Don'T Be The Antagonist

Don'T Be The Antagonist
Insiden Penculikan



"Terima kasih tumpangannya," ucap Keisha, menatap Alva yang tampak lebih santai dari pada sebelumnya.


"Ya. Aku langsung pulang ya, Bun. Besok aku jemput Bunda lagi buat ketemu Mama." Alva menatap Keisha yang tampak sedih, entah kenapa. "Karena Bunda sudah enggak kerja di perusahaan, Mama mau kasih pekerjaan buat Bunda," ucapnya, menjelaskan.


Keisha mengerutkan keningnya dalam. "Pekerjaan? Mama kamu mau kasih aku pekerjaan? Mama kamu??" tanyanya, tampak tak percaya.


"Iya, Mama sudah dengar kalau Bunda di pecat Kakek. Suara Kakek sampai ke dalam kamar Mama, jadi Mama minta aku sampaikan berita ini sekalian antarkan Bunda pulang," jelas Alva, tampak bersahabat.


Keisha semakin merasa bimbang. Padahal dia sudah berusaha berbuat jahat pada keluarga Aina, tapi kenapa balasannya seperti ini?


Bahkan bagi Keisha, ini lebih menyakitkan dari pada pembalasan dengan sikap yang sama jahat.


Pembalasan ini membuat Keisha malu dan rendah diri di saat bersamaan. Bagaimana ada manusia sebaik itu?


Padahal Keisha juga sering mendengar cerita miring tentang Aina di kantor. Tapi semua perkataan jahat itu seakan di patahkan dengan kenyataan, jika Aina adalah sosok wanita baik dan terpuji.


"Gosip memang tidak membenarkan segalanya," gumam Keisha, menghela napas panjang nan kasar.


Alva menaikkan sebelah alisnya, menatap Keisha yang tampak bergumam, dengan pandangan tak mengerti.


"Kenapa, Bun?" tanya Alva, membuat lamunan Keisha buyar seketika.


Keisha menggelengkan kepalanya cepat dan menatap Alva lama. "Kamu enggak benci sama–"


"Benci! Tapi di betah-betahkan aja. Toh, marah itu gak boleh lebih dari 3 hari nanti dosa. Ini sudah 2 hari. Kalau lusa aku masih marah sama Bunda, berarti aku cari dosa! Aku ogah kayak begitu, Bun!" pekik Alva, mengambil helm dari tangan Keisha dan menyimpannya di bagasi motor.


"Aku pulang. Bunda masuk aja!" ucap Alva, meninggalkan Keisha seorang diri di depan gedung apartemennya.


Keisha hanya melambai, mengulas senyuman masam dan menatap Alva sampai hilang dari taman apartemennya.


Setelah itu Keisha hendak masuk ke dalam gedung apartemennya. Namun ketika dia berbalik, seorang lelaki bertopeng hitam bersama dengan 2 temannya, menghadang jalan Keisha.


"Alva!!" teriak Keisha, untungnya masih dapat di dengar oleh Alva, walaupun sangat samar.


Ckit!


Alva langsung mengerem motornya. Menoleh ke arah belakang, menatap Keisha yang berlari terburu-buru dengan 3 orang lelaki berpakaian serba hitam, mengejarnya.


Jarak Keisha dan dirinya hampir terpaut 500 meter. Jarak yang cukup jauh untuk teriakan seorang wanita, agar bisa di dengar dengan jelas.


"B-bunda!" gumam Alva, segera memutar balik motornya, sampai dia hampir terjatuh karena sisi miringnya yang tak stabil.


"Alv– hemph!!"


Keisha di seret masuk ke dalam mobil hitam, di bawa pergi dengan sesegera mungkin dari tempat itu.


Alva mengejarnya, dia melaju dengan kecepatan 120km/jam, hanya untuk mengejar mobil itu. Menjaga jarak di antara mereka tetap aman.


"Bunda!!" teriak Alva, berusaha menyamakan motornya dengan mobil itu.


Saat motor Alva mendekati mobilnya, tiba-tiba pintu bagian belakang di buka, dan sebuah kaki menjulur keluar, mendendang motor Alva dengan kuat.


Duk!


Alva kehilangan keseimbangan dengan mudah, dia bergerak ke samping, menuju ke arah jalan dengan arus berlawanan.


Keisha merinding, menatap sebuah mobil melihat dengan cepat ke arah Alva pergi.


"Alva, awas!!"


Brak ....