
"Saya sudah mengurus semua jadwal Anda untuk nanti malam. Anda bisa menghadiri pertemuan keluarga sesuai janji," ucap Femi, menerangkan pada Aina yang duduk di kursi kebesarannya.
Aina menganggukkan kepalanya pelan dan menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya yang terasa sakit karena terlalu sering duduk.
"Anda lelah?" tanya Femi, menatap Aina yang tampak pucat karena terlalu banyak mengerjakan meninjau laporan dari pagi.
"Tidak. Aku baik-baik saja." Aina meletakkan bolpoinnya dan mengambil cangkir tehnya, menikmati seduhan daun krisan itu dengan baik.
"Jam berapa kamu pergi kuliah, Fem? Kalau buru-buru, kamu boleh pergi lebih dulu. Nanti aku akan panggil Rion dan Rian ke mari," ucap Aina, sambil menyesap tehnya.
Femi menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya beberapa saat. "Oke. Kalau begitu saya pergi sekarang. Karena ada acara juga di kampus, jadi datang lebih awal, mungkin akan lebih baik," ucapnya.
Aina mengangguk dan mengambil ponselnya, menghubungi sekretarisnya yang sesungguhnya.
"Hati-hati di jalan, dan sampaikan pada kedua orang tuamu untuk datang ke pertemuan keluarga. Jangan biarkan mereka bolos lagi," ucap Aina, sedikit mengancam.
Femi hanya membentuk huruf "O" dengan menyatukan jari telunjuk dan ibu jarinya, sambil berjalan pergi meninggalkan ruangan Direktur Utama Perusahaan K.SC itu.
Setelah Femi keluar, Aina langsung mengambil beberapa tisu dan menundukkan kepalanya dalam, membuat 2 orang sekretarisnya menatap itu dengan tatapan lekat.
"Maaf, tunggu sebentar," ucap Aina, melihat kehadiran Rion dan Rian yang berdiri di depan pintu masuk dengan menatap Aina, nanar.
"Saya akan ambilkan air hangat," ucap wanita bernama Rion, berjalan pergi meninggalkan ruangan dengan segera.
Sementara Rian berjalan mendekati meja yang ada di dekat jendela, membuka sebuah laci paling bawah dan mengeluarkan sebuah botol sake, yang berisi obat.
"Tolong ambilkan dua," ucap Aina, dengan suara gemetar, saking hebatnya rasa sakit yang tengah dia tahan, di dalam tubuhnya.
Rian mengangguk dan memberikan dua butir obat tersebut kepada Aina, sebelum menyimpan botol obat unik itu ke tempatnya.
Aina segera meminum obatnya, bersamaan dengan Rion yang membawakan air hangat untuk dirinya.
"Terima kasih," ucap Aina, setelah rasa sakit di dalam tubuhnya sedikit mereda, sesaat setelah dia meminum obatnya.
Rion dan Rian hanya menghela napas panjang, menatap pakaian Aina yang di penuhi noda darah di beberapa bagian.
"Sepertinya Anda harus ganti pakaian sebelum rapat berikutnya, Bu," ucap Rion, memperhatikan penampilan kacau Aina dengan tenang, walaupun sorot matanya tampak cemas.
Aina tersenyum padanya dan mengangguk. "Iya. Tolong siapkan pakaian baru untukku," ucapnya, ramah.
Rion menundukkan kepalanya sejenak, memberi hormat, sebelum akhirnya berjalan pergi meninggalkan ruangan itu untuk menunaikan tugas pemberian Aina.
"Anda bisa mengenakan ini, Bu. Saya akan ambil jas yang baru nanti sore. Anda tidak perlu sungkan," ucap Rian, memberikan jasnya pada Aina, untuk menutupi penampilan kacaunya.
Aina tersenyum masam dan menerima kebaikan itu tanpa protes. "Maaf dan terima kasih, Rian. Sekarang kamu bisa jelaskan materi presentasi kamu," ucapnya, kembali fokus.
Rian diam beberapa saat, menatap wajah Aina yang masih pucat dengan tatapan berat.
Seakan mengerti kecemasan sekretarisnya, Aina pun tersenyum lembut dan mengatakan kondisinya sekarang.
"Aku baik-baik saja. Kamu bisa menjelaskannya padaku, Rian. Kita lebih tidak punya waktu jika kamu terus meragukanku," celetuk Aina, menghela napas lembut.
Rian pun mengambil tabletnya dari dalam tas dan menurunkan layar proyektor di sudut bagian kanan, ruangan itu.
