
Baru setengah porsi makanan yang berhasil Keisha tegak, bayi yang ada di keranjang sebelah tempat tidurnya sudah menangis begitu keras sampai membuat Keisha merasa jengkel.
Keisha menatap anak berkelamin perempuan itu dengan tatapan malas dan tak menggubrisnya. Dia hanya melanjutkan acara makannya dan tak memedulikan suara tangisan itu.
Sampai saatnya dia melihat siluet Fauzan mendekati kamarnya, Keisha bergegas turun dan mengambil bayinya untuk di timang.
Alhasil bayi itu tak diam, dia malah terus menangis. Bahkan lebih keras dari sebelumnya.
Keisha yang mendengar suara tangisan itu sudah merasa geram dan tak sabaran.
Sudah seharian dia mendengar suara bayi itu menangis. Bahkan di beri susu pun dia masih menangis dan tidak mau minum.
Sampai di mana titik kesabarannya habis, Keisha meletakkan anak itu di samping tempatnya tidur dan membiarkan bayi itu menangis.
Fauzan yang sudah terbiasa melihat pemandangan Keisha yang tak peduli dengan putrinya, hanya bisa menyerahkan tanggung jawab menasihati Keisha kepada wanita yang berhasil dia bawa, walaupun keadaannya masih sangat tidak stabil.
Keisha melotot kaget melihat sosok Aina duduk di kursi roda dengan wajah begitu pucat.
Keisha langsung berlari ke arah Aina, sementara Aina malah berlari menghampiri bayi Keisha yang di tinggal begitu saja di tepi ranjang dan di biarkan menangis oleh Ibunya.
Sungguh kejam kelakuan Keisha pada putrinya. Tapi Aina tak bisa marah padanya karena Fauzan sudah mengatakan bagaimana keadaan Keisha saat ini padanya.
Kata Fauzan, Keisha sedang mengalami kondisi Baby Blues Syndrom. Kondisi di mana sang Ibu tak bisa menerima kehadiran bayinya.
Bisa di sebut sebagai depresi pasca melahirkan dan itu sangat berbahaya jika membiarkan bayi terus berada di dekat Ibu tanpa pengawasan.
Seperti yang di lakukan Keisha saat ini. Dia cenderung tak memperhatikan bayinya dan terus bersikap egois, dengan tak memedulikannya.
Wajar saja kalau Fauzan sampai merepotkan Aina untuk menangani kondisi Keisha. Karena di bandingkan mendengarkan suaminya, entah kenapa Keisha selalu lebih mendengarkan Aina dalam hal apa pun itu!
Melihat Aina yang lebih memilih bayinya dari pada menanyakan keadaannya, Keisha terlihat cemburu dengan perhatian yang di curahkan Aina pada anaknya.
Tapi beberapa saat Keisha hanya diam dan memandang Aina yang terus menimang bayinya dengan sabar sampai anak perempuan itu kembali tertidur lelap di gendongannya.
"Kei," panggil Aina, tanpa menoleh pada awan bicaranya.
Keisha memiringkan sedikit kepalanya, menujukan reaksi polos yang membingungkan. "Ya, Mbak?"
"Kalau kamu tidak mau-" Aina menoleh pada Keisha dengan air mata yang berlinang. "Biar aku yang merawatnya. Aku sangat menyukai anak-anak."
Deg!
Keisha dan Fauzan terdiam kaku melihat pemandangan itu. Sekilas fakta yang sempat mereka lupakan langsung menghantam ingatan keduanya.
Ingatan tentang kematian Nuri yang baru terlewat 2 bulan. Dan kini keduanya malah menyusahkan Aina dengan keadaan seperti ini.
Dengan langkah gemetar, Keisha berjalan mendekati Aina dan merebut bayinya dengan lembut. Bahkan dia tak melihat Aina menahan tangannya setelah dia mengatakan ha mengerikan tadi.
Keisha menatap putrinya dengan tatapan lekat sambil menimangnya pelan, membiarkan bayi kecil itu tetap terlelap di dekapannya.
"Mbak, anak aku itu juga anak kamu. Sama seperti Alva dan Izra. Kamu adalah Mama yang sudah membesarkan mereka tapi kamu juga dengan lapang dada meminta mereka berdua untuk memanggilku Bunda. Begitu juga dengan anakku kelak."
Keisha mengulas senyuman manis dan menatap Aina yang mengusap air matanya dan balas tersenyum lembut kepadanya.
"Anak ini juga akan menjadi anakmu. Jadi tidak perlu meributkan tentang hak asuhnya. Karena kita berdua adalah ibunya," terang Keisha, dengan nada yang sangat lembut sampai-sampai membuat Fauzan geleng-geleng kepala melihat kelakuan Keisha jika di depan Aina.
