
Alva terduduk lemas di depan kamar, tempat adik perempuannya menginap malam ini.
Sudah hampir satu jam berlalu, tapi kedua orang tuanya tidak kunjung sampai di rumah sakit.
Padahal dokter sudah meminta, jika kedua orang tua mereka datang, mereka harus segera menemuinya karena ada beberapa hal yang harus dokter sampaikan kepada mereka. Dan salah satunya adalah izin melakukan operasi di bagian jantung tempat kanker Nuri tumbuh.
Alva terus menghela napas panjang, di dalam ruangan Nuri masih ada beberapa perawat yang berjaga, karena kondisi gadis itu yang tidak stabil.
Alva juga lelah menghubungi kedua orang tuanya, ponsel mereka sama-sama mati dan kenapa harus tidak bisa dihubungi, saat situasi sedang sulit seperti ini.
Satu nama terbesit di kepala Alva, di saat rasa cemas mulai melanda, tiba-tiba Alva berpikir untuk menghubungi Keisha, yang statusnya merupakan Ibu angkat mereka berdua.
"Apa aku hubungi Bunda saja? Jika Bunda yang datang dan menandatangani kontrak operasi Nuri, mungkin semuanya akan baik-baik saja," ucap Alva, menatap layar ponselnya yang sudah menunjukkan nomor Keisha.
Tidak berpikir terlalu lama, akhirnya Alva menghubungi wanita itu dan langsung diangkat olehnya.
Ya, Keisha tidak memiliki kesibukan lain di rumah. Otomatis dia kan selalu membawa ponselnya ke mana-mana.
"Halo, Alva? Kenapa tiba-tiba telepon? Ada yang bisa Bunda bantu?" tanya Keisha, tampak santai sambil menonton TV.
"Bun, Alva bisa minta tolong atau tidak?" ucap Alva, dengan suara lemas dan parau.
Keisha yang mendengar bagaimana suara Alva saat ini, langsung terdiam dan mematikan TV-nya.
"Ya, katakan saja. Kamu ingin dibantu apa? Bunda akan mengusahakan yang terbaik," jawab Keisha, menanti jawaban dari remaja yang ada di seberang sana.
Namun bukannya menjawab pertanyaan tersebut, Alva malah menangis dengan suara lirih dan membuat Keisha tertegun dan panik sekaligus.
"Ka-kamu di mana, Alva? Aku akan ke sana, ya? Bunda akan ke sana sekarang, tunjukkan lokasinya biar Bunda jemput kamu di sana," ucap Keisha, tampak panik dan berjalan terburu-buru ke dalam kamarnya untuk mengambil jaket dan kunci mobil.
Mbak Vina yang melihat kelakar Keisha hanya menatapnya dari jauh, dengan tatapan aneh dan kedua alis yang sudah mencuram dalam.
"Anda mau ke mana, Non Keisha?" tanya Mbak Vina, menghentikan langkahnya tepat di depan anak tangga.
"Saya mau jemput Alva. Saya tidak tahu dia di mana, tapi sepertinya dia sedang mengalami masalah." Keisha menata ponselnya, menatap lokasi yang dikirimkan oleh Alva. "Rumah sakit? Kenapa dia ada di rumah sakit? Apa jangan-jangan dia kecelakaan?" celetuknya, membuat Mbak Vina tampak panik.
"Hah? Den Alva kenapa, Non? Masuk rumah sakit? Kecelakaan? Benaran? Kalau gitu biarkan saya ikut. Saya yang akan menyetir mobilnya," ucap Mbak Vina, segera merebut kunci mobil dari Keisha.
Keisha yang mendapati itu hanya menghela napas lelah dan mengikuti ke mana perginya Mbak Vina.
"Rumah sakit mana yang akan kita tuju, Non?" tanya Mbak Vina, menoleh ke arah Keisha yang berusaha mengikuti langkahnya yang terlalu cepat.
"Aku akan pasangkan lokasinya di mobil. Sekarang kita cepat pergi ke sana," ucap Keisha, tampak terburu-buru.
Selama 30 menit mereka dalam perjalanan, akhirnya kedua wanita berusia 27 tahun itu sampai di tempat tujuan.
Keisha segera menghubungi Alva dan membuat anak remaja berusia 17 tahun itu berlari keluar untuk menemuinya.
"Bunda," rengek Alva, dengan kedua matanya yang sembab, berjalan mendekat ke arah Keisha yang juga mendekati dirinya dengan langkah panik.
"Kenapa? Apa yang terjadi selama kamu? Kamu kecelakaan atau kenapa?" tanya Keisha, menatap Alva dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan teliti.
Tapi Keisha tidak menemui kejanggalan, dia hanya melihat Alva yang baru saja menangis, dengan wajahnya yang tampak setengah pucat.
"Bukan, bukan aku yang terluka. Nuri, Bun. Dia harus mendapatkan izin dari orang tua agar dokter bisa melakukan operasinya. Mangkanya Alva hubungi Bunda, karena Alva tidak bisa menghubungi Ayah dan Mama. Alva terpaksa menghubungi Bunda. Maaf," uap Alva, kembali menangis dengan suara yang lirih.
Keisha menghela napas berat dan segera mengajak Alva masuk ke dalam, meminta anak remaja itu menunjukkan ruangan dokter Nuri.
"Kamu tunggu di sini sebentar. Bunda akan masuk dan menemui dokter, ya? Kamu jangan menangis lagi, Nuri akan segera dioperasi. Oke?" ucap Keisha, berusaha menenangkannya.
Alva yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepalanya dan membiarkan ibu keduanya itu, masuk ke dalam ruangan dokter. Sementara dia menunggu di depan ruangan dengan harap-harap cemas.
Tidak sampai 10 menit kemudian, Mbak Vina datang menemui Alva, bersamaan dengan Keisha keluar dari ruangan dokter itu diikuti dengan sang dokter.
"Saya akan memulai operasinya. Pihak keluarga tolong segera melunasi administrasinya," ucap sang dokter, saat keluar dari ruangannya bersama dengan Keisha.
Keisha menganggukkan kepalanya mengerti dan mempersilahkan dokter untuk membawa anak angkat bungsunya, memasuki ruang operasi.
Alva menghela napas lega, sementara Mbak Vina hanya bisa melihat mereka berdua dengan tatapan bingung.
"Jika bukan Den Alva yang sakit, lalu siapa yang sakit?" tanya Mbak Vina, menatap keduanya dengan tatapan bergantian.
"Nuri, Mbak. Nuri harus mendapatkan operasi untuk kanker jantungnya. Karena kedua orang tua Alva tidak bisa dihubungi, jadi dia menghubungi saya. Mangkanya saya buru-buru datang ke rumah sakit, tadi." Keisha menghela napas panjang, memandang Alva dengan tatapan berat. "Apa tidak ada orang dari keluarga kamu yang bisa dihubungi? Nanti bagaimana jika kedua orang tua kamu marah kepada Bunda, karena itu campur masalah ini?" tanyanya, tampak sungkan.
Alva hanya diam beberapa saat, dengan menunjukkan kepalanya dalam.
"Nanti kalau mereka marah sama Bunda, biar Alva yang tanggung jawab. Alva juga sempat menghubungi Paman Fadil, tapi panggilan Alva terus ditolak. Sementara Hp Ayah dan Mama tidak bisa dihubungi, jadi Alva terpaksa menghubungi Bunda. Bukannya Bunda juga akan segera menjadi orang tua kita? Mangkanya Alva ada pikiran untuk menghubungi Bunda tadi. Maaf kalau Bunda merasa tidak nyaman," cicit Alva, tampak bersalah.
Keisha hanya mampu menghela napasnya panjang dan mendekat ke arah Alva untuk mengusap puncak kepalanya.
"Sudahlah, nanti jika ada yang marah, kita pikirkan nanti saja. Sekarang, sebaiknya kamu beli makanan atau minuman sama Mbak Vina. Lihat, wajah kamu lebih pucat dari Bunda yang kamu buat khawatir selama perjalanan," seru Keisha, tampak lelah.
"Mbak Vin, tolong Alva, ya. Saya mau mengurus administrasi operasi untuk Nuri di resepsionis," ucap Keisha, berpesan sebelum dia berjalan pergi meninggalkan keduanya.
Alva menatap kepergian Keisha dengan tatapan nanar. Ada perasaan yang menjanggal di dalam hatinya.
"Padahal aku dan Nuri baru saja merencanakan hal buruk untuk tidak menerimanya. Tapi aku malah melihat ketulusan ini?" batin Alva, sedikit menyesal karena sudah berniat merencanakan hal buruk untuk mengusir Keisha dari hidup keluarganya.