Aina menganggukkan kepalanya mengerti. "Baiklah, aku akan mengatakannya jika tidak kuat menahan pusing. Kamu bisa melanjutkan."
"Baik, Bu Direktur."
***
"Mama minta aku jemput Bunda? Lagi??" pekik Alva, menatap wajah Aina yang tampak pucat.
Aina menganggukkan kepalanya dan tersenyum lembut. Dia yang tengah berbaring di atas ranjang, benar-benar tampak tidak berdaya sampai membuat Alva tak tega membantah permintaannya.
"Memangnya Ayah ke mana? Bukannya Ayah yang harus menjemput Bunda? Kan Bunda akan jadi istri Ayah juga," seru Alva, tampak malas, sambil mendudukkan dirinya di tepi ranjang Aina.
Alva menghela napas panjang beberapa kali, menatap Aina yang lemah dengan tatapan nanar.
"Mama meminta tolong, Alva. Kalau kamu enggak mau, ya Mama bisa minta tolong ke Pak Zean untuk jemput Bunda ke sini," ucap Aina, berusaha bangkit dan mendudukkan dirinya di atas ranjang.
Alva segera membantunya, menatakan bantal dan membiarkan Aina bersandar dengan nyaman.
"Ya maaf, Bun. Alva enggak mau. Bunda suruh saja Pak Zean untuk jemput Bunda," celetuk Alva, menatap Aina dengan tatapan tak enak. "Kalau Mama maksa sih, Alva terpaksa berangkat. Tapi Mama gak maksa, kan?" tanyanya, memastikan.
Aina tersenyum dan mengangguk. "Iya, Mama gak maksa kamu. Ya sudah, sekarang kamu minta Pak Zean buat jemput Bunda sana. Mama mau istirahat sebentar, sebelum nanti siap-siap berangkat juga," jelasnya, dengan nada lemah.
Alva mengangguk dan segera keluar dari kamat Aina. Dia menutup pintu kamar Aina pelan, dan hampir berteriak saat melihat adik perempuannya berdiri di depan pintu, hendak masuk saat Alva mau keluar dari sana.
"Astagfirullah, Nuri! Kenapa kamu berdiri di sana sih," pekik Alva, mengusap-usap dadanya yang berdebar cukup kencang karena saking terkejutnya.
Nuri tersenyum tengil, melihat raut wajah Alva yang tampak marah padanya. "Maaf, Kak. Nuri cuma mau ketemu Mama. Mama ada di dalam, kan? Nuri mau ngomong sesuatu," ucapnya, dengan tatapan bersalah.
Alva menghela napas panjang dan membawa Nuri pergi dari depan kamar Aina.
"Mama baru tidur. Mama lagi sakit, kamu ngomong sama Mama nanti aja, ya? Sekarang, ngomong dulu aja sama Kakak," ucap Alva, menggandengnya turun ke lantai satu.
Gadis berusia 10 tahun itu hanya menghela napas panjang dan mengikuti langkah Alva, pergi meninggalkan lantai dua.
Nuri beranjak duduk di sofa ruang tengah, sementara Alva izin sebentar bertemu dengan Pak Zean di depan, hendak menyampaikan pemintaan Mamanya tadi.
Setelah itu, Alva bergabung dengan Nuri sambil membawa sekotak es kirim besar, untuk di makan berdua.
"Dah, kamu mau bilang apa sama Mama? Coba bilang sama Kakak dulu. Siapa tahu Kakak bisa nurutin mau kamu, gak perlu menyusahkan Mama, kan?" celetuk Alva, menyuapkan satu sendok es krim ke dalam mulutnya.
Nuri menatap Alva dengan tatapan sedih, dan itu membuat Alva merasa tidak nyaman melihatnya.
Suasana menjadi serius, membuat Alva semakin menanti pernyataan yang akan di katakan oleh Nuri.
"Ayo, kamu mau bilang apa, Dik? Kok malah diam aja," celetuk Alva, menghela napas panjang.
Nuri menatap ragu, dan menghela napas berat. "Sebenarnya Nuri gak setuju Ayah nikah sama Bunda. Kakak bisa bantu Nuri batalkan pernikahan mereka tidak? Nuri gak suka punya Mama baru. Nuri cukup punya Mama aja. Nuri gak suka punya Bunda," ucapnya, parau.
Alva yang mendengar itu langsung terdiam, dengan kepala menunduk. "Kakak juga. Kakak gak butuh Bunda. Mama saja sudah cukup buat Kakak," timpalnya, tak kalah sedih.
Nuri menatap Alva dengan tatapan lekat. "Jadi bagaimana? Kita susun rencana untuk membatalkan pernikahan mereka?"