Secara, Aina adalah istri yang sangat disayangi Fauzan sementara Keisha adalah wanita yang menyusup masuk ke dalam rumah tangga mereka.
Tapi lihatlah hubungan kedua orang wanita tersebut. Bahkan hubungan mereka jauh lebih baik daripada hubungan mereka dengan suaminya, yaitu Fauzan sendiri.
Yah, tapi Fauzan tidak pernah mempermasalahkan itu sebab itu adalah hal baik.
Tidak akan pernah ada pertengkaran kedua istri yang akan membuat suaminya. Jadi bisa dijamin untuk ke depannya hidup Fauzan akan terjamin keamanannya.
Setelah beberapa saat Keisha dan Aina saling bercakap-cakap. Sepertinya Keisha sudah jauh lebih tenang untuk menghadapi bayinya.
Dia bahkan tidak melepaskan gendongan dari anaknya dan terus menimang anak perempuannya dengan penuh kasih sayang.
Fauzan hanya memperhatikan kedua wanita itu saling bercakap-cakap sambil duduk di salah satu sofa single dengan sesekali membalas pesan dari kedua putranya yang terus mengkhawatirkan di mana Mamanya berada.
Kurang lebih 15 menit kemudian, Fauzan sudah bisa melihat ke-2 putranya berada di ambang pintu sambil menatap sang ayah dengan tatapan murka.
"Dokter bahkan tidak mengizinkan Mama untuk turun dari ranjang! Tapi bisa-bisanya ayah malah membawanya ke sini dan memintanya untuk menghabiskan waktu dengan Bunda. Yang benar saja, suami macam apa kamu ini Ayah?!" celetuk Alva, menatap tajam sang Ayah yang terus bungkam.
Tentu saja Fauzan tahu kalau dirinya salah. Tapi keadaan Keisha saat itu membuatnya sangat bingung sampai-sampai dia harus melakukan hal nekat, yaitu membawa pawang Keisha ke hadapannya.
Aina yang melihat kedua putranya tampak marah kepada suaminya, hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan dan meminta keduanya untuk sedikit tenang karena anak Keisha baru saja tertidur.
"Alva, Izra ... kamu tidak lihat kalau Putri sedang tidur?" tanya Aina, dengan suara lembut dan membuat kedua anaknya langsung menoleh ke arahnya dengan tatapan bersalah.
"Maaf, Ma," ucap kedua anak itu, dengan serempak.
Aina mendorong kursi rodanya mundur perlahan-lahan dan meninggalkan Keisha yang duduk di tepi ranjang dengan menimang bayinya.
Keisha yang melihat kepergian itu langsung bangkit dari tempatnya dan mengantarkan Aina untuk keluar dari kamarnya.
"Mbak, Biar Mas Fauzan yang antar Mbak kembali ke kamar," ucap Keisha, dengan nada lirih karena dia juga tidak ingin anaknya bangun setelah susah payah Aina membuatnya tertidur.
Aina menatap ke arah Fauzan yang berdiri di belakang Keisha dan memperhatikannya dengan ekspresi khawatir.
Aina tersenyum lembut dan menggelengkan kepalanya pelan. "Enggak perlu! 2 Bodyguard kecilku ini sudah cukup untuk mengawalku kembali ke kamar."
Aina menatap kedua putranya yang sudah stand by di belakang kursi rodanya dengan menatap sang Ibunda menggunakan tatapan mengawasi.
"Iya, Bun. Ayah biar sama Bunda aja di sini. Kami juga enggak pengen lihat Ayah gara-gara udah bawa mama seenaknya keluar dari kamarnya. Cih ...," omel Alva, mengambil alih kursi roda sang Ibu dan mendorongnya pergi meninggalkan kamar tersebut.
Hijrah mengikuti kakak lelakinya yang membawa sang ibunda setelah berpamitan kepada Ayah dan Bundanya.
"Izra ikut Mama dulu ya, Ayah, Bunda. Dah Putri, nanti Kakak mampir kalau mau pulang," ucap Izra, sambil mengecup lembut kening Putri yang seketika tersenyum.
Keisha cukup terkejut dengan kepekaan perasaan Putri yang masih bayi ketika mendapatkan kasih sayang dari kakaknya.
Dari sana dia menyadari kalau tidak seharusnya dia bersikap seperti seorang ibu yang jahat kepada putrinya yang belum bisa melakukan apa-apa tanpa dirinya.
"Hahh ... dasar. Ya sudah kamu kembali sana ke mama kamu, Izra. Pastikan dia makan dan tidur dengan baik ya?!"
"Iya, Bunda. Tenang aja hehehe ...."