Don'T Be The Antagonist

Don'T Be The Antagonist
Alternatif



Tok ... tok ... klek ....


Keisha yang baru saja bangun tidur, menatap seorang sahabatnya dengan tatapan setengah sadar.


"Fani?" Keisha menoleh ke arah jam dinding yang ada di dalam rumahnya, dan menoleh kembali pada wanita berkaca mata persegi panjang itu. "Kenapa kamu datang pagi-pagi ke sini?" tanyanya, menatap Fani dengan baik.


"Saya dengar Anda di undang datang ke rumah inti oleh Nyonya Aina." Fani menatap jam tangannya dengan menghela napas lelah. "Saya akan menunggu sekitar 1 jam lagi untuk membiarkan Anda bersiap."


Fani menatap Keisha dengan tatapan dingin, mengatakan jika dirinya tak senang melihat Keisha saat ini.


"Saya datang untuk menjemput Anda sesuai permintaan dari Pak Fadil, Dirut sekaligus Kakak Tuan Fauzan," jelas Fani, tampak enggan menatap Keisha.


Keisha mendengarkan dengan baik, menghela napasnya panjang dan menatap sahabatnya yang memiliki reaksi sama dengan Lita kemarin.


"Kamu juga enggak senang? Gak ada kata selamat untukku?" tanya Keisha, sedikit berharap jika Fani memiliki reaksi yang berbeda dari Lita.


Namun tampaknya itu hanya angan. Karena Fani hanya menatap Keisha dengan tatapan datar, dan tak mengatakan apa pun jika tidak di perlukan.


"Silakan bersiap, Nona. Saya akan menunggu Anda di depan mobil. Anda bisa turun setelah selesai bersiap," ucap Fani, menunduk singkat, memberi hormat, sebelum meninggalkan rumah Keisha.


Keisha menelan ludahnya. Dia mulai gentar melihat sikap kedua sahabatnya yang tampak asing. Seakan tidak ada seorang pun yang ingin mengenalnya, setelah skandal dirinya dan Fauzan tersebar luas di perusahaan mereka.


Keisha menggelengkan kepalanya kuat, menghilangkan semua pemikiran buruk akan dirinya sendiri dan segera masuk untuk mempersiapkan diri.


45 menit kemudian ....


Fani menatap jarum jam pada arlojinya, tepat ketika dia menatap Keisha menghampiri dirinya dengan gaun tertutup yang terlihat rapi.


"Anda sudah siap?" tanya Fani, menatap Keisha yang berdiri di depan dirinya dengan wajah gugup.


Keisha tak menjawab secara lisan. Dia hanya menganggukkan kepalanya dan membuat Fani membukakan pintu bagian belakang mobil mereka, membiarkan Keisha masuk ke dalam sana.


"P-pak Fadil?" gugup Keisha, melihat direktur utama perusahaannya, tengah menunggunya masuk dengan tatapan dingin dan sikap angkuhnya.


Keisha menoleh pada Fani yang bahkan tidak memandangnya dengan tatapan bersahabat.


"Silakan masuk, Nona Keisha!" pinta Fani, menekan.


Dengan langkah ragu, Keisha masuk ke dalam mobil, duduk di sisi Fadil yang tampak tak senang melihat kehadirannya.


"Se-selamat pagi, Pak Fadil. Maaf mengganggu–"


"Tidak usah basa-basi. Saya bertemu dengan kamu untuk melakukan negosiasi!" sergah Fadil, memotong perkataan Keisha dengan cepat nan ketus.


Keisha terdiam, menatapnya dengan tatapan gugup. Dia tak pernah merasa seciut ini sebelumnya. Bahkan di depan Fauzan, yang selaku bosnya sendiri, dia tak pernah merasa setakut ini.


Lalu ada apa dengan dirinya sekarang? Ke mana perginya tekad si pelakor dan antagonis yang mendorongnya mengambil peran 'perusak rumah tangga orang' untuk naik kelas sosial itu?


Apakah sampai sini saja batasan Keisha untuk meraih impiannya? Kenapa dia begitu takut berhadapan orang yang akan menjadi kakak iparnya nanti?


"Y-ya, Anda bisa mengatakan tentang apa itu?" tanya Keisha, dengan suara mencicit seperti anak tikus.


"Tinggalkan Fauzan dan menikah saja denganku!" ucap Fadil, membuat kedua manik mata Keisha membulat dengan sempurna.


"Ma-maksud Anda?" tanya Keisha, terkejut dan gugup di saat bersamaan.


Fadil menatap sinis. "Jika kamu menikah dengan Fauzan hanya untuk menaikkan pamor kamu di dunia sosial! Bukankah menikah denganku lebih tepat dari pada dengan Fauzan? Aku adalah pewaris perusahaan TA!"


Fadil menatap Keisha dengan tatapan lelah dan jenuh. "Menikahlah denganku, dan jangan ganggu keluarga kecil Fauzan. Kamu membuat adik iparku menangis sepanjang malam, Keisha!"


"Aku akan berikan semua yang kamu mau selama kita bersama." Fadil menghela napas berat. "Pikirkan tawaranku! Aku akan membuat anakmu menjadi pewaris perusahaan TA kalau kamu menginginkannya!"


"A-apa Anda serius, Tuan?"