisha hanya tersenyum masam, menatap anak yang ternyata bukan anak kandung Aina. Tapi anak haram Fauzan dengan kekasihnya saat masih berusia 17 tahun.
"Aku juga tidak menyangka. Apa yang bisa membuat hatinya sekuat dan setabah itu saat menghadapi orang-orang seperti kita." Keisha tersenyum masam. "Itu yang membuat Bunda tidak bisa berbuat jahat padanya. Karena dia begitu baik, tidak seperti kebanyakan orang. Dia benar-benar orang spesial untukku."
Alva mengangguk paham, menatap Keisha dengan tatapan hangat. "Alva juga mau jadi seperti Bunda. Jadi orang yang sabar dan tabah."
Keisha tersenyum sendu. "Ya, kamu harus menjadi orang yang tabah. Karena masa depan kamu tidak secerah yang kamu bayangkan. Akan ada dua hal yang menghilang dari sisi kita, tanpa bisa kita cegah walaupun sudah tahu sejak awal!" batinnya, tampak sedih.