Don'T Be The Antagonist

Don'T Be The Antagonist
Aku Kembalikan!



"Baiklah, kalau begitu tender baru yang kalian dapat harus selesai sebelum tenggatnya. Mungkin mulai hari Sabtu dan minggu akan mampir ke sini untuk bekerja dengan kalian. Maaf sudah menyusahkan karena aku masih bocil, harus sekolah dan pergi ke tempat kursus," celetuk Izra, menghela napas penat dan menatap teman-temannya dengan tatapan bersalah.


"Jangan khawatir. Kau memang bosnya di sini. Berlakulah lebih santai pada kami, Zra!" celetuk Gion, sambil menyesap kopi panas miliknya.


Izra yang mendengar itu hanya terkekeh geli. "Jangan bergurau seperti itu. Atau aku tak akan mau bekerja walaupun kalian banyak kerjaan!"


"Ya kalau itu, jangan melakukannya! Dasar kau ini," pekik Bang Vian, lelaki berjanggut lebat itu.


"Haha, baiklah kalau begitu. Aku akan kembali sekarang, selamat bekerja. Aku akan kirimkan camilan untuk kalian nanti malam," ucap Izra, berjalan pergi meninggalkan ruangan itu.


Namun di depan pintu dia malah bertemu dengan wanita bule dengan rambut yang di cat silver.


Perawakan wanita itu sangat rupawan, sampai membuat kedua mata Neal, Yaka dan Vega membulat kaget melihat wanita seperti boneka itu.


"Ohhhh ... sayangku! Cup!!"


Lantas saat wanita itu mengecup bibir Izra tanpa izin sambil menunjukkan wajah gemas.


Yaka, Vega dan Neal langsung menganga lebar, memperhatikan mereka dengan tatapan terkejut. "Apa-apaan itu tadi!!!" jerit mereka, dalam hati.


Dan lebih anehnya, Izra seperti sudah biasa di perlakukan seperti itu oleh wanita bule itu. Bahkan ekspresi kesal itu semakin membuat Neal dan Yaka kesal karena Izra tak terlihat bersyukur mendapatkan kecupan dari wanita secantik itu.


"Kakak! Jangan menciumku sembarangan. Aku sudah 16 tahun! Sudah bukan anak kecil yang akan senang mendapatkan kecupan darimu," pekik Izra, mengusap bibirnya berulang kali.


Dak!


Wanita itu menjitak kening Izra karena terlalu kesal dengannya. "Apa-apaan sikap itu? Bahkan semua lelaki di luar sana menginginkan bibirku yang seksi ini! Terus, kenapa kamu malah tidak menerima kecupan manis ini, cih!" pekiknya, setengah memprotes.


Izra memutar bola matanya malas dan berjalan pergi meninggalkan wanita itu, tanpa salam atau pamit terlebih dahulu padanya.


"Cih, dia marah. Padahal Tante Aina sangat baik, tapi kenapa dia malah lebih mirip dengan setan?!" celetuk Vivian, berjalan masuk ke dalam kantornya dengan menenteng tas ransel yang berisikan tumpukan pekerjaannya.


Vivian tak memprotesnya. Dia hanya meminum kopi itu dengan santai dan duduk di tempatnya. "Bagaimana interiornya, kalian suka? Aku dan Tante Aina yang memilihnya," celetuknya, membuat kedua rekan kerjanya terkejut.


"Kau membeli semua barang ini dengan Nyonya? Wahh ... Izra pasti akan lebih merasa di khianati saat mendengar itu dari mulutmu," celetuk Vian, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ampun.


Vivian yang mendengar itu hanya mengulas senyuman masam dan menatap beberapa interior baru yang dia pilih dengan baik, dan di susun dengan baik pula di dalam kantor mereka.


"Aku hanya membeli barang bekas. Walaupun terlihat baru, itu semua hanya barang rongsokan yang di benahi Pamanku. Seperti baru, kan?" tanya Vivian, sambil menaik-turunkan kedua alisnya.


"Ini hanya barang bekas?" tanya Vian, mendapatkan anggukkan kepala dari Vivian. "Kalau begitu kamu harus memberi tahu Izra agar dia tidak mengganti uang Nyonya Aina dengan penuh! Walaupun Nyonya Aina tidak akan menerima uangnya, sih."


"Tak masalah. Aku sudah memberikan rincian harga beli dan perbaikannya pada Tuan Baron, biar ajudan Tante Aina saja yang menjelaskan! Kita sudah terlalu banyak memiliki pekerjaan. Sekarang mari mulai bekerja, aku hanya berharap kita tak akan begadang lebih dari satu minggu," celetuk Vivian, menghela napas panjang sambil menghidupkan komputernya.


"Ya, aku juga berharap begitu," celetuk Vian dan Gion, secara bersamaan.


***


"Ma, aku akan kembalikan semua uangnya. Berapa totalnya?" tanya Izra, berjalan mengikuti Aina sepanjang hari, dengan menanyakan pertanyaan yang sama lebih dari 10 kali dalam 3 jam.


Alva yang melihat kelakuan adiknya itu, hanya menggelengkan kepalanya ampun dan tak memedulikannya.


"Sudahlah, Zra. Itu bukan jumlah yang besar. Kalau kamu tidak percaya, besok Mama akan serahkan rincian harganya padamu. Sekarang sudah malam, Mama masih memiliki banyak pekerjaan. Kamu mengerti? Berhenti bertanya dan mengikuti Mama! Lebih baik masuk ke kamar kamu dan kerjakan PR-mu saja, sana!" celetuk Aina, setengah membentak karena saking kesalnya dengan kelakuan putranya ini.


Izra mendengus kesal, menatap Aina dengan tatapan tak suka. "Besok aku akan kembalikan uangnya! Izra tidak mau menerimanya, walaupun itu hanya 1 juta sekalipun! Perusahaan yang aku rintis, biar aku sendiri yang mengurusnya. Mama jangan ikut campur!" pekiknya, sebelum berjalan meninggalkan Aina.


Aina menepuk keningnya ampun dan menatap Izra yang menutup pintu kamarnya dengan setengah membantingnya. "Hahh ... dasar keras kepala. Mirip sama siapa sih, sikapnya itu!" pekiknya, menghela napas lelah.


"Sama persis dengan sikap Nyonya!" sambar Mbok Yanti, membuat Aina menatapnya dengan mata melotot.


"Hehe ... bercanda, Nyonya."