
Sesuai perkataan Izra! Vega, Neal dan Yaka pergi ke perusahaan rintisan yang di bangun secara mandiri oleh teman mereka, Izra.
"Benar katamu, Zra. Ini sangat jauh dari sekolah kita," keluh Vega, saat berjalan turun dari mobil yang membawa mereka ke daerah pinggiran ini.
"Sudah aku bilang, perjalanannya cukup jauh. Kalian saja yang tidak mendengar perkataanku," celetuk Izra, berjalan mendekati sebuah gedung yang tak jauh dari tempat mereka memarkirkan mobil.
"Itu perusahaan kamu?" tanya Neal, berjalan mengikuti langkah Izra bersama dengan dua temannya yang lain.
"Iya, maaf kalau tempatnya agak kumuh karena letaknya di desa. Aku harap kalian bisa memakluminya," ucap Izra, berjalan mendekati pintu dan hendak membukanya.
Tapi seorang wanita berusia 32 tahun sudah membukanya dulu, dan membuat Izra terkejut melihat kehadirannya.
"Loh, Mama kenapa di sini? Bukannya Mama lagi dinas??" tanya Izra, menatap Aina yang menatapnya dengan senyuman masam.
"A-ah, Mama hanya mampir untuk meletakkan beberapa barang," ucap Aina, dengan gugup, takut jika anaknya marah jika tahu apa yang dia lakukan di dalam sana.
"Barang? Barang apa, Ma? Memang barang apa yang bisa di letakkan di sini?" tanya Izra, sambil berjalan masuk ke dalam ruang kantornya yang kecil itu.
Dan di saat bersamaan, Aina segera meninggalkan tempat itu, sebelum dia terkena amukan Izra.
"Tante duluan ya, anak-anak. Selamat bersenang-senang, dan tolong cegah Izra agar tidak mengejar tante!" seru Aina, berjalan cepat meninggalkan tempatnya.
Neal, Vega dan Yaka hanya menganggukkan kepalanya sopan, sambil melambaikan tangannya.
"Hati-hati di jalan, Tante," ucap Vega, melambaikan tangannya dan di balas oleh lambaian Aina, secara singkat.
Tak lama kemudian, Neal dan Yaka langsung melihat Izra yang menuruni tangga dan hendak pergi keluar, mengejar Aina, dengan tatapan panik.
Keduanya segera menghentikan langkah Izra dengan menghalangi jalan lelaki itu, agar tak bisa mengejar mobil Aina yang mulai berjalan pergi dari pekarangan gedung anaknya.
"Mama! Nanti Izra bakal bayar semua! Lihat saja!!" teriak Izra, membuat Aina yang ada di dalam mobil, yang masih mendengar suara teriakan anaknya dengan lirih, hanya tersenyum masam.
"Sepertinya Tuan Kedua benar-benar marah, Nyonya," ucap sopir pribadi Aina, memberitahukannya.
Sementara Izra, sudah duduk di salah satu sofa baru yang di belikan Aina, dengan tatapan masam.
Sofa itu adalah salah satu benda yang di belikan Mamanya, dari sekian banyak benda yang sudah di susun dengan rapi di dalam ruangan kecil itu.
"Jangan terlalu marah pada Tante Aina, Zra. Dia hanya membelikan kita beberapa barang baru," celetuk seorang lelaki berusia 27 tahun dengan janggut berwarna coklat yang memenuhi dagunya.
Izra menatap Bagas dengan lirikan tajam. "Beberapa katamu, Bang? Kamu tidak lihat kalau semua barang yang kalian pakai nyaris belikan baru oleh Mamaku? Ah ... kepalaku!" pekiknya, memegang bagian belakang lehernya yang terasa seperti di tarik.
Vega dan Neal yang melihat itu hanya tersenyum masam, sementara Yaka dan Gion, salah satu pegawai Izra yang memiliki umur 20 tahun, sedang membuat minuman di dapur bersama yang terletak di ujung ruangan itu.
"Kenapa dia bersikap seperti itu? Apakah Izra tidak pernah mendapatkan barang-barang seperti ini dari Tante Aina? Atau dia tidak pernah meminta keperluan perusahaannya kepada kedua orang tuanya?" tanya Yaka, pada Gion yang hanya terus tersenyum mendengar semua umpatan Izra dari tempatnya.
"Itu karena Izra tidak mau menerimanya. Mungkin jika sekedar pakaian atau keperluan sekolahnya, dia akan menerima semua itu dengan mudah. Tapi berbeda dengan keperluan kantor, dia berniat membuka perusahaan ini dengan tenaga dan uangnya sendiri. Jatuh bangunnya perusahaan ini, dia mungkin tak akan pernah meminta bantuan kedua orang tuanya," celetuk Gion, menjelaskan.
Yaka menatap Gion dengan tatapan tak percaya. "Sedikit tidak masuk akal. Lalu bagaimana dia mendapat banyak uang untuk mendirikan perusahaan ini? Dia bilang, kalau dia membangun perusahaan ini saat usianya 12 tahun. Lalu dari mana seorang bocah mendapat uang sebanyak itu?" tanyanya, kembali.
Walaupun terkesan tidak masuk akal, tapi di dalam hati Yaka ada sebuah pikiran gila yang mengatakan, "jika mungkin itu Izra, pasti bisa saja!"
"Hem, bagaimana aku mengatakannya, ya? Ini sedikit rahasia karena dia bahkan sudah memiliki pekerjaan saat usianya 10 tahun!" celetuk Gion, membuat Yaka menganga lebar.
"Pekerjaan apa? Bacah 10 tahun mau melamar di perusahaan apa, hah?" tanya Yaka, setengah menjerit.
"Dia itu Pelukis Hardly! Kamu pasti sudah pernah mendengarnya, kan? Kamu putra tunggal pemilik Galery JK."
Deg ....
"Maksud Kakak, dia itu Pelukis Ha yang terkenal itu?!!" jerit Yaka, kaget.
"Ya, begitulah ...."