Don'T Be The Antagonist

Don'T Be The Antagonist
Teman



"Kamu sudah siap?" tanya Fauzan, menatap Keisha keluar dari kamarnya dengan pakaian yang cukup rapi.


"Sudah. Mbak Aina tidak ikut dengan kita?" tanya Keisha, tak mendapati kehadiran wanita berjilbab itu di sekitar Fauzan.


"Tidak. Dia menyuruhku pergi berdua dengan kamu." Fauzan bangun dari tempat duduknya, berjalan keluar di ikuti Keisha. "Dia ada beberapa pekerjaan, jadi cukup sibuk. Aku tidak bisa mengganggunya."


Keisha hanya mengangguk, menatap Mbak Vina yang baru sampai dengan sepedanya.


"Baru datang, Mbak?" tanya Keisha, dengan tatapan julid.


Mbak Vina hanya mengangguk, dan berjalan masuk setelah mengucapkan selamat pagi pada Fauzan.


Keisha memutar bola matanya malas. Dia memang tak pernah akur dengan Mbak Vina. Mungkin karena mereka memiliki umur yang sama dan memiliki kepribadian yang berbeda, jadi mereka seringĀ  bertengkar.


Fauzan menatap Keisha yang bergumam kesal di belakanganya dengan tatapan memperhatikan.


Tak lama kemudian, Fauzan tertawa kecil dan menyita perhatian Keisha dengan sempurna.


"Kenapa tertawa?" tanya Keisha, menatap Fauzan dengan tatapan aneh dan terkesan tidak senang.


"Kenapa lagi? Karena kamu lucu, hahaha," jawab Fauzan, tampak bahagia ketika tersenyum.


Keisha tercengang, menatap tawa yang baru pertama kali dia lihat dengan tatapan bengong.


"Kenapa menatap saya seperti itu? Kamu terkejut melihat saya tertawa lebar?" tanya Fauzan, perlahan-lahan menghentikan tawanya.


Keisha mengangguk pelan. "Saya yakin Anda akan tertawa seperti itu di depan Mbak Aina saja. Tapi sekarang Anda tertawa lepas di depan saya. Saya sedikit terkejut karenanya."


Fauzan pun terdiam, menatap senyuman tipis yang terbit dari bibir Keisha.


"Apa saya terlalu ketus akhir-akhir ini?" tanya Fauzan, membuat Keisha mengangguk antusias.


"Sangat! Bahkan sampai saya tidak bisa mengenali Anda. Padahal saya sudah menjadi bawahan Anda cukup lama, tapi saya merasa asing kepada Anda saat hubungan kita berubah," panjang Keisha, berkeluh-kesah.


Fauzan mengangguk pelan. "Saya tidak ingin meminta maaf untuk itu. Tindakan saya saat kamu mengatakan hal mengejutkan itu, tak patut saya sesali. Karena saya sangat mencintai Aina lebih dari apa pun."


"Saya membencinya," celetuk Fauzan, menatap Keisha dengan tatapan lekat. "Tapi Aina tidak mengizinkannya, dan dia menegaskan sesuatu untukmu, yang membuat aku tidak berkutik," lanjutnya.


"Apa itu, Pak?" tanya Keisha, langsung penasaran dengan itu.


Tapi Fauzan hanya tersenyum masam dan menggelengkan kepalanya, seakan tak ingin memberi tahu Keisha tentang apa yang di ucapkan Istrinya tentang dirinya.


Keisha tampak kecewa, tapi dia tidak memprotes dan masuk ke dalam mobil saat Fauzan membukakan pintu untuknya.


"Terima kasih," ucap Keisha, setelah duduk dengan aman di dalam mobil, samping kursi pengemudi.


"Jika boleh jujur, saya tidak bisa menawarkan posisi istri padamu, Keisha." Fauzan menatap Keisha yang tediam sambil menatapnya, dengan tatapan lembut. "Karena bagi saya, Aina adalah satu-satunya! Tapi saya akan tetap menikahimu, untuk anak yang ada di dalam kandunganmu."


Keisha menundukkan kepalanya pelan. "Jadi apa maksud Anda? Saya tidak mengerti, Pak ...," cicitnya, sedih.


Fauzan mengulurkan tangannya pada Keisha, meminta jabat tangan pada wanita itu.


"Saya akan menawarkan hubungan pertemanan kepada kamu. Kita akan menikah dan menjadi teman hidup! Karena ada satu hal yang tidak bisa saya penuhi saat kita menikah nanti, jika kamu setuju. Hubungan kita akan baik-baik saja, selama kamu merahasiakan ini pada Aina!" ucap Fauzan, membuat kesepakatan.


Keisha menatap lekat tangan Fauzan yang menggantung di udara. "Apa alasannya?" tanyanya, memberanikan diri.


"Saya tidak bisa memberikan 'hasrat' kepada kamu. Jadi saat kita menikah dan kamu menginginkannya, kamu boleh memiliki kekasih." Fauzan tersenyum masam. "Dan jika mau ingin menikah dengannya, aku akan menceraikan kamu."


Keisha tersenyum masam, menatap Fauzan yang tampak serius dengan ekspresi teduhnya.


"Baiklah, saya akan menyanggupinya," balas Keisha, menjabat tangan Fauzan dengan lembut.


"Teman?!"


Keisha mengangguk. "Ya, kita berteman, Pak."


"Terima kasih banyak, Keisha. Selamat berjuang!"