
"Izra."
Izra yang samar-samar mendengar suara lembut dari pintu masuk kamarnya, langsung menoleh dan memandang Aina yang berdiri di mulut itu, membuatnya beranjak dari posisinya.
"Ya, Ma?" tanya Izra, mengikis jarak di antara keduanya.
"Pukul berapa sekarang? Masih belajar saja?" tanya Aina, terlihat tegas.
Izra mengulang senyuman masam dan menoleh ke arah jam baker yang ada di atas meja belajarnya. "Pukul 11:00, Ma."
"Nah, berarti waktunya?"
"Tidur hehe. Maaf, Ma. Tadi aku sibuk mengerjakan pekerjaan kantor. Tapi pekerjaan rumah ku sudah selesai. Jadi Mama tidak perlu khawatir," ucap Izra, berusaha menjelaskan situasinya sebelum sang ibu marah. Walau sebenarnya, Aina tidak pernah marah padanya.
"Ya sudah, sekarang kamu pergi tidur. Ini sudah malam, Izra. Kakakmu saja sudah tidur. Kok kamu malah begadang. Ada-ada saja," tegur Aina.
"Iya iya, Ma. Sekarang aku akan tidur. Selamat malam!" ucap Izra, sambil menutup pintu kamarnya.
Aina menghela napas panjang dan segera pergi meninggalkan lantai 2. Dia pergi ke kamarnya sendiri dan terkejut mendapati seorang lelaki yang sudah duduk di atas ranjangnya dengan mengulas senyuman tengil.
"Aku bawa bantal sendiri kok!" celetuk Fauzan, menunjukkan barang yang sedang dia peluk.
Aina menghela napas panjang dan masuk ke dalam kamar mandi tanpa menghiraukannya.
Fauzan merasa sedikit kecewa saat melihat respons sang istri. Tapi melihat Aina yang keluar dengan memakai pakaian tidur, senyuman Fauzan langsung terbit dengan sempurna.
"Sekarang belum malam Jumat, sayang. Kamu berusaha menggoda aku?" celetuk Fauzan, tampak senang sendiri.
Padahal Aina tidak memiliki rencana untuk tidur dengannya sama sekali. "Apanya yang menggoda? Siapa juga yang tidak tahu kalau ini belum malam Jumat?!" celetuknya.
Mendapati respons itu, Fauzan langsung terdiam sambil mengerjapkan matanya.
"Lalu? Kenapa kamu memakai jubah tidur kalau tidak ingin menggodaku? Jangan-jangan, saat kamu sedang tidur. Kamu memang memakai pakaian seperti itu?" tanya Fauzan, dengan kedua mata yang sudah membulat dengan sempurna.
Aina tidak memandangnya, tapi dia mengangguk pelan dan membuat sang suami menundukkan kepalanya dalam.
Aina yang tadinya tidur dengan posisi membelakangi Fauzan, kini menoleh ke arahnya dan melihat apa yang di lakukan oleh suaminya.
"Kenapa kamu begitu?" tanya Aina, bangun dari tidurnya dan duduk sambil menghadap ke arah Fauzan.
Kini posisi mereka sudah duduk berhadapan-hadapan. Dan itu membuat Fauzan mendongak dan melihat wajahnya.
"Aku sudah melewatkan rezeki malam setiap hari. Bagaimana aku tidak sedih?" celetuk Fauzan, membuat tangan kiri Aina secara spontan mencubit lengan kanannya.
"Jangan terus bercanda dan kembali ke kamarmu sana! Temani Keisha tidur. Nanti bagaimana kalau ada apa-apa saat malam? Aku tidak perlu di temani. Aku bisa tidur seluruh!" pekik Aina, kembali tidur dengan posisi membelakangi tubuh Fauzan.
Tapi bukannya pergi, Fauzan malah ikutan tidur dan memeluk Aina dari belakang. Membuat lawan mainnya menoleh ke arahnya dengan tatapan tajam.
"Aku suamimu! Jangan pernah memelototiku!" seru Fauzan, dengan nada tegas.
Setelah mendengar kalimat itu, Aina pun diam dan kembali tidur ke posisi semula. Dia tidak lagi mencoba mengusir Fauzan dan membiarkan suaminya tertidur pulas bersama dengannya malam ini.
***
Pagi-pagi buta Aina sudah bangun dan turun ke lantai satu untuk memasak. Seperti biasa, dia tidak pernah meminta pembantunya untuk bangun pagi-pagi untuk membuatkan keluarganya sarap.
Karena saat sarapan Aina lah yang bertugas untuk memasakkan keluarganya.
"Boleh aku bantu?!"
"Kei? Kamu sudah bangun? Tumben sekali. Biasanya jam 07.00 kamu baru bangun. Sekarang masih jam 04.00 pagi, kan?!" tanya Aina, sambil memastikan yang sendiri dengan memandang ke arah jam dinding yang menggantung di dekat pintu.
Keisha menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal dengan canggung. "Aku baru selesai sholat subuh dan tidak bisa tidur lagi. Jadi aku turun saja saat dengar suara dari dapur. Aku kira itu pasti kamu, Mbak."
Keisha berjalan mendekati Aina dan berdiri tepat di samping Aina yang sepertinya baru saja mulai memasak.
"Memang kamu bisa masak?" tanya Aina, tidak bermaksud untuk mengejek. Dia murni bertanya.
Tapi Keisha langsung mengerucutkan bibirnya. "Bisa kok."
Aina tersenyum sambil mengangkat sebelah alisnya. "Oh ya? Masak apa?" tanyanya, lagi.
Kali ini wajah Aina terlihat sangat licik, sampai membuat Keisha menundukkan kepalanya dan merasa sedih karena dia tidak bisa menjawab pertanyaan itu.
"Masak apa, Kei? Kamu tidak mau menjawabku? Tidak perlu malu, dulu saat pertama kali aku menjadi istri, aku juga tidak bisa merusak. Bahkan menggoreng telur segi aku tidak bisa, apalagi memasak makanan kesukaan suamiku." Aina mendekatkan wajahnya ke arah Keisha dan berbisik. "Bahkan aku sampai merusakkan 3 penggorengan dan dua pancing. Ibu mertua aku sampai geleng-geleng kepala melihat itu hahaha ...."
Keisha melirik ke arahnya dengan tatapan tak percaya. Ya, bagaimana Keisha percaya dengan omongan itu? Di saat dia sangat mempercayai kehebatan Aina.
Menghela napas panjang, Keisha melihat beberapa bahan yang sudah siap tersedia di atas pantery.
"Aku akan membantu mengupas sayuran saja. Mbak yang memasak, ya?!"
Aina mengangguk pelan dan membiarkan wanita itu membantunya, sekaligus mengajari Keisha memasak.
Sampai waktu menunjukkan pukul 06.30 pagi, dua anak remaja turun dari kamarnya dengan pakaian seragam yang lengkap dengan tasnya.
"Pagi." Alva menyapa kedua wanita yang sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka.
"Pagi Alva," balas Keisha, memberikan suatu piring nasi goreng kepada Alva dan satu piring berisikan 2 roti bakar dengan selai kacang untuk Izra.
Baru kali ini Keisha mengetahui alasan tentang mengapa menu sarapan dari kedua anak remaja itu sangat berbeda.
Ternyata Izra tidak pernah bisa fokus saat makan nasi. Kata Aina, Izra pernah mengeluh mengantuk sepanjang hari karena sarapan dengan nasi.
Mangkanya, mulai dari saat itu Aina tidak pernah memberikan nasi sebagai menu sarapan anak keduanya itu. Dia selalu memberi sereal dengan susu atau roti bakar dengan selai seperti hari ini.
"Terima kasih, Bunda." Izra berucap saat Keisha meletakkan piring sarapannya di depan dirinya.
"Sama-sama. Kamu yakin kenyang hanya makan dengan itu? Mau di buatkan susu hangat juga?" tanya Keisha, seperti tidak percaya kalau hanya itu sarapan Izra.
"Iya, Bun. Ini saja sudah cukup untuk sarapan. Kalau untuk bekal makan siang atau makan malam, baru aku akan makan nasi. Kalau pagi aku tidak pernah bisa makan nasi! Nanti di kelas malah mengantuk dan dimarahi guru," jelas Izra, mulai melahap sarapannya.
Begitu pula dengan Alva. Dia mulai memakan sarapannya dan kedua anak remaja itu menyelesaikan sarapan di waktu yang sama.
"Udah, kan? Ayo berangkat sekarang. Nanti aku harus bertemu dengan wali kelas lebih dulu buat acara minggu depan," ucap Alva, menjelaskan sambil bangkit dari posisinya.
Izra mengikuti abangnya pergi setelah berpamitan kepada kedua ibu mereka.
Aina dan Keisha saling bertatapan. Seperti ada sesuatu yang sudah mereka lupakan. Tapi apa ya?
"Hah?! Kenapa tidak ada yang membangunkan aku?! Sudah dibilang kalau aku besok ada rapat pagi!!!" seru Fauzan, dari dalam kamar dengan suara yang sangat lantang.
Keisha dan Aina tersenyum masam. "Nah, ternyata kita memang melupakan hal terpenting!" pekik Aina, membuat Keisha tersenyum masam.
"Kamu benar, hehehe ...."