Don'T Be The Antagonist

Don'T Be The Antagonist
Awal Mulanya



"Anda sudah memilih, Tuan?" ucap seorang SPG toko sepatu, pada Izra yang sudah berkeliling selama 15 menit hanya untuk melihat 7 buah sepatu kets putih.


"Berikan yang paling nyaman. Harganya tidak masalah, asalkan nyaman untuk di kenakan," ucap Izra, pada pegawai wanita itu.


Pegawai wanita itu memberinya sebuah sepatu kets putih dengan corak abu-abu sebagai garis tepinya. "Bagaimana kalau ini, Tuan. Harganya cukup mahal, tapi sangat nyaman karena bantalannya empuk dan tebal."


Izra menatap sepatu itu cukup lama, sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya mengerti. "Ukurannya, sama seperti ukuran sepatu Anda. Tolong bawakan itu untuk saya."


"Baik, Tuan. Anda bisa menunggu sebentar di kasir, saya akan langsung membawanya ke sana."


Izra mengangguk kembali, berjalan ke kasir dan menunggu pesanannya datang.


Bruk!


Beberapa kotak sepatu jatuh di belakang kaki Izra, membuatnya menoleh dan menatap wanita berusia cukup muda dengan pakaian SPG toko tersebut terperanjat kaget dan resah melihat wajahnya yang tampak marah.


"Ma-maafkan saya, Tuan. Saya benar-benar tidak sengaja. Anda baik-baik saja, kah?" ucap pegawai muda toko tersebut, menatapnya dengan tatapan bersalah.


Izra menatap sang kasir yang memandang gadis muda itu dengan tatapan tajam nan menusuk, seakan memperingatkan dirinya dengan tatapan membunuh.


"Kamu tidak mengambilnya?" tanya Izra, menatap wanita yang tengah menundukkan kepalanya dalam-dalam, di depannya, dengan tatapan dingin.


"A-apa?" tanya wanita itu, menatap Izra dengan tatapan takut, saat dia mengintip di balik poninya yang menutupi mata, dalam posisi itu.


"Barang-barangnya. Kamu tidak membereskan itu?" tanya Izra, menatap kotak sepatu yang menghalangi jalannya untuk keluar toko.


Pegawai toko muda itu terkejut, dia melupakan sesuatu yang penting karena terlalau mengutamakan rasa takutnya pada sang tamu toko.


"A-ah, ma-maafkan saya, Tuan. Saya akan membereskannya," ucap pegawai toko muda itu, segera berjongkok untuk membereskan kekacauan itu.


Lantas sesuatu mengalir dari lutut gadis itu, di balik stoking hitam yang dia kenakan untuk menutup kakinya itu, ada cairan merah kental yang turun ke betisnya.


"Ini pesanan Anda, Tuan," kata SPG yang melayani pembeliannya, dengan membawakan sepatu yang dia inginkan.


"Terima kasih," ucap sang kasir, sebelum melihat Izra berjalan pergi meninggalkan toko dengan membawa barangnya.


Brak!


"Kau gila? Kenapa melakukan kesalahan di depan pelanggan. Kau tidak punya mata untuk melihat ke depan, hah?!" teriak seorang wanita dari toko tersebut, memarahi SPG wanita yang memungut barang-barang yang dia jatuhkan.


"Maafkan saya, Kak. Hari ini saya kurang fokus," ucap wanita muda itu, dengan suara gemetar hebat.


Izra menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang dan menatap wanita itu menangis dalam posisi bersimpuhnya, di depan kaki kedua SPG wanita yang memiliki usia lebih tua darinya.


"Hah, aku kira pemandangan seperti itu hanya bisa aku lihat di luar sana. Tapi apa-apaan negara yang penuh etika ini? Apa para pengurus Mall hanya memilih pegawainya dari wajah dan bukan dari etikanya?" Izra menatap malas ketiga orang wanita di dalam toko. "Percuma cantik kalau kurang akhlak, menjijikkan!" pekiknya, sebelum berlalu pergi meninggalkan toko tersebut.


***


"Kakak sudah datang?" tanya Nuri, menyambut kedatangan Izra di balik gerbang masuk pesta tersebut.


Izra yang baru turun dari mobil dan melihat adik perempuannya menunggu di samping gerbang, dengan membiarkan dirinya terpapar sinar matahari secara langsung, langsung mendekat dengan menghela napas berat beberapa kali.


"Apa yang kamu lakukan di sini, Nuri? Kenapa tidak menunggu di dalam saja? Di sini panas dan penuh debu. Tidak baik untuk kesehatan paru-parumu," ucap Izra, dengan ekspresi dingin, walau dia tidak bermaksud bersikap sedingin itu.


Nuri menunduk dan menatap sapu tangan yang dia genggam dengan erat di tangan kirinya dari tadi.


"Hehe, tidak apa. Aku sengaja keluar dan menjauh dari tempat pesta untuk mencari udara bebas bau parfum." Nuri kembali menatap Izra, mendongakkan kepalanya dan tersenyum tipis. "Aku baik-baik saja, Kak. Masuklah dan berikan benda itu pada Bunda, sebelum kakinya bertambah parah," ucapnya, mendorong Izra pergi ke arah pesta.


"Dengan wajah pucat seperti itu, kenapa kamu suka sekali tersenyum sok kuat?" keluh Izra, menghela napas lelah dan berjalan pergi. "Aku akan segera memberikan ini dan menemanimu di sini. Tunggu aku dan jangan ke mana-mana!" ucapnya, memperingatkan.


Nuri melambaikan tangannya dan tersenyum. Detik itu, senyuman yang dia tahan dengan sengaja di depan Izra, seketika berubah menjadi air mata dengan tubuhnya yang gemetar hebat.


"Ah, kenapa di hari bahagia ini aku malah sakit? Menyusahkan saja. Tenanglah, tenang dan biarkan orang-orang itu bahagia tanpa mengkhawatirkan kamu, Nuri," batin Nuri, memejamkan matanya, mendongakkan wajahnya ke arah langit dan berusaha sekuat tenaga menahan rasa sakit yang menerjang kepala dan dadanya.