Don'T Be The Antagonist

Don'T Be The Antagonist
Cemburu



“Saudara Candra Tristan Fauzan bin Rahagi, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Adora Anindita Keisha binti Herman dengan maskawinnya seperangkat alat sholat dibayar tunai."


Fauzan menatap lurus pada Pak Penghulu, dan berkata, "Saya terima nikahnya dan kawinnya Adora Anindita Keisha binti Herman dengan maskawinnya yang tersebut, di bayar tunai."


Prok ... prok ... prok ....


Para hadirin bertepuk tangan dengan meriah, membuat kedua pasangan di atas pelaminan tersenyum senang dengan melakukan tukar cincin.


Keisha mengedarkan pandangannya, menatap para hadirin yang datang dengan teliti.


Sehari sebelum pernikahan, Aina susah memberikan Keisha daftar tamu undangan lengkap dengan foto dan data diri mereka masing-masing.


Keisha yang sangat pandai menghafal, sudah mengetahui identitas dari 1000 tamu undangan yang di undangan di pernikahannya dengan baik.


"Walaupun sedikit kejam, tapi Mbak Aina sangat membantuku kemarin malam," celetuk Keisha, membuat Fauzan terkekeh kecil di sampingnya.


Bagaimana tidak? Dia tahu dengan baik, bagaimana perjuangan Keisha di bawah bimbingan Aina semalaman.


Ketiga orang itu begadang untuk membantu Keisha menghafalkan semua tamu yang hadir di sini, sampai dini hari tadi.


"Haha, itulah Aina. Jangan meremehkannya, walaupun dia terlihat kalem. Tapi Aina tidak ada kalem-kalemnya saat menyangkut kepentingan tentang citra keluarga di depan publik dan pekerjaannya. Jangan terlalu mengeluh jika dia sangat jahat," ucap Fauzan, setengah berbisik di dekat telinga Keisha.


Keisha mengangguk paham, dan menyandarkan kepalanya di bahu Fauzan, sekalian membangun citra jika mereka benar-benar sudah menikah di depan publik.


"Tapi Anda sudah memesankan tiket untuk saya bulan madu dalam waktu yang lama, kan?" bisik Keisha, menatap Fauzan dengan pandangan penuh harap.


"Tenang saja. Aku sudah meletakkannya di meja kamar kamu. Besok kita akan berangkat ke Korea. Sesuai keinginan kamu, Kei!" jelas Fauzan, membuat Keisha bersorak dalam diam.


"Bunda lelah?" tanya Alva, berjalan mendekati kedua orang tuanya dengan membawa sepiring hidangan ringan yang baru dia ambil di meja prasmanan.


Keisha langsung menyambut piring penuh kue itu dengan tatapan senang, dia langsung makan dengan lahap tanpa malu pada tamu undangannya.


"Tentu saja lelah. Kakiku seperti mau lepas, Alva. Kamu tidak punya sepatu yang nyaman? High heels memang cantik, tapi rasanya sangat menyiksa kalau di gunakan di situasi seperti ini," ucap Keisha, mengeluh kan tumitnya yang terasa sakit.


"Dia datang."


"Aina datang ke sini?"


"Kenapa dengan putrinya? Sakit lagi?"


"Wah, memang dasar wanita tidak becus dalam mengurus rumah tangga. Anaknya sakit dan suaminya menikah lagi?"


"Kasihan sekali, hahaha."


Pendengar Keisha yang sangat tajam, langsung mengarah pada beberapa orang yang menyambut kedatangan Aina dan Nuri dengan cemoohan, bukannya sapaan yang ramah, dengan tatapan tajam menusuk.


"Nuri sudah baikkan? Kenapa kamu membawanya ke sini?" tanya Fauzan, menatap Aina dengan tatapan cemas.


Istrinya juga sedang sakit, dia mencemaskan kedua wanita itu lebih dari rasa kesalnya yang bergejolak karena kedua wanita itu memilih keluar dari rumah untuk hadir di pernikahannya.


Nuri menyodorkan sebuah undangan pada Ayahnya, membuat lelaki itu menundukkan kepalanya dan menerima undangan itu dengan senyuman masam.


"Kami datang sebagai tamu, Ayah. Jangan mengusir kami, tidak sopan!" celetuk Nuri, mengundang tawa beberapa orang yang mendengar ucapannya.


Aina menoleh padanya, dan mengelus puncak kepalanya pelan. Sebelum akhirnya dia melihat Keisha yang berjalan ke arah mereka dengan Alva yang membimbing langkahnya.


Keisha terlihat cantik dengan rambut yang di kelabang memutar dan di ikat dengan pita putih di atasnya, senada dengan warna gaunnya.


Aina tersenyum, menatap Keisha dengan tatapan teduh dan senyuman cantik, sampai-sampai membuat beberapa teman Keisha terpaku melihat kecantikannya.


"Kamu cantik Keisha," puji Aina, tanpa adanya permusuhan di setiap gelagatnya.


Keisha terpana, melihat wajah Aina yang begitu teduh dan kalem. "Ah, Mbak Aina juga cantik. Padahal riasan wajahnya sangat tipis, tapi kenapa Mbak bisa secantik itu? Mbak makan sinar UV ya? Bercahaya sekali," celetuknya, kembali membuat orang-orang terkekeh.


Aina menggelengkan kepalanya pelan. "Kamu mau sepertiku?" Aina mendekati Keisha, berbisik di telinganya dengan pelan. "Wudhu dan sholatlah 5 waktu. Nanti kamu akan secantik aku," celetuknya, membuat Keisha tersenyum masam.


"Di usahakan," jawab Keisha, sambil menggaruk kepala bagian belakangnya yang tidak terasa gatal.


Aina mengangguk, dan menatap sekeliling. Mencari tempat duduk yang bisa dia tempati.


Seorang lelaki melambaikan tangannya, lelaki yang pernah di lihat oleh Aina di rumah Vila tempat Keisha tinggal.


"Itu teman kamu, kan?" tanya Aina, menunjuk lelaki bersurai pirang yang melambaikan tangannya pada dirinya.


Keisha menoleh, menatap Mirza dengan tatapan julid. "Iya. Mbak mau duduk di samping buaya darat?" celetuknya, membuat Aina terkekeh geli.


"Iya. Mbak sama Nuri mau ke sana saja. Seperti hanya tempat itu yang kosong." Aina menoleh pada Fauzan yang tampak cemburu berat dengan keputusan itu. "Lagi pula, Mas Fauzan tidak melarangnya. Jadi aku akan pergi ke sana."


Fauzan mendengus, menatap Aina dengan tatapan tajam, seakan memperingatkannya.


"Iya kan, Mas? Aku sama Nuri gak papa duduk di sana, kan?" tanya Aina, menggoda suaminya.


"Ga-k  bo-leh, sayang!!" eja Fauzan, menatap tajam dan penuh penekanan.



Mirza (Mantan Kekasih Keisha)


27 tahun! Direktur Perusahaan M. Sekutu Keisha, sekaligus orang yang paling akrab dengan Keisha saat ini.