Don'T Be The Antagonist

Don'T Be The Antagonist
Merasa Terpuruk



Setelah 2 minggu berlalu dan kedua pasangan suami-istri itu pulang ke rumahnya, sambil membawa banyak oleh-oleh untuk orang-orang rumah.


Aina menuruni tangga dengan cepat, menatap kedua orang yang berjalan masuk ke dalam rumah dengan senyuman lembut, menyambut kedatangannya dengan senang.


Begitu pula dengan Aina yang tidak terlihat mempermasalahkan kehadiran Keisha yang ikut pulang dengan suaminya.


"Kalian sudah tiba? Bagaimana perjalanannya? Tapi sangat lelah, aku akan meminta Mbok Yanti untuk memasarkan sesuatu untuk kalian. Sebanyak kalian berdua pergi ke kamar dan beristirahat saja. Akan aku panggil jika makanannya sudah siap," ucap Aina, membantu Keisha yang sedikit kesulitan membawa barang karena perutnya yang mulai membesar, dengan sigap.


"Kamar aku ada di mana, Mbak?" tanya Keisha, dengan nada ramah dan sopan.


"Kamar kamu? Kamar kamu ya jadi satu dengan Mas Fauzan, memangnya mau di kamar yang mana?" tanya Aina, menaikkan sebelah alisnya, menatap Keisha dengan tatapan bingung.


Lain halnya dengan Fauzan dan Keisha, yang malah menatap satu sama lain seakan-akan bingung harus meminta bagaimana tentang kamar mereka yang terpisah.


"Lalu bagaimana dengan Mbak Aina? Mbak mau tidur di mana kalau aku tidur sama Mas Fauzan?" tanya Keisha, dengan nada sungkan.


Aina menuju ke arah kamar yang ada di depan anak tangga, ruangan yang berada di tepat paling tengah, di lantai dua. "Itu kamar pribadiku. Aku akan mulai sekarang. Jadi kamu tidurlah dengan tenang dengan Mas Fauzan di kamarnya," ucapnya, tanpa beban.


Mendengar hal itu, Fauzan segera mendekati istri pertamanya dan berbisik tentang sesuatu.


"Tapi aku sudah lama tidak tidur denganmu, Na. Bagaimana kalau nanti malam aku menemanimu?" tanya Fauzan, berbisik lirih di dekat telinga Aina.


Aina yang mendengar itu langsung melihat ke arah Fauzan dengan tatapan aneh. "Bukannya kamu masih ingin berduaan dengan Keisha? Bagaimanapun juga istrimu masih baru, seharusnya kamu lebih banyak menemaninya, kan?" tanyanya, tampak polos.


Lantas ekspresi wajah suami yang terlihat murung membuat Aina mengulas senyuman masam dan memilih untuk meninggalkan mereka berdua.


"Aku masuk dulu, masih ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan. Aku akan meminta Mbok Yanti masak dulu, istirahatlah. Selamat istirahat, Kei," ucap Aina, ambil berjalan cepat masuk ke dalam dapur dan menemui pembantu rumah mereka.


Setelah itu, Aina baru masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya rapat-rapat. Bahkan dia sampai mengunjungi dari dalam, agar Fauzan tidak bisa masuk ke dalam sana, secara tiba-tiba.


Fauzan menghela napas panjang. Padahal dia sudah sangat sering bukan Aina, tapi wanita itu malah membiarkannya satu kamar dengan Keisha.


"Kalian masih marahan?" tanya Keisha, membuat perhatian Fauzan berpindah padanya.


"Kami bahkan tidak pernah bertengkar, Kei. Lalu bagaimana aku harus berbaikan dengannya, kalau kami saja tidak pernah bertengkar?" tanya Fauzan, memilih untuk duduk di salah satu sofa yang ada di ruang tamu, terlebih dahulu.


Fauzan menyadarkan punggungnya ke bantalan sofa, menatap langit-langit rumahnya yang sudah lama tidak dia lihat, dengan tatapan sekolah.


Keisha duduk di sofa single sambil terus menatap Fauzan yang terlihat kelelahan dan enggan untuk memikirkan masalah berat.


Keisha menganggukkan kepalanya mengerti dan berjalan pergi. "Baiklah, aku pergi dulu ya, Mas. Kamu juga segera istirahatlah, dan tidak perlu membawakan aku makan malam. Aku akan membuat mie instan yang masih aku simpan di koper dengan air panas yang ada di kamar kamu saja. Tidak perlu repot-repot, aku sedang ingin makan mie."


Keisha bangkit dari tempat duduknya dan berjalan pergi ke lantai 2, meninggalkan lelaki itu yang kembali menyandarkan punggungnya di bantalan sofa sambil memejamkan matanya.


Menghela napas panjang, Keisha menatap sejenak pintu kamar Aina. "Apa aku bicara saja sama dia? Tinju kakakku yang mengatakannya, Mbak Aina akan menyetujui kamar terpisahkan," batinnya, sebelum berjalan pergi meninggalkan depan kamar Aina dan masuk ke kamar Fauzan yang ada di ujung kiri, lorong lantai 2.


***


"Hari ini kau akan pergi bekerja?" tanya Mirza, melalui telepon.


Keisha bukan kepalanya sambil terus mengetikkan sesuatu di dalam laptopnya.


Mirza yang sedang melakukan video call bersama dengan Keisha, akhirnya dia beberapa saat sebelum tersenyum miring.


"Kamu yakin akan baik-baik saja dalam keadaan seperti itu? Aku dengar di kantormu banyak orang yang membicarakan kalian. Kamu akan baik-baik saja menjadi bahan gosip hangat mereka? Aku tidak terlalu yakin, karena kamu bukan orang yang sabaran menghadapi orang-orang seperti itu," celetuk Mirza, membuat fokus Keisha berubah padanya.


"Ya, aku memang tidak tahan melihat orang-orang seperti itu. Tapi posisiku sekarang bukan sebagai sekretaris, melainkan CEO baru di perusahaan itu. Ahhh ... kau tidak tahu betapa senangnya aku mendapatkan pekerjaan baru, kan? Aku sudah memimpikan pekerjaan ini sejak lama, akhirnya aku mendapatkannya!!" ucap Keisha, kegirangan.


Mirza memutar bola matanya malas, bangkit dari posisinya dan berjalan pergi ke arah dapur untuk mengambil minum.


"Aku juga dengar jika anak keduamu, Izra, akan mulai memasuki perusahaan itu minggu depan. Bukannya kamu juga akan masuk ke perusahaan itu lagi minggu depan? Jadi kalian akan sama-sama masuk??"


Keisha kembali menganggukkan kepalanya, sambil terus menyelesaikan pekerjaan ringan yang baru saja dikirimkan oleh Fauzan lewat email.


"Ya, kami bahkan akan menyelesaikan proyek bersama. Aku harap itu semua baik-baik saja, karena Izra masih sangat awam tentang bisnis ekonomi. Aku takut dia malah mengacaukan semuanya dan membuat pergi klien pertama kita," celetuk Keisha, malah membuat Mirza menoleh padanya dan menatap dia dengan tatapan tidak percaya.


"Hahaha, entah kamu tidak tahu atau memang kamu yang terlalu polos, Kei. Tapi aku dengar, anak lelaki itu sudah mendirikan perusahaannya saat usia 12 tahun. Setelah mengetahui itu, kamu masih yakin dia akan membuat klien kalian kabur?"


Keisha terdiam dengan mulut menganga, memperhatikan Mirza yang juga fokus dengan laptopnya karena dia sambil menari.


"Kau serius saat mengatakannya? Dia hanya bocah berusia 12 tahun, bagaimana bisa mendirikan perusahaan? Lalu bagaimana dengan dananya?? Dia pasti mendapatkan dana itu dari kedua orang tuanya, kan?" tanya Keisha, malah membuatnya terlihat semakin bodoh.


Mirza menepuk keningnya ampun. "Hei, anak itu bahkan sudah belajar pelajaran anak SMA sejak usianya 11 tahun. Kau kira dia anak yang sepintar apa? Dia bahkan pernah mendapatkan rangking internasional dalam lomba Olimpiade matematika! Jangan remehkan anak kecil yang seperti itu, Kei! Nanti kamu malah malu sendiri," celetuknya, memperingatkan Keisha.


Keisha mengusap keningnya kasar. "Yang benar saja. Aku dan Aina memang tidak pernah bertengkar, tapi kenapa aku malah merasa bodoh kalau bersanding dengan anak-anak mereka?" batinnya, tiba-tiba merasa terpuruk.