Don'T Be The Antagonist

Don'T Be The Antagonist
Kesalahan (2)



Keisha menatap Fauzan yang baru saja memuji istrinya dengan menunjukkan raut wajah sedih.


"Jika saya bukanlah kesalahan pertama Anda? Lalu, apa kesalahan pertamanya, Pak?" tanya Keisha, dengan suara lirih.


Fauzan tersenyum masam, seakan enggan mengatakan jawabannya. "Bolehkah aku tidak menjawabnya?" tanyanya, menunjukkan ekspresi sedih.


"Sangat fatal, kah? Sampai-sampai Anda tidak ingin menceritakan hal itu kepada saya. Apakah itu aib Anda?" tanya Keisha, hanya menebaknya.


Fauzan mengangguk, membuat Keisha bungkam dan memandangnya dengan tatapan lurus, seperti tidak ada emosi di dalam ekspresi wajahnya itu.


Hanya ekspresi wajah datar yang terus menatap Fauzan karena bingung ingin merespons apa.


"Baik, saya tidak akan bertanya tentang itu. Semua orang memiliki aib mereka sendiri-sendiri. Dan itu adalah hal tidak akan pernah bisa kita katakan, walaupun pada orang yang paling kita percaya sekalipun. Rasanya pasti sangat berat, iya kan, Pak?" tanya Keisha, tanpa menatap lawan bicaranya.


Fauzan tidak menjawab, dia hanya mengangguk dan tersenyum masam.


Setelah itu tidak ada pembicaraan yang terjadi di antara keduanya sampai mereka tiba di sebuah rumah, yang belum pernah didatangi oleh Keisha. Baik saat dia menjadi seorang sekretaris, atau menjadi seorang calon istri kedua Fauzan.


"Rumah siapa ini?" tanya Keisha, menatap sekelilingnya dengan teliti. Seakan menghafalkan setiap sudut tempat tersebut.


"Ini rumah orang tua keluarga Aina. Kedua mertua aku mengundang kita datang untuk makan malam. Aku tidak tahu bagaimana respons mereka, yang jelas itu tidak akan sebaik respons kedua orang tuaku," ucap Fauzan, seakan memberikan peringatan pada Keisha untuk berhati-hati.


Keisha menoleh ke arah Fauzan, menatap calon suaminya yang tampak cemas dan gelisah karena harus bertemu kedua mertuanya dalam situasi seperti ini.


"Apakah kita datang ke sini untuk membicarakan pernikahan kita? Ada ingin menyerahkan undangan pernikahan kita kepada mereka?" tanya Keisha, berhati-hati.


Fauzan mengangguk pelan. "Bagaimana pun juga, mereka juga orang tuaku. Sebisa mungkin tolong bersikaplah yang sopan, sama seperti kamu bersikap di depan kedua orang tuaku kemarin. Walaupun ada perkataan mereka yang menyakitkan, aku berharap kamu tidak buka suara dan menyakiti perasaan mereka," pintanya, benar-benar tulus.


"Akan saya usahakan yang terbaik. Asal mereka tidak menyindir orang tua saya," jelas Keisha, terus terang.


"Kalian sudah datang?" tanya seorang wanita berjalan mendekat ke arah mereka dengan menggunakan kursi roda.


Keisha terdiam, menatap Aina yang duduk di kursi roda dengan wajah pucat pasi, membuatnya tampak syok.


"M-mbak kenapa?" tanya Keisha, tanpa bisa mengendalikan ekspresi wajahnya yang terlihat terkejut.


Aina menata penampilan dirinya dengan senyuman masam. "Ah, aku sedang tidak bisa berjalan lagi. Jadi aku memutuskan untuk menggunakan kursi roda untuk sementara. Apakah penampilanku seburuk itu?" tanyanya, dengan senyuman masam yang masih setia bertengger di wajah cantiknya.


Keisha terdiam beberapa saat, sambil terus menatap penampilan Aina dengan kedua bola mata yang masih membulat dengan sempurna, karena saking terkejutnya.


Fauzan, Aina dan Rafa, kakak lelaki Aina, terus memperhatikan reaksi Keisha yang sepertinya benar-benar terkejut sampai tidak bisa mengondisikan diri.


"S-sungguh? Kamu tidak apa, Mbak?" tanya Keisha, untuk ke sekian kalinya.


Keisha seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Penampilan yang ditunjukkan oleh Aina saat ini, belum pernah dia bayangkan sekalipun. Bahkan terbesit di dalam otaknya pun tidak pernah, apalagi membayangkannya, bukan?


Aina menganggukkan kepalanya mantap. "Ya, aku akan segera bisa berjalan kembali, em ... sekitar 2 minggu lagi. Sambil menjalankan rehab dari dokter, aku pasti pulih kembali seiring berjalannya waktu. Kamu tidak perlu mencemaskannya, karena aku sudah mengalami banyak kondisi yang lebih parah dari ini," ucapnya, masih bisa tersenyum dengan cantik di akhir kalimatnya.


"Em, Kak. Ini adalah calon istri kedua Mas Fauzan. Perkenalkan, namanya adalah Keisha. Dia cantik, kan?" tanya Aina, menatap Rafa yang berdiri di belakang kursi rodanya.


Rafa menatap adik perempuannya sekilas, sebelum akhirnya menghela napas berat dan mengalihkan pandangannya pada adik iparnya.


"Aku tidak pernah membayangkan kamu menyakiti Aina dengan cara yang sangat klise, Fauzan. Aku tidak pernah mengharapkan hal seperti ini terjadi di dalam keluarga adikku," ucap Rafa, menghela napas penat.


"Tapi sepertinya luka awal yang kamu buat setelah resepsi pernikahan kalian, tampaknya masih belum cukup untukmu. Apakah menguji kesabaran adik perempuanku sangat menyenangkan?" tanya Rafa, membuat Fauzan bungkam.


Fauzan tidak bisa menjawabnya. Yang bisa dia lakukan hannyalah meminta maaf kepada keluarga istri pertamanya, dan tidak berhak merasa kesal jika keluarga Aina sangat marah kepadanya.


"Kehadiran Alva di dalam keluarga kalian saja sudah cukup menyakitkan untukku. Apalagi untuk adik perempuanku yang harus melihat wajahnya dan membesarkan anak itu dengan kedua tangannya setiap hari! Apakah kamu pernah berpikir, bagaimana istrimu bertahan dengan hati yang kamu tikam dan tusuk setiap hari?" tanya Rafa, tampak marah.