Don'T Be The Antagonist

Don'T Be The Antagonist
Kunjungan



'Kamu tak perlu aku lagi di sini. Anak-anak juga tak memerlukan Ibu sepertiku lagi karena Keisha sudah menjadi Ibu yang baik untuk mereka. Jadi lepaskanlah aku.'


Perkataan itu menancap dengan sempurna di hati Fauzan. Bahkan seharian ini dia tak bisa fokus bekerja.


Dia tak menyangka Aina menginginkan perceraian mereka. Kenapa? Apa salah Fauzan?


Apa semua ini terjadi karena dia terlalu ribet dengan urusan anaknya dan Keisha sampai tak bisa memperhatikan Aina?


Tapi tetap saja. Keputusan untuk bercerai! Bukankah itu berlebihan? Yang mengizinkan Fauzan menikah dengan Keisha juga lah Aina. Fauzan hanya menuruti semua keinginannya. Tapi kenapa menjadi seperti ini?


Seakan Fauzan yang melakukan kesalahan besar kepadanya.


Fauzan menghela napas besar. Membuat sebagian orang yang duduk bersamanya mengelilingi meja panjang di depan sana menoleh ke arahnya.


Bahkan ketua tim pemasaran yang tengah menerangkan materi mereka, langsung terdiam mendengar suara helaan napas Fauzan yang sangat keras itu.


"Pak Fauzan, tolong fokus dengan rapatnya," tegur Rahagi, Ayah Fauzan yang juga mengikuti rapat tersebut sebagai Presiden Direktur.


Fauzan menoleh ke kanan. Melihat lelaki berusia 67 tahun yang baru saja menegurnya dengan tatapan lemah dan lesu. "Maafkan saya. Tolong di lanjutkan," ucapnya, menundukkan kepalanya sopan pada dewan direksi lainnya.


Rapat selesai setelah 10 menit berlalu sejak Fauzan membuatnya berhenti. Fauzan yang kehilangan selera untuk bekerja, langsung berjalan keluar dari ruang rapat terlebih dahulu. Meninggalkan sang Ayah atau anggota dewan yang masih ada di dalam sana.


"Ada apa dengan adikmu itu, Fadil. Kamu tahu dia kenapa?" tanya Rahagi, menoleh ke kiri, tempat duduk anak sulungnya berada.


Fadil diam sejenak dan menggelengkan kepalanya pelan. "Saya juga tak tahu, Ayah. Mungkin dia sedang ada masalah keluarga dengan kedua istrinya." Fadil mendengus kasar. “Atau mungkin dia mendapatkan surat perceraiannya dari menantu kesayanganmu atas sikap bejatnya!"


Setelah mengatakan kalimat itu, Fadil segera bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan ruangan.


Rahagi yang mendengar itu hanya bisa memandang anak tertuanya dengan tatapan jengkel dan marah. "Bisa-bisanya dia berkata sembarangan seperti itu tentang rumah tangga adiknya. Fadil, itu bisa saja menjadi kenyataan! Jaga bicaramu," teriaknya, lantang.


Tapi tampaknya Fadil tak peduli dan benar-benar meninggalkan ruangan itu setelah berpamitan dengan para dewan eksekutif di sana.


Rahagi memegang tengkuknya dan memijatnya lirih. "Pantas saja dia tak menikah-menikah. Siapa yang mau dengan lelaki berlidah tajam seperti itu. Astaga, dia sangat mirip Ibunya."


Perkataan Rahagi, membuat beberapa dewan eksekutif yang berstatus temannya, tertawa lantang mendengar hardikkan tersebut.


"Dia tak mirip ibunya. Tapi mirip denganmu, Tuan Rahagi ... hahahaha ...."


***


"Ya, Ma?" Fadil berjalan sambil berbicara di teleponnya.


Fatimah sedang berbicara dengan nada lembut di seberang sana. Memintanya untuk menjenguk adik iparnya sebab Fauzan tak bisa memastikan keadaannya. Dia terlalu sibuk dengan Keisha dan putrinya akhir-akhir ini.


"Tenang saja, Ma. Aku sudah di rumah sakit. Siap untuk menjenguknya. Aku akan sampaikan pesan Mama tadi dengan baik," ucap Fadil, menutup telepon.


Fadil menyimpan ponselnya di dalam saku celana dan memandang kamar yang ada di depannya dengan tatapan tegang.


Ya, sejauh ini dia tak pernah biasa tenang saat berhadapan dengan Aina. Sejak wanita itu di pinang adiknya sampai sekarang. Dia masih menyukai adik iparnya dengan lancang. Menyimpan perasaan tak pantas itu untuk dirinya sendiri.


Dia memang berperan dengan sangat baik sebagai Kakak Ipar Aina. Tapi di dalam hati, lelaki itu tak pernah rela membiarkannya di sakiti adik lelakinya. Suami Aina. Yaitu Fauzan.


Tok ... tok ....


"Kakak?" panggil seorang wanita, dari arah belakang punggung Fadil.


Fadil segera menoleh. Wanita yang sedang dia cari itu sedang bersama seorang lelaki yang tak dia kenal secara pribadi, tapi bisa dia lihat siapa identitasnya dari cara berpakaiannya.


"Apakah ini pengacaramu?" tanya Fadil, langsung terfokus pada Pak Husein. Pengacara untuk kasus perceraian Aina.


Aina melirik Pak Husen yang sudah menjabat tangan Fadil dengan ramah dan memperkenalkan dirinya secara singkat. Tanpa menguak kasus perceraian kliennya.


"Selamat siang, Tuan. Nama saya Husen." Pak Husen menunjuk nama tag yang ada di atas saku jasnya dan memberikan kartu namanya. "Senang bertemu dengan Kakak Ipar, Bu Aina."


Fadil balas memperkenalkan diri dengan ramah. Setelah itu Pak Husen pamit pergi. Mengingat mereka yang tak akan bisa membahas permasalahan  mereka karena adanya Fadil di sini.


"Baik, maafkan saya, Pak Husen. Besok saya akan menghubungi Anda," tutur Aina, merasa bersalah karena tak bisa menjamu Husen padahal dia baru saja datang.


"Saya akan menunggu kabar Anda untuk tanda tangan kontrak tanahnya." Husen berhenti berbicara. Memberikan jeda dan tersenyum pada Aina dengan ramahnya.


Aina menangkap dengan tangkas maksud perkataan Husen kepadanya. Dia ingin berbohong untuk menyembunyikan tujuan mereka bertemu hari ini.


Aina segera mengangguk dan menjabat tangan Husen dengan cepat. "Ya, terima kasih sudah memberikan saya waktu."


Husen mengangguk singkat dan pergi. Meninggalkan keduanya dengan perasaan tenang. Dia sangat pandai berakting. Begitu pula dengan Aina. Jadi tak akan ada hal yang perlu mereka khawatirkan untuk sekarang.


"Aku kira dia pengacaramu." Fadil berbicara. Membuat fokus Aina kembali padanya dengan cepat. "Ternyata bukan."


Aina kembali tersenyum sambil membuka pintu kamar rawat inapnya.


"Masuklah, Kak. Dia bukan orang yang sepenting itu. Dia hanya sesekali datang untuk membujukku agar tanda tangan kontrak dengan perusahaan mitranya." Aina memandang Fadil sejenak, sembari menuang air dalam gelas. "Dia memang pengacara. Tapi bukan milikku," jelasnya.


Fadil hanya mengangguk dan duduk di tempat duduk yang tersedia dengan nyaman. Dia membuka keranjang buah yang dia bawa dan mengambil pisau di laci meja, bawah.


"Kamu mau mangga?" Fadil memandang Aina yang sibuk ke sana kemari, entah menyiapkan apa.


"Tentu. Kakak akan mengupasnya?" Aina bertanya sembari meletakkan segelas air putih di dekat Fadil.


"Ini hanya mangga. Aku bisa mengupaskannya untukmu." Fadil menghela napas panjang dan melihat ke arah Aina yang duduk di kursi seberang, tempatnya duduk.


"Hahaha, terima kasih." Aina tersenyum. Dia mengeluarkan ponsel dan mengejek beberapa pesan sebelum Fadil menyelesaikan kegiatannya.


"Kamu sudah melihat anak Keisha?"


Aina mengangkat kepalanya. Mengalihkan pandangan dari ponsel ke wajah Fadil yang memandangnya lurus.


"Belum, Kak. Tapi kadang Keisha mengirimkan fotonya ... kalau Kakak, sudah melihatnya?"


Fadil menggelengkan kepalanya. "Belum." Dia memberikan jeda cukup lama. Membuat situasi mereka menjadi cukup canggung. "Kamu mau melihatnya denganku hari ini? Kalian kan satu rumah sakit."


Aina terdiam beberapa saat. Memandang Fadil dengan tatapan kosong. Sebelum dia kembali mengulas senyumannya.


"Hem ... baiklah. Jika kakak menginginkannya," ucapnya, tampak tak ikhlas.