Don'T Be The Antagonist

Don'T Be The Antagonist
Nasehat Musuh Bebuyutan



"Kamu sudah mendengar tentang istri baru Pak CEO?" tanya seorang wanita berambut sebahu, pada temannya yang berkucir kuda.


"Hem ... aku sudah mendengarnya. Lagi pula, orang yang menjadi istri kedua dari Pak CEO kan teman sekolah kami di sekolah perempuan," celetuk Lia, membuat wanita berambut sebahu itu menoleh kepadanya.


Lia sedang duduk di depan meja pantry sambil mengaduk kopi yang baru saja dia buat.


Wanita berkucir kuda itu mengangguk, mengiyakan perkataan Lia.


"Ya, dari dulu dia memang terkenal gatal kalau bersama dengan lelaki yang lebih tampan! Wajar saja kalau dia hamil duluan, dia pasti menggoda Pak Fauzan!" celetuk Diandra, membuat beberapa karyawan yang juga ada di dalam ruangan itu mulai berkumpul di bangku mereka dan mengelilingi ketiga orang tersebut.


"Hamil duluan? Kamu yakin Keisha hamil duluan?" tanya Hakim, salah satu anggota Tim Pemasaran yang cukup dekat dengan Keisha.


Lia menoleh ke arah lelaki itu dengan kening yang sedikit berkerut. Lia kira dia akan membela temannya Keisha, tapi siapa sangka kalau lelaki itu malah sibuk memperhatikan obrolan mereka dengan tatapan senang.


"Kamu pikir aku berbohong? Tidak mungkin aku berbohong dengan ekspresi seyakin ini kalau aku tidak tahu sendiri!" Lia melipat kedua tangannya di depan dada dan melengos dari tatapan Hakim. "Kamu yang tidak datang ke pernikahannya, tentu saja tidak tahu kalau Keisha sedang hamil!" lanjutnya, dengan nada sewot.


Hakim yang mendengar itu hanya menganggukkan kepalanya mengerti dan memandang Anisa, wanita berusia 26 tahun yang tadi dia ajak ke ruang beristirahat untuk membuat kopi di tengah-tengah jam mengantuk mereka.


"Nis, aku cabut duluan ya! Kayaknya kamu masih mau di sini sama anak-anak yang lain. Aku mau lanjut kerja dulu," ucap Hakim, berjalan keluar dari ruang peristirahatan itu.


"Eh, aku juga ikut kamu Hakim! Aku udah enggak punya waktu buat mengobrol santai sama anak-anak. Hari ini aku tetap harus pulang cepat karena ada acara keluarga! Jangan sembarangan memutuskan dong," omel Anisa, menyusul langkah Hakim keluar dari ruangan itu.


Lia dan beberapa orang yang melihat sikap keduanya, yang terasa sedikit menyindir sikap mereka yang suka bergunjing, langsung menunjukkan ekspresi wajah tidak senang.


"Udah, enggak usah diperhatikan mereka berdua! Kita lanjutkan lagi ya Lia. Terus gimana kabar Keisha sekarang? Aku agak penasaran karena anak-anak di Tim Pemasaran 2 pada heboh karena katanya Keisha masuk lagi sebagai kepala tim di bagian itu. Memang benaran?" tanya Nirmala, mulai membuka suara.


Manajer Tim Pemasaran 1 itu entah kenapa malah bertanya kepada Lia, padahal ruangannya dengan ruangan Tim Pemasaran 2 bersebelahan. Tapi wanita itu seakan-akan ingin menggali informasi dari orang lain dan tidak mau memastikannya sendiri. Benar-benar karakter pengecut!


Lia mengerutkan keningnya semakin dalam dan melemparkan pandangannya pada Nirmala yang memiliki usia 3 tahun lebih tua darinya.


"Kok kamu bisa enggak tahu sih Mbak? Ruangan Keisha kan ada di sebelah kantor kamu?! Masa kamu enggak pernah lihat dia masuk ke sana sih?" celetuk Lia, merasa sedikit kesal karena Nirmala selalu memiliki sikap kurang update pada semua berita yang mereka bahas.


Nirmala menggelengkan kepalanya pelan dan melipat kedua tangannya di depan dada sambil menyenderkan punggungnya di dinding.


"Kamu kira aku orang yang pandai berbicara di belakang orang lain? Walau aku mendengarkan kalian bergunjing di belakang Keisha, Aku tidak pernah ikut campur untuk membencinya. Aku hanya ingin tahu karena beberapa hari ini aku hanya terus melihat putra kedua dari Pak Fauzan! Tidak ada Keisha di sana," celetuk Nirmala, tidak memiliki maksud untuk menyakiti hati orang-orang di sana.


Tapi sayangnya, orang-orang yang mendengar kalimat awal yang dikatakan oleh Nirmala langsung meneguk ludah mereka masam dan menghela napas kasar bersamaan, sebagai respons kurang senang dengan sikap terlalu jujur itu.


Tapi apalah daya, mereka tidak akan bisa memprotes perlakuan Nirmala karena jabatan mereka terlalu jauh levelnya.


Melihat ekspresi masam para karyawan yang ada di dalam ruang peristirahatan, Nirmala memilih untuk keluar dari ruangan tersebut setelah kopinya siap untuk disantap.


"Aku akan keluar karena kalian terlihat canggung! Selamat menikmati waktu istirahat dengan pembicaraan yang sia-sia," ucap Nirmala, sambil mengulas senyuman mengejek.


Klap!


Pintu tertutup dan para karyawan yang melihat sosok Nirmala terakhir kali langsung mengumpat di dalam hati dan menunjukkan reaksi kesel dengan jelas seperti Lia saat ini.


"Dasar orang menyebalkan! Pantas saja dia menjadi janda di usia muda. Siapa juga yang mau hidup berlama-lama dengan orang seperti itu?! Dasar wanita ular," pekik Lia, benar-benar kesal.


Sementara itu Nirmala yang kembali ke ruang Tim Pemasaran 1 dan tidak sengaja bertemu dengan Keisha di depan pintu masuk utama dari ruang pemasaran, langsung terdiam di jarak tiga langkah lebih belakang dari wanita itu.


Nirmala terus memperhatikan Apa yang dilakukan Keisha di depan pintu dengan tenang.


Sampai akhirnya Nirmala melihat Keisha yang kesusahan karena beberapa dokumen yang berusaha dia bawa terjatuh ke atas lantai dan dia tidak bisa memungutnya karena perut Keisha yang sudah membesar.


Menghela napas panjang, Nirmala berjalan mendekati Keisha dan menyodorkan kopinya pada Keisha yang terlihat kesulitan berjongkok.


"Bawakan saja kopiku! Aku akan mengambilkannya untukmu," ucap Nirmala, membuat Keisha bengong beberapa saat sebelum akhirnya dia menggenggam kopi milik Nirmala.


Keisha diam dan melihat Nirmala yang membantunya memungut beberapa dokumen miliknya yang berceceran di atas lantai dengan tatapan bingung.


"Tumben sekali kamu baik pada orang lain? Terutama padaku yang tidak pernah kamu tegur!" Keisha menatap Nirmala yang memandangnya dengan tatapan lelah sambil memberikan dokumen-dokumen yang berhasil dia kumpulkan.


Nirmala menghela napas kasar. "Hahh ... memang apa salahnya berbuat baik pada seseorang? Aku hanya ingin membantumu karena kamu terlihat kesulitan."


Nirmala melirik ke arah bawah dan menatap tajam kedua kaki Keisha yang menggunakan hak tinggi.


Keisha yang ditatap seperti itu langsung mundur beberapa langkah dan membuat Nirmala kembali menghela napas kasar.


"Kamu kira aku akan melakukan apa?! Nyonya Aina pasti sudah bilang kepadamu untuk tidak menggunakan hak tinggi di usia kandunganmu yang sekarang."


Mendenguskan napas kasar, Nirmala menatap Keisha dengan tatapan lelah. "Haih ... tapi sepertinya kamu lebih mementingkan penampilanmu daripada kesehatan bayimu! Huff ... dasar ibu muda zaman sekarang. Selalu ingin tampil cantik walaupun tidak di depan suaminya! Ada-ada saja," celetuk Nirmala, sambil berlalu dari hadapan Keisha.


Keisha yang mendengar kalimat yang keluar dari mulut Nirmala, hanya bisa bengong dan memperhatikan wanita itu sampai dia benar-benar masuk ke dalam ruangan Manajer Tim Pemasaran 1.


"A-apaan itu tadi? Dia menasihatiku? Sungguh??" gumam Keisha, terlihat cukup bingung dengan kelakuan Nirmala. "Wahh ... pemandangan yang langka!"