Don'T Be The Antagonist

Don'T Be The Antagonist
Batasan Nyata



Klak ....


Keisha menatap sebuah sinar terang yang menyilaukan dari arah pintu, ada seseorang yang mengarahkan lampu senter padanya, membuat kedua matanya terpejam dengan tubuh gemetar.


Setelah pingsan beberapa saat, kini Keisha menatap beberapa orang memasuki ruangan itu dengan tatapan lega.


Mereka bukan preman, melainkan pihak kepolisian yang mengamankan tempat itu, setelah menerima laporan dari seseorang.


"Anda baik-baik saja?" tanya seorang lelaki, tampak rapi dan tampan dengan kemeja hitamnya.


Keisha menatap lekat, seakan berusaha mengenali siapa pria yang membantunya melepaskan tali belenggu tangan dan kakinya.


"Apa saya mengenal Anda?" tanya Keisha, setelah tak menemukan jawaban di kepalanya.


"Nama saya Azhim, saya sering muncul di televisi karena beberapa hal. Wajar jika Anda mengenali saya, karena saya orang terkenal, hehe," ucap Azhim, berusaha mencairkan suasana.


Keisha menghela napas panjang, menatap Fauzan yang berjalan pincang mendekatinya dengan tatapan khawatir.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Fauzan, menatap Keisha tanpa berniat menyentuh arau memastikannya secara langsung.


Keisha menatap lelaki itu dengan tatapan lekat, ada luka di bagian kening dan bibirnya, persis seperti bekas perkelahian.


"Saya baik-baik saja, Pak. Terima kasih sudah mau datang setelah mendengar ancaman mereka. Dan maaf sudah membuat Anda terluka," ucap Keisha, bersalah.


Keisha bangun dari tempat duduknya, setelah semua tali belenggu berhasil di buka oleh Azhim.


Dia berjalan mendekati Fauzan dan membungkukkan badannya, meminta maaf sekali lagi pada lelaki yang akan segera menikahinya.


"Bagus jika kamu baik-baik saja. Bagaimana dengan bayinya?" tanya Fauzan, memastikan barang terpenting di dalam tubuh Keisha tetap aman.


Fauzan mengangguk, dia menghela napas lega dan memberikan kabar pada sang istri tentang semua kejadian di tempatnya. Sekalian menanyakan kondisi anak sulung mereka di sana.


"Bayi Keisha baik-baik saja. Bagaimana dengan anak sulung kita? Dia terluka parah?" tanya Fauzan, tampak lebih resah saat menanyakan kondisi Alva.


Keisha menggigit bibir bawahnya. Ada perasaan itu dan tertindas saat melihat respons itu. Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa, karena semua rayuan dan gombalan Keisha tak akan mempan untuk Fauzan.


Fauzan menatap Keisha dengan meliriknya pelan. "Ya, aku akan membawanya pulang ke vilaku. Setidaknya itu lebih aman dari pada rumah kita," ucapnya, kembali memalingkan wajahnya dari Keisha yang tampak berharap saat mendengar itu.


"Apakah aku akan berdua saja di vila dengan Fauzan?" batin Keisha, tampak senang dan bersemangat.


"Jika benar, itu akan sangat bagus. Aku akan membuat peluang untuk masuk ke dalam hatinya. Dengan begitu, aku harap dia lebih tulus padaku," batinya, merasa sedih saat mengucap kalimat terakhir.


Seorang Keisha yang selalu menjadi pusat perhatian semua orang sejak dia lahir, sampai usianya beranjak  25 tahun. Kini malah mengemis kasih sayang dari suami orang!


Miris dan mengecewakan. Tapi bisa apa? Keisha sendiri yang melemparkan dirinya ke neraka dingin ini.


Nasi sudah menjadi bubur. Mengeluh pun akan tetap percuma. Karena Keisha yang menginginkannya, jadi dia harus menerima semua rasa pahit dan getir di dalam kehidupan rumah tangganya nanti.


"Keisha, kenapa melamun? Ayo pergi ke vilaku, agar aku bisa segera menjenguk Alva di rumah sakit. Aku takut Aina menangis sendirian di sana," ucap Fauzan, membuat Keisha tersenyum miris.


"Anda tidak akan tinggal di vila bersama dengan saya? Saya juga terluka, Pak," tanya Keisha, menatap Fauzan dengan tatapan berharap.


"Tidak!" jawab Fauzan, tegas. "Saya akan panggilkan dokter untukmu dan pergi menemui istri saya." Fauzan menatapnya dingin. "Saya harap kamu tak berharap banyak dari saya, Keisha. Itu akan menyakitimu," ucapnya, terakhir kali, sebelum mulai melangkah pergi.


Keisha menghela napas sesak dan segera mengikutinya. "Aku mengerti."