
"Jadi, kedatangan Anda ke sini adalah untuk negosiasi tentang mahar pernikahan Keisha?" tanya Aina, mulai menunjukkan senyuman culas.
"Ya, saya meminta maharnya senilai 500 juta dan 1 buah mobil mewah yang siap pakai!" ucap Gary, menunggingkan senyuman culas, seakan mencemooh Aina.
Aina tampak tenang, dia menatap sekretarisnya yang berdiri di sampingnya, dengan melemparkan tatapan tak senang melihat perawakan Gary.
"Femi, berikan kontraknya," ucap Aina, membuat lelaki berusia 21 tahun itu mengangguk dan mengeluarkan sebuah dokumen dari tasnya.
Gary menatap kertas putih dan selembar cek kosong. Kedua mata Gary langsung berbinar melihat kertas kecil itu.
"Jika saya menandatangani kertas ini, apakah saya bisa mengisi angka di cek ini?" tanya Gary, bersemangat.
Aina tersenyum, membuat Femi bergidik ngeri melihat Tantenya yang gila akan kegiatan barter.
"Ya, Anda boleh mengisi angkanya sendiri setelah menandatangani berkasnya." Aina membuat senyuman Gary semakin mengembang. "Tapi, baca dulu dengan teliti dokumen di depan Anda sebelum menandatanganinya. Saya juga tidak mau Anda menyesal di kemudian hari," ucapnya, melanjutkan.
Gary melirik dokumen dengan judul yang membosankan. "Kontrak perjanjian seperti ini tidak bisa menahan saya mendapatkan keuntungan. Saya kenal orang dalam, hati-hati dengan tindakan Anda. Saya juga punya pakar hukum," celetuknya, mengambil bolpoin dan menandatangani dokumen itu tanpa membacanya.
Aina tersenyum miring, dia tampak tenang dengan sikap angkuh dan culasnya itu.
"Baiklah jika Anda berkata seperti itu. Saya tidak akan memaksa." Aina mengambil dokumen itu dan memberikannya pada Femi. "Pokoknya saya sudah mengingatkan Anda untuk membacanya terlebih dahulu. Anda tak boleh menyesali perbuatan Anda nanti," ucapnya, percaya diri.
Gary mengangguk singkat dan meraih cek kosong yang ada di depannya, mengisinya dengan angka yang tidak kecil jumlahnya.
Bahkan Femi sampai memelototkan matanya saat melihat jumlah yang di tuliskan Gary di dalam cek tersebut.
"Apakah tidak apa, membiarkannya berbuat seenak hati?" tanya Femi, berbisik di dekat telinga Aina.
Aina meliriknya dan tersenyum lembut. "Sejak kapan kamu meragukan Tantemu, Femi? Apakah kamu mempertanyakan keputusanku?" celetuknya, sombong.
Femi kembali menegakkan tubuhnya dan mengulas senyuman masam saat kedua matanya tak sengaja bertatapan dengan Gary.
"Saya sudah mengisinya. Apakah saya sudah boleh pergi?" tanya Gary, semakin bersemangat karena dirinya akan mendapatkan uang yang melimpah sebentar lagi.
"Ya, silakan keluar, Tuan Gary. Terima kasih kerja samanya," ucap Aina, berdiri dan mempersilahkan lelaki berusia 53 tahun itu meninggalkan dirinya.
Kling ....
Aina menatap lelaki yang datang dengan bersisipan jalan dengan Gary, saat di depan pintu masuk cafe tersebut.
Sebelah alis Aina terangkat ketika melihat wajah Fauzan yang tampak panik dan cemas, melihat istrinya bertemu dengan lelaki kasar yang di ceritakan Keisha beberapa saat yang lalu.
Fauzan bergegas, dia berjalan mendekati Aina dan menatap istrinya mulai dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan teliti.
"Kenapa?" tanya Aina, menatap raut cemas Fauzan yang tampak jelas.
"Kenapa, kenapa?! Kamu itu, kenapa bertemu dengan orang yang di hindari Keisha? Keisha yang lebih kuat dari kamu saja menghindar! Lalu kenapa kamu malah membuat janji dengannya," celetuk Fauzan, marah tanpa membentak.
Aina menaikkan kedua alisnya, menatap Fauzan dengan tatapan aneh. "Kenapa? Kamu bilang apa tadi? Lebih lemah dari Keisha? Aku??" celetuknya, menunjuk dirinya dengan percaya diri.
Fauzan terdiam, menatap Aina yang menyindirnya dengan tatapan culas itu. "Hahh ... baik, aku salah bicara. Maaf," ucapnya, merengkuh Aina dalam pelukannya.
Femi hanya menatap keduanya dengan tatapan canggung, dan berjalan pergi setelah mendapatkan kode dari Fauzan agar dia menyingkir dari sana.
"Ini tempat umum, Mas. Jangan peluk-peluk," pekik Aina, mendorong Fauzan menjauh dari dirinya.
Fauzan pun melepaskan pelukannya, menatap istrinya dengan tatapan lembut. "Apa yang kamu lakukan saat bertemu dengan Paman Keisha?" tanyanya, cemas.
Aina tersenyum manis. "Bisnis dan barter!" celetuknya, membuat ekspresi cemas Fauzan berubah drastis.
Aina duduk, memanggil pelayan dengan melambaikan tangannya. "Pesan dulu, baru bicara," ucapnya, di angguki oleh Fauzan.
Fauzan menghela napas dan kembali fokus pada istrinya setelah pesanannya tiba, beberapa saat yang lalu.
"Kamu akan terkejut jika mengetahuinya. Jangan minum saat mendengarku bercerita," ucap Aina, menyesap tehnya dengan santai.
"Baiklah, aku tidak akan minum. Jadi apa yang kamu lakukan dengannya?" tanya Fauzan, meletakkan kembali gelas yang ada di tangannya, saat dia hendak minum.
Aina menghela napas panjang, menatap suaminya dengan tatapan takut-takut. Membuat Fauzan semakin mencurigai dirinya dengan berbagai macam pikiran.
"Jangan bilang kamu rugi dalam bisnis itu, Aina. Aku akan menuntutnya jika sampai iya," celetuk Fauzan, menatap tajam istrinya yang menundukkan kepalanya, berusaha menghindari tatapan Fauzan.
"Hehe, dia menulis 5 miliar untuk surat perjanjian itu," celetuk Aina, menundukkan kepalanya semakin dalam. Bahkan sampai memejamkan matanya, karena takut Fauzan akan marah besar padanya.
Fauzan menepuk keningnya ampun. Menatap istrinya dengan tatapan lelah dan tak habis pikir.
"Aku harap surat perjanjian yang kamu minta dia tanda tangani, setimpal dengan harga itu, Aina. Jangan sampai membuatku darah tinggi," ucap Fauzan, membuat Aina mengangguk antusias.
"Na," panggil Fauzan, membuat wanita berjilbab itu menatapnya dengan tatapan takut-takut.
Aina mendongak sedikit, mengintip Fauzan dengan tatapan ragu. "Ya?" jawabnya, lirih.
"Boleh aku jitak kepalamu?" pekik Fauzan, tiba-tiba.
Aina tersenyum kecut dan mengangguk. Memperbolehkan Fauzan melakukan hal itu, karena dia pantas mendapatkan hukuman darinya.
Fauzan tak banyak bicara, dia bangun dari tempatnya, mendekat pada Aina yang kembali menunduk dalam dan memejamkan matanya.
Tok!
Fauzan menjitak kepalanya cukup keras, membuat Aina mendesis sakit. Tapi setelah itu Fauzan juga mencium pundak kepala istrinya yang baru saja dia pukul, dengan memeluknya erat.
"Dasar istriku yang satu ini. Pandai sekali mengurangi tabunganku! Hahh ... kesal pun, aku tetap lebih mencemaskan kamu dari pada isi tabunganku, dasar!" pekik Fauzan, mengomel.
Aina yang mendengar itu hanya diam dan menatap orang-orang di sekelilingnya, yang tengah memperhatikan mereka dengan tatapan malu dan menganggap sikap mereka lucu.
"Aku tidak mengambil tabunganmu, Mas. Aku pakai uangku sendiri," celetuk Aina, mengangkat kepalanya sedikit, mengintip Fauzan yang masih memeluknya erat.
Fauzan membulatkan matanya dengan sempurna. "Ka-kamu pakai uang kamu sendiri? Tapi tetap membiarkan aku memberimu pelajaran?" tanyanya, kaget.
Aina mengangguk, melepaskan pelukan Fauzan dan menatap suaminya dengan senyuman mengembang.
"Aku sengaja melakukannya," ucap Aina, tampak tenang dengan senyumannya yang lembut.
Fauzan mengerutkan keningnya dalam. "Jadi? Kamu mau apa untuk membalasku? Kamu tidak mungkin membiarkan aku bertindak tidak adil kepadamu, kan?! Aku sangat mengerti sikapmu, sayang."
Aina tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi putihnya dengan sempurna. "Tidak ada. Aku hanya akan bilang, aku mens mulai hari ini."
Glek ....
Fauzan menelan ludahnya kasar, menatap Aina dengan tatapan tidak percaya.
"Kenapa sekarang? Inikan malam Jumat, argghhh ... bisa-bisa kamu melakukan hal keji ini pada suamimu, Aina!!" protes Fauzan, frustrasi.
"Hehe, maaf. Ini sudah tanggalnya. Bukan kehendakku. Hehe ... maaf, Mas."
Fauzan menempelkan keningnya pada meja, menatap ke bawah dan menggerutu kesal karena tak bisa mendapatkan jatah mingguan dari istrinya. "Sialan, hiks!"