
"Maaf jika lancang. Tapi saya dengar Anda hamil. Apakah itu benar-benar anak Pak Fauzan?" celetuknya, membuat Keisha tercekat.
"Bagaimana ini?!" batin Keisha, tampak resah karenanya.
Raut wajah Keisha yang panik membuat ketiga orang bodyguard yang dikirim oleh Aina, mengerutkan keningnya dalam. Tampak curiga dengan pergerakan Keisha yang menjanggal.
"Apa pertanyaan saya terlalu sulit?" cicit Kevin, menatap Keisha yang semakin resah.
"Ti-tidak. Aku hanya kaget, kenapa bawahan sepertimu bisa mempertanyakan status anakku? Calon Tuan muda keluarga Trisany?" celetuk Keisha, tiba-tiba mengubah ekspresi wajahnya menjadi dingin.
Ketiga lelaki itu tersentak, menundukkan kepalanya dan meminta maaf kepadanya.
"Maafkan kami, Nona. Kami tidak bermaksud buruk. Kami hanya ingin memastikannya, karena banyak gosip miring tentang Anda. Jadi kami ingin memastikannya saja," jelas Catra, segera mengambil tempat di depan Kevin, melindungi adik lelakinya.
Keisha menghela napas panjang, memandang ketiga lelaki yang menundukkan kepala di depannya dengan tatapan lelah.
"Jangan sampai aku mendengar kalian berkata seperti itu lagi. Bahkan Mbak Aina tidak pernah menanyakan hal itu, padahal dia yang paling berhak!" Keisha menatap mereka dengan tatapan merendahkan. "Jangan bersikap tidak sopan jika tidak ingin akh adukan pada Nyonya kalian!" cetusnya.
"Baik, Nyonya. Maafkan kami."
***
Klek ....
Keisha turun dari kamarnya setelah mengganti pakaiannya dengan yang lebih nyaman.
Dia berjalan turun ke lantai dasar dan duduk di meja makan, menunggu makan malam yang di siapkan oleh Mbak Vina untuknya.
"Masak apa, Mbak?" tanya Keisha, membuat wanita berusia 27 tahun itu menoleh singkat.
"Kesukaan Anda. Soto Makassar!" jawab Mbak Vina, singkat dan padat.
Keisha tersenyum lebar dan menatap sekelilingnya dengan tatapan ramah. "Ke mana semua orang? Mbak Vina di rumah sendirian dari tadi?" tanyanya, mulai cerewet.
"Iya. Saya di rumah sendirian dari tadi. Pak Wanto pulang kampung untuk mengurus istrinya yang sedang hamil. Lalu Mas Gintara sedang izin hari ini, dia demam. Tadi siang sudah sempat saya jenguk. Keadaannya tidak begitu baik," jelas Mbak Vina, panjang.
Keisha mengangguk dan menatap tiga lelaki yang mengantarnya tadi, tengah berjaga di sekitar rumahnya dengan posisi yang berbeda.
"Mbak Vin, buatkan makan malam yang agak banyak. Mereka juga harus makan," celetuk Keisha, membuat Mbak Vina menoleh padanya dan memperhatikan apa yang di tunjuk oleh Keisha sekarang.
"Tiga pengawal Anda?" tanya Mbak Vina, kembali menatap ke arah Keisha.
Keisha menganggukkan kepalanya antusias, membuat Mbak Vina menghela napas panjang nan lelah.
"Mereka sering jaga di sini?" tanya Keisha, tampak bingung dan polos.
"Iya. Biasanya duduk di pos satpam bareng Mas Gintara. Tapi berhubung Mas Gintara libur, jadi mereka berjaga di sekitar rumah. Agar lebih aman saja," jawab Mbak Vina, menjelaskan.
Keisha kembali mengangguk dan menatap ponselnya yang tiba-tiba berdering, dan ada nama Fauzan di sana.
Dengan sigap, Keisha langsung mengangkatnya dan mengatakan "halo" dengan senyuman mengembang lebar.
"Kamu di mana?" tanya seorang wanita, yang namanya begitu di ingat oleh Keisha.
"Mbak Aina?" Keisha mengedarkan pandangannya ke sekeliling dengan tatapan kecewa. "Saya di rumah, Mbak. Kenapa?" tanyanya, tak bersemangat.
"Malam ini biarkan Alva menginap di sana. Jarak sekolahnya juga lebih dekat dari sana. Jadi aku harap kamu tidak keberatan."
Keisha menghela napas lelah dan mengangguk. "Iya. Alva boleh tidur di sini. Tapi kenapa? Kenapa tiba-tiba meminta Alva tidur di rumah ini?"
"Alva sendiri yang minta. Yah, mungkin dia khawatir sama kamu. Kalau begitu, aku tutup teleponnya."
"Iya, Mbak."
Klik ....
Keisha menatap Mbak Vina yang berdiri di sebelahnya sambil menyiapkan makan malam dan susu ibu hamilnya dengan tenang, tanpa penasaran sedikit pun.
"Mbak, tolong siapkan kamar untuk Alva. Malam ini dia akan menginap," celetuk Keisha, membuat Mbak Vina menganggukkan kepalanya mengerti.
"Baik, Non. Lalu, ada lagi? Sebentar lagi saya mau pulang. Jadi, jika ada yang di perlukan, Non Keisha bisa mengatakannya sekarang," ucap Mbak Vina, sekalian memberi tahu.
"Tidak ada. Tapi, gaun di kamarku itu punya siapa? Siapa yang menaruhnya di sana?" tanya Keisha, tampak bingung.
Karena pasalnya, ada gaun satin berwarna merah darah, tergantung rapi di kamarnya. Seakan-akan sengaja di siapkan untuk di kenakan seseorang.
"Besok Anda akan mengenakan gaun itu untuk pergi ke pertemuan keluarga besar Tuan dan Nyonya besar. Jadi Nyonya menyiapkan gaun untuk Anda tadi pagi," jelas Mbak Vina, tahu dengan benar.
"M-mbak Aina yang menyiapkannya? Kenapa aku tidak di beri tahu?" pekik Keisha, seakan tak terima.
"Entah. Kalau begitu saya permisi. Selamat makan malam, Nona."
Keisha menatap kepergian Mbak Vina dengan tatapan kesak bercampur jengkel.
"Bisa-bisanya ada kejadian seperti ini. Ck, aku semakin tidak bisa lepas dari tangan Aina. Sial sekali!" pekik Keisha, benar-benar kesal.