Don'T Be The Antagonist

Don'T Be The Antagonist
Pertengkaran Remaja (2)



"Benar sekali, kenapa kamu mempermasalahkan hal kecil? Mereka bebas membuat keributan di sini. Bahkan suara mereka tidak terlalu keras dibandingkan suara tawa kalian bertiga. Kalian kira aku tidak dirugikan karena mendengar suara kalian itu? Aku yang biasanya tidak memedulikan suara sekeras apa pun saat tidur siang, sampai terbangun hanya karena kalian bertiga tertawa! Kalian habis makan toak ya? Nyaring sekali! Memang kantin ini milik kalian, ha?!" seru murid perempuan, dengan tatapan tajam, sambil berjalan ke arah mereka sambil menguap dan mengucek matanya yang sulit untuk dibuka.


***


Nevan menepuk keningnya ampun, menatap gadis berambut panjang dengan penampilan bad girl itu, berdiri tepat di hadapan Nevan, dengan menatapnya malas.


"Vega? Ngapain kamu di sini? Bukannya tadi kamu di UKS? Kenapa tiba-tiba di sini?" tanya Nevan, menatap kekasihnya yang berjalan dari sudut ruang kantin dengan penampilan yang sedikit acak-acakan, layaknya orang bangun tidur. "Jangan bilang kalau kamu tidur di tangga lagi?"


Vega menguap, mengarahkan mulutnya yang terbuka itu ke arah Nevan, membuat lelaki itu mencium bau surga duniawi!


Nevan memalingkan wajahnya dengan cepat, menutup hidungnya dan menatap Vega dengan kedua alis yang sudah menjadi satu di tengah-tengah keningnya.


"Busuk sekali naas kamu, Ga! Tadi ke pagi kamu enggak gosok gigi lagi? Hahh ... bisa-bisanya anak perempuan tidak menjaga penampilan dan imagenya di depan umum sepertimu. Dasar orang aneh!" celetuk Nevan, merasa kesal setengah mati.


Vega menaikkan setelah alisnya, menatap lelaki itu dengan tatapan aneh. "Hem? Kamu menyebutku orang aneh, tapi kamu tidak ingin berpisah denganku? Mana yang lebih aneh, sayang?!" celetuknya, membuat sang melawan bicara mati kutu.


Nevan tidak bisa menjawab ataupun melawan. Yang dikatakan Vega adalah kenyataannya. Padahal Vega memang bukan tipe idealnya. Tapi kenapa Nevan selalu tidak senang jika mereka tidak memiliki hubungan yang spesial?


"Ya, mungkin karena dia juga aneh," celetuk Izra, membuat Vega menertawakan Nevan yang langsung kesal saat mendengar perkataan itu.


Namun bukan itu yang menjadi fokus Nevan saat ini. Dia malah fokus dengan di mana tangan kanan Vega berada saat ini.


Tangan gadis itu merangkul leher Izra dengan akrab, seakan mereka sudah berteman cukup lama sampai bisa melakukan kontak fisik seperti itu.


"Apa-apaan tangan kamu itu, Ga? Kamu tidak sadar atau memang sengaja membuatku cemburu karena itu?" celetuk Nevan, marah.


Vega dan Izra sama-sama menoleh pada tangan kanan Vega yang berada di bahu Izra saat ini. Lalu mereka saling bertatapan, sebelum saling menertawakan hal yang tidak diketahui yang lain, dengan tawa nyaring.


"Haha, mungkin aku belum pernah menceritakannya padamu. Maaf, tapi anak ini pernah menjadi orang yang paling dekat denganku saat aku liburan di luar negeri. Aku pernah bercerita tentang aku yang hilang karena buta arah, kan? Nah, saat itu ada anak laki-laki yang menolongku. Dan dia orangnya! Kami jadi dekat karena itu, sampai sekarang pun kami tidak pernah putus kontak dan saat aku tahu dia masuk ke sekolah ini. Aku benar-benar senang dan tanpa sadar tidak bisa mengendalikan sikapku!" celetuk Vega, menggambarkan garis besar ceritanya dengan senyuman yang tidak pernah layu dari bibirnya.


Nevan yang mendengar penjelasan itu langsung menghela napas lega, dikira negatif tentang hubungan mereka langsung berupa secara drastis setelah mendengarnya.


Karena Nevan tahu dan percaya jika Vega tidak akan pernah membuat kebohongan yang tidak masuk akal di dalam hubungan mereka. Mungkin itu salah satu alasan Nevan tidak ingin melepaskan gadis jujur sepertinya.


"Begitu, tapi tetap saja, aku tidak suka kamu ada di dekatnya. Jadi lepaskan tanganmu dan cepat pergi ke sini, Vega!" ucap Nevan, penuh penekanan.