Don'T Be The Antagonist

Don'T Be The Antagonist
Rahasia Terlarang part 1



"Aku pergi duluan ya, Kei. Hati-hati di jalan!" ucap Nirmala, melambaikan tangannya Seraya dia pergi ke arah mobil yang terparkir di dekat pintu basemee.


Keisha membalas lambaian tangan itu dengan senyuman ramah dan melihat Nirmala sampai masuk ke dalam mobil.


"Bun, itu ada Ayah. Kita makan bareng?" tanya Izra, menunjuk ke arah Fauzan yang baru saja keluar dari mobil bersama dengan sekretaris kesayangannya, Pak Satya.


Keisha menoleh ke arah Izra dan mengulas senyuman lembut. "Terserah kamu, Zra. Kalau kamu mau makan sama Ayah kamu boleh mengajaknya, kalau tidak, kita boleh pergi berdua saja!"


Izra menganggukkan kepalanya mengerti dan segera berjalan mendekati Fauzan yang tampaknya mengetahui kehadiran mereka berdua.


"Zra, kalian mau ke mana?" tanya Fauzan, sambil menundukkan kepalanya Melihat jarum jam kecil yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. "Sudah jam makan malam ternyata. Kalian mau makan siang bersama?" tanyanya, dengan suara rendah.


Izra menganggukkan kepalanya dan menatap Fauzan dengan tatapan antusias. "Ayah juga mau ikut dengan kami?"


Fauzan menoleh ke arah Keisha yang tampak diam di tempatnya sambil menunggu Izra kembali.


Mengulas senyuman masam, Fauzan menggelengkan kepalanya pelan dan mengusap puncak kepala Izra dengan sayang.


"Kalian makan saja duluan ya? Ayah masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini. Besok, Insya Allah Ayah akan makan sama kalian berdua. Ayah janji!" ucap Fauzan, merasa sedikit bersalah setelah melihat ekspresi wajah Izra yang kecewa.


"Baiklah. Tidak masalah Ayah. Lagi pula Nanti malam kita juga akan mampir ke per-"


"Izra, kamu sudah selesai berbicara dengan Ayah? Ayo kita pergi makan malam sebelum hari semakin larut!" ucap Keisha, seakan dengan sengaja memotong pembicaraan Izra dan Fauzan.


Lantas Kedua lelaki itu sama-sama paham dengan sikap Keisha. Izra yang langsung tutup mulut sementara Fauzan yang sudah mengurutkan keningnya penuh curiga.


"Emm ... kalau begitu Izra dan Bunda mau pergi sekarang ya Ayah?! Selamat bekerja dan sampai jumpa di rumah," ucap Izra, segera pergi meninggalkan Fauzan sebelum lelaki berusia 35 tahun itu bertanya macam-macam.


Izra menggandeng tangan Keisha dan mengajak wanita itu untuk segera pergi, sebelum Fauzan bisa mengejar mereka.


Fauzan masih mengerutkan keningnya dalam dan membuat sekretaris pribadinya maju beberapa langkah untuk melihat keadaan Tuannya.


"Anda ingin saya menjadi tahu ke mana mereka berdua pergi, Tuan?" tanya Satya, membuat Fauzan menoleh ke arahnya.


"Tidak perlu. Keisha itu bukan anak yang suka macam-macam. Jadi biarkan saja mereka berdua. Paling juga mereka berdua pergi bermain saja, bukan melakukan hal yang aneh-aneh,"  jawab Fauzan, mulai sedikit mengenal sikap Keisha.


Pak Satya mengangguk singkat. "Baik, Tuan. Sekarang kita akan lanjut ke Agenda selanjutnya? Sepertinya para pengurus sudah ada di ruang rapat beberapa saat yang lalu."


"Huufff ... ya, kita lanjutkan jadwalnya sampai selesai hari ini!" ucap Fauzan, mulai melangkah pergi meninggalkan basemen.


Sementara itu Izra dan Keisha ....


Kedua orang tersebut duduk di dalam satu mobil yang dikemudikan oleh sopir Keisha, ya itu lelaki yang dipiring secara langsung oleh Aina untuk dipercayakan menjaga Keisha.


"Kita mau pergi ke mana Nona Keisha?" tanya Samudra, seorang lelaki yang baru saja bekerja tiga hari yang lalu sesuai perintah Aina.


Karena tiga orang Bodyguard Keisha terlalu riweh untuk diperkerjakan setiap saat, apalagi Keisha sempat mengeluh karena para bodyguardnya sering membuat keributan saat ada beberapa orang yang memancing emosinya.


Karena itulah Aina memperkerjakan Samudra, salah satu anak terbaik yang ada di bawah bimbingan ya selama 5 tahun terakhir.


Samudra masih berusia 29 tahun. Dia sudah menikah tapi belum memiliki anak. Dia merupakan orang yang tegas, suka berbicara secukupnya dan selalu patuh setiap kali Keisha meminta tolong kepadanya.


Bahkan Keisha lebih senang bersama dengan samudra daripada ketiga Bodyguard yang diperkerjakan Aina dulu.


Walau terkadang dia juga pergi bersama Prabu, sekretaris yang diperkerjakan oleh suaminya, Fauzan, untuk membantu pekerjaannya di kantor.


Keisha memandang ke arah Izra. "Kita mau pergi ke mana, Zra? Kamu bisa memberitahu Pak Samudra tempatnya."


Izra yang dari tadi memainkan ponsel langsung meletakkan ponselnya dan memasukkan alamat tempat yang akan mereka tuju ke dalam GPS mobil.


"Jauh sekali, Tuan Muda. Apa tidak masalah untuk Nyonya Aina? Saya tahu beliau sangat over protektif dengan jam tidur anak-anaknya. Jika kita pergi ke tempat ini, sekarang! Takutnya kita bisa kembali ke rumah lewat pukul 11.00 malam nanti," ucap Pak Samudra, tidak memiliki maksud lain kecuali khawatir.


"Tidak apa, Pak Samudra. Saya sudah bilang kepada Mbak Aina tadi. Dia mengizinkan kita pergi ke sana," ucap Keisha, menyambar bagaikan petir.


Pak samudra yang mendengar wejangan itu, hanya menganggukkan kepalanya mengerti dan kembali fokus memandang ke jalanan.


***


"Ma."


Alva berjalan masuk ke dalam kamar Aina dan melihat sosok ibunya yang sedang duduk di dekat jendela sambil menikmati secangkir teh.


Mendengar seruan anaknya, Aina segera menoleh dan meletakkan cangkir tehnya.


"Kamu belum tidur, Va? Mentang-mentang besok hari Sabtu, sekarang kamu mau begadang?!" celetuk Aina, dengan nada ketus.


Alva mengulas senyuman masam dan mendudukkan dirinya di kursi yang ada di sisi lain tempat Aina duduk.


"Setelah pekerjaan ini selesai aku akan langsung tidur, Ma. Jadi bisa tolong dicek dulu?" tanya Alva, memberikan sebuah amplop coklat yang berisikan beberapa dokumen kepada Aina.


Aina membuka amplop tersebut sambil menghela napasnya kasar beberapa kali dan melihat sebuah tulisan merah seperti darah, dengan kaligrafi yang buruk dengan mata membelalak kaget.


"Alva?" Aina menata Putra pertamanya dengan tatapan bingung tapi Alva malah tersenyum ambigu sambil meletakkan jari telunjuknya di depan bibir.


"Aku tidak tahu ini Project gagal atau bagaimana. Tapi sepertinya banyak orang yang tidak suka dengan ide itu." Alva mengulas senyuman masam. "Jika Mama tidak keberatan, bisakah Mama membantuku untuk mencari siapa saja orang yang tidak menyukainya?"


Aina yang tadinya masih tertegun karena saking terkejutnya, kini tiba-tiba menjadi diam sambil menatap Alva dengan tatapan lurus nan tajam.


Aina bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju laci yang ada di samping ranjang. Meletakkan amplop coklat itu di dalam laci tersebut dan kembali mendekati Alva.


Tapi kini Aina tidak lagi duduk di hadapan Alva, melainkan berdiri di salah satu bingkai jendela sambil memandang keluar.


"Tentu saja. Mama harus mencari tahu siapa orang-orang yang tidak menyukainya. Agar bisa di diskusikan, atau di singkirkan!" ucapnya, penuh penekanan.


Alva hanya terus tersenyum melihat ekspresi wajah Aina yang berubah menjadi ketus dan dingin.


Walau sebenarnya dia sangat takut dengan sosok ibunya yang seperti itu. Tapi selama 10 tahun Aina menjabat sebagai ibunya, tidak sekalipun wanita itu membiarkan Alva terluka ataupun mendapatkan ancaman dari pihak luar.


Dalam artian, Aina benar-benar menjaganya dari luar dan dalam dengan baik!


Lantas saat masalah ini muncul ke permukaan dan Aina tahu permasalahannya. Tentu saja wanita yang memiliki karakter keras di balik wajah ramahnya itu, akan mulai terusik dan marah.


"Kamu tenang saja, Alva. Mama akan segera menyelesaikannya dalam waktu singkat!" tegas Aina, tampak menakutkan.