
Sruk ....
Keisha merebahkan dirinya di atas ranjang, menatap ke atap kamarnya dengan tatapan kosong.
Jawaban Aina membuatnya berpikir keras. Sekaligus membuatnya sadar diri.
"Apa Anda tidak cemburu dan membenci saya? Bukankah saya sudah merebut suami Anda? Tapi kenapa Anda selalu bersikap baik pada saya?" tanya Keisha, menatap Aina dengan tatapan ragu.
Aina tersenyum. "Saya dan kamu adalah perempuan. Saya yakin kamu tahu jawabannya." Aina memberi jeda, sekedar menghela napas panjang. "Tapi dalan level kesabaran, mungkin saya memiliki kelebihan," lanjutnya, tampak percaya diri.
Hahhh ....
Mengingat jawaban itu, Keisha benar-benar di buat terpukul sampai memutar balik otaknya. Mengumpat dalam hati, tentang betapa bodohnya dirinya saat menanyakan hal yang sudah jelas jawabannya.
"Bodoh! Kenapa kamu selalu mempermalukan dirimu sendiri, Keisha!!" amuk Keisha, mendendang gulingnya berulang kali.
"Non? Anda sehat?" tanya Mbak Vina, mengetuk pintu dari luar dengan menguping di pintu.
Mendengar suara teriakan Keisha, jujur saja Mbak Vina lebih takut wanita itu kena gangguan mental dari pada sakit atau semacamnya.
"Apaan sih, Mbak. Saya gak papa! Sana lanjut sapu rumah," pekik Keisha, tampak kesal, dari dalam ruangan itu.
Mbak Vina hanya menggelengkan kepalanya ampun dan berjalan mendekati sapunya, kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Anda tidak mau jalan-jalan? Di luar udaranya sejuk. Jangan di kamar terus. Udara segar baik untuk ibu hamil," ucap Mbak Vina, sambil menyapu lantai di depan kamar Keisha.
Klek ....
Keisha membuka pintu, menatap Mbak Vina dengan tatapan malas. "Mbak punya sepeda enggak? Saya mau pinjam, boleh?" tanyanya, tak niat.
"Memang Non Keisha mau ke mana? Kamau mau jalan-jalan, nanti saya temani setelah menyapu. Tapi kalau mau pakai sepeda jadul saya, ya ... Non Keisha bisa ambil di gudang sebelah," sahut Mbak Vina, melirik ke arahnya dengan menghela napas lelah.
"Jadi boleh pinjam tidak?" tanya Keisha, sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Lantas setelah mengatakan itu, Mbak Vina malah diam dan memandangnya dengan tatapan lekat.
"Kenapa?" tanya Keisha, menatap tatapan tak enak yang di tunjukan Mbak Vina, kepadanya.
"Memangnya Non Keisha bisa pakai sepeda? Orang seperti, Non Keisha??" tanya Mbak Vina, setengah menyindir.
Keisha memutar bola matanya malas, berjalan masuk ke dalam kamar untuk mengambil ponsel dan earphone miliknya.
"Pokoknya saya pinjam. Saya pergi ke sekitar rumah aja, gak sampai keluar. Berkeliling di sekitar sini aja," jelas Keisha, lekas turun dengan langkah hati-hati.
Sesampainya di depan pintu, Keisha malah di kejutkan dengan sosok Aina yang hendak masuk ke dalam rumah.
"Lho? Mau ke mana?" tanya Aina, menatap penampilan Keisha yang tampak santai, tapi seperti hendak pergi.
"M-mau baik sepeda. Kenapa Anda belum pulang?" tanya Keisha, langsung menjadi ciut dan gugup.
"Ini saya mau pulang. Mau pamit sama kamu, sekalian kasih uang lembur buat Mbak Vina. Karena saya minta dia tidur di sini temani kamu," ucap Aina, tampak santai menghadapi kegugupan Keisha.
"O-oh ... ya sudah, saya mau keluar dulu. Mbak Vina ada di dalam. Anda–"
"Kamu bisa enggak panggil saya Mbak atau apa gitu? Jangan Anda sama Nyonya. Pakai 'kamu' pun gak papa. Sebentar lagi kita satu kubu, santai dikit kenapa?" celetuk Aina, tanpa beban.
"Memangnya boleh?" tanya Keisha, menundukkan kepalanya pelan, seakan tidak berani menatap Aina secara langsung.
"Boleh. Kan aku yang minta! Panggil Mbak saja, ya? Biar cepat akrab," jawab Aina.
Aina tersenyum dan menepuk-nepuk pundak Keisha, dan berjalan masuk ke dalam, meninggalkannya di depan pintu.
Keisha menatap punggung Aina yang menjauh dengan tatapan heran.
"Ada ya, orang kayak gitu. Di tanya, jawabnya gak nyaman. Tapi gak di benci juga, aneh! Tapi baik hati. Hahh ... buat aku gak bisa lawan aja," batin Keisha, terlihat sumpek sendiri.