Don'T Be The Antagonist

Don'T Be The Antagonist
Ingin Pulang



"Bagaimana, Mas? Mbak Aina masih belum bisa dikabari?" tanya Keisha, entah kenapa terlihat lebih rasa daripada Fauzan, yang tengah di cuekin istrinya.


"Daripada di cuekin, mungkin aku lebih takut jika dia sakit sampai tidak bisa membalas pesanku. Hhhh ... padahal aku dan kamu masih satu minggu lagi di tempat ini, tapi ada saja yang membuatku gelisah," jawab Fauzan, menghela napas panjang berulang kali.


"Mau bagaimana lagi, Mas? Aku bisa tahu kenapa mbak Aina marah. Kamu liburan terlalu lama dengan istri keduamu, istri pertama mana yang tidak marah karena hal itu?" tanya Keisha, menggidikkan bahunya tak acuh.


Fauzan menyugar rambutnya kasar, menatap Keisha yang kembali sarapan dengan tenang di depannya, dengan tatapan resah.


"Apa aku boleh pulang duluan?" tanya Fauzan, sejarah tiba-tiba walaupun hanya bergumam kecil.


Keisha yang mendengar itu langsung mendongak, menatap wajah lelaki itu dengan tatapan garang, seakan memperingatkannya dalam mengambil keputusan.


"Kalau kamu pulang, sebaiknya aku juga ikut pulang. Kenapa juga aku di sini? Dalam suatu hari aku dan kamu hampir mengelilingi semua tempat yang ada, sekarang tinggal bosan yang tersisa!" ucap Keisha, mendesah kasar.


"Begitukah? Lalu bagaimana dengan konser idolamu? Aku harap kamu tidak melupakan itu, kan? Kamu sudah begadang semalaman hanya untuk mencek out tiketnya," celetuk Fauzan, mengingatkan Keisha tentang hal yang paling penting.


"Ah, iya juga. Bagaimana aku bisa lupa?! Bodoh sekali, itu hal terpenting! Tapi aku malah nyaris melakukan hal bodoh dengan melupakannya. Untuk kamu ingat, terima kasih!" ucap Keisha, tampak senang dengan hal kecil itu.


"Hem, bukan hal yang besar. Coba nanti aku akan hubungi Alva atau Izra. Mereka pasti menjawab pesanku, semoga saja istriku dalam keadaan sehat-sehat saja," ucap Fauzan, kembali fokus menghabiskan sarapannya.


"Kei? Kenapa kamu di sini? Kalian berdua bulan madu di sini?" tanya seorang lelaki berjas abu-abu, berjalan mendekat ke arah mereka dengan langkah cool.


"Hem? Mirza? Jangan bilang kamu ada pemotretan di sini. Benar-benar jodoh! Apa sebaiknya kita balikan saja?!" celetuk Keisha, bergurau.


Tapi gurauan itu malah membuat kedua lelaki di depannya, menatapnya dengan tatapan aneh.


Fauzan dengan tatapan tak senang, dan Mirza dengan tatapan tidak percaya dengan apa yang baru saja keluar dari mulut cantik itu.


"Hahaha, jangan bergurau seperti itu. Kamu membuatku menjadi musuh bebuyutan suamimu saja! Kami hanya bercanda, Tuan Fauzan. Tolong jangan dimasukkan ke hati," ucap Mirza, segera menjelaskan sebelum menjadi kesalahpahaman runyam.


Keisha hanya mengangguk pelan, dan kembali menatap Mirza yang masih berdiri di samping dirinya.


"Kau mau sarapan? Mau bergabung dengan kita saja? Sepertinya tidak ada bangku kosong lagi," ucap Keisha, tampak akrab dengan lelaki ini.


Fauzan yang melihat sikap mereka berdua, hanya diam dan tidak terlalu kesel. Mungkin karena dia tidak terlalu mencintai Keisha. Tapi sangat berbeda saat lelaki itu dekat-dekat dengan istri pertamanya, Aina, dikala pernikahan Fauzan dan Keisha berlangsung kemarin.


Mirza mendelik kesal. Lagi-lagi Keisha bersikap seenaknya. Dan membuatnya menjadi sungkan dengan Fauzan. "Hahaha, kenapa kamu bertanya itu, Kei?! Sudahku katakan, jangan membuatku menjadi musuh bebuyutan suamimu. Jadi aku tidak ingin mengganggu sarapan kalian berdua. Silakan dilanjutkan, aku akan pergi ke restoran sebelah saja kalau memang di sini sudah tidak ada tempat untuk makan," jelasnya.


"Tidak susah, bergabung saja dengan kita. Lagi pula ini hanya sarapan, dan aku tidak bisa mengganggu privasi Keisha, kan? Walaupun aku suaminya, aku masih merasa tidak punya hak untuk mengganggu hubungannya dengan teman-temannya. Jadi bergabunglah sesuai keinginan istriku," ucap Fauzan, sambil mengelap bibirnya dengan tisu.


Keisha mengangguk, mengiyakan perkataan itu. "Benar, gabung saja dengan kita. Suamiku tidak sejahat itu. Kamu bisa lebih santai dengannya," ucapnya, menimpali.


Alhasil, dengan canggung Mirza bergabung dengan mereka berdua. Berbicara tentang topik ringan dengan Keisha, agar Fauzan bisa bergabung dengan obrolan rekayasa sekali.


Jika dilihat, Fauzan memang bukan orang yang dingin. Apalagi egois! Setelah mengobrol cukup lama, melewati beberapa topik pembicaraan dengan lancar, sepertinya dia memiliki sikap yang sangat humble, walaupun wajahnya terkesan dingin dan ketus.


"Makanannya sudah datang, kalian berdua makanlah lebih dulu. Aku akan menelepon sebentar," ucap Fauzan, meminta izin sebelum dia pergi meninggalkan keduanya.


Keisha menghela napas panjang. Membuat Mirza menatapnya bingung.


"Kenapa? Kalian tidak terlihat bertengkar, tapi kenapa kamu menghela napas panjang?" tanya Mirza, memperhatikannya.


"Ada lah. Orang luar sepertimu tidak perlu tahu," sahut Keisha, membuat Mirza mengetuk keningnya karena kesal.


"Wanita menyebalkan, sejak kapan di antara kita punya rahasia?"


"Sejak aku memiliki keluarga dan ke rumah tangga dengannya!" jawab Keisha, tampak tak acuh dengan Mirza.