
Keisha menatap beberapa orang yang tengah duduk di meja makan, seakan menunggunya dengan tatapan buas. Selayaknya singa menatap mangsa yang datang dengan suka rela untuk mereka santap bersama-sama.
Kecuali satu orang. Seorang wanita yang dari kemarin tidak mencela dirinya walaupun terlihat sangat marah dan sedih.
Seorang wanita berhijab yang terus menatapnya dengan ketabahan yang besar di hatinya.
Aina tak tersenyum. Tapi juga tidak menunjukkan wajah benci saat melihatnya. Dia hanya diam, menatap Keisha dengan tatapan lurus dan fokus.
Tak lama kemudian dia tersenyum setelah menelisik penampilan Keisha malam ini.
"Terima kasih sudah menerima saran saya tentang pakaian Anda malam ini. Anda terlihat menawan," ucap Aina, tersenyum lembut dan mempersilahkan Keisha duduk di samping Fauzan.
Sementara Aina sendiri, duduk di sisi lain Fauzan, di temani Alva dan Nuri yang berjajar di sisi sebelahnya.
Mendengar pujian dan senyuman dari seseorang untuk pertama kali setelah dia datang dari tadi, Keisha pun terlihat parau. Kerutan samar di keningnya membuat Aina menatapnya dengan senyuman sendu.
"Ya, pasti berat untuknya datang dengan cara seperti ini," batin Aina, mencoba kembali tabah saat melihatnya. "Ya, yang menderita bukan hanya aku. Tapi dia juga menderita," batinnya, lagi.
"Duduklah dengan tenang, Keisha. Tidak akan ada yang menyakitimu selama ada aku di sini," ucap Aina, menghela napas panjang, saat melihat Keisha bertambah tegang saat berhadapan dengan kedua mertuanya.
Aina kembali menghela napas untuk ke sekian kalinya, menatap orang-orang yang tampak tak senang dengan kehadiran Keisha di sini.
"Tolong," Aina berucap, membuat semua perhatian yang tadinya berpusat pada Keisha, kini berpindah padanya. "Makanlah dengan tenang tanpa ada yang mengintimidasinya. Yang mengundang Keisha adalah saya, bukan dia yang datang tanpa tahu diri."
"Bagaimana Ayah bisa makan jika perusak rumah tangga anakku ada di sini, Keisha?! Ayah tidak tahan melihat kamu yang tersakiti, ataupun Fauzan yang tidak nyaman dengan kedatangannya!" ucap Ragi, Ayah Fauzan dan Fadil, mertua Aina.
Aina menoleh pada mertuanya dengan tatapan lembut. "Ayah, saya mengizinkannya masuk ke dalam keluarga saya setelah Mas Fauzan meminta izin untuk meminangnya, kemarin."
Deg ....
"Benar, kamu meminta izin dari Aina untuk poligami, Nak?" tanya Fatimah, dengan nada gemetar.
Fauzan menundukkan kepalanya, tak sanggup melihat tatapan semua orang yang tampak menuntut penjelasan padanya.
"Saya yang memintanya," ucap Aina, kembali membuat perhatian berpusat padanya.
Begitu pula dengan Keisha yang hanya bisa terus tercengang mendengar setiap pembahasan yang di bahas di meja makan ini.
"Saya meminta Mas Fauzan untuk meminta izin pada saya, untuk meminang Keisha." Aina menegarkan diri, menahan air mata dan rasa sakit di tenggorokan setiap kali dia berucap. "Saya yang meminta Mas Fauzan untuk memperistri Keisha secara sah. Saya mengizinkannya," lanjutnya, menunjukkan senyuman ikhlas.
"Aina, bagaimana bisa kamu mengambil pilihan itu tanpa berdiskusi pada kami?" tanya Fatimah, menatap menantunya dengan tatapan menyakitkan.
"Maaf, Ma. Tapi ini jalan terbaik untuk anak mereka," cicit Aina, membuat semuanya semakin terkejut.
"Anak? Anak siapa yang kamu maksud?!" sentak Ragi, sampai berdiri dari tempat duduknya, dan menatap marah Aina.
"Keisha hamil anak Fauzan, Yah," sahut Fadil, singkat, padat dan jelas.
Semua orang terkejut bukan main dan mengarahkan seluruh perhatiannya dengan tatapannya pada Fauzan dan Keisha yang diam dengan nyali menciut.
Ragi mengambil gelas air putih dan mengangkatnya tinggi, hendak melemparkannya pada Fauzan, tapi di hentikan Fadil tepat waktu.
"Ayah! Jangan bertindak kasar. Di sini ada anak-anak!" marah Fadil, menyadarkan lelaki berusia 67 tahun itu dari amarahnya.
"Lepaskan tangan Ayah! Biar Ayah hajar anak kurang ajar itu! Bagaimana bisa dia melakukan perbuatan tercela di saat kedua orang tuanya tidak pernah mengajarkan hal buruk. Lepaskan Ayah, Fadil! Biarkan Ayah menghukum adikmu it–"
Prang